Teroris Beraksi, Indonesia Berduka

  44 views

BELUM pupus trauma publik serta rasa kehilangan keluarga petugas yang gugur  akibat aksi penyanderaan oleh sejumlah napi dan tahanan di Rutan Mako Brimob di Kelapa Dua, Depok, Selasa lalu (8/5), sejumlah aksi teror kembali menguncang Surabaya.

Aksi bom bunuh diri hampir berbarengan oleh pelaku sekeluarga di tiga gereja terpisah di Surabaya yakni gereja Santa Maria di  Jl. Ngagel Madya,  Gereja Kristen Indonesia di Jl. Diponegoro dan gereja Pantekosta di Jl. Arjuno, Minggu pagi (13/5) merenggut 13 nyawa yakni tujuh jemaah yang mengikuti misa dan enam pelaku sekeluarga serta 41 korban luka-luka yang masih dirawat di RS Bhayangkara dan RS dr Soetomo.

Selain aksi teror maut yang dilakukan sekeluarga beranggotakan enam orang terdiri ayah, bernama Dita Oepriyanto (48), isterinya Puji Kuswati (43) bersama kedua puterinya FS (12) dan PR (9) serta dua puteranya YF (15) dan FH (15), ledakan bom juga terjadi di rumah susun sederhana  sewa (rusunawa) di Jl. Sepanjang, Sidoarjo pada malam harinya yang menyebabkan sejumlah korban terluka, kemudian disusul lagi keesokan harinya, Senin pagi (14/5) dengan aksi bom bunuh diri di Mapolrestabes, Surabaya.

Ironisnya, lagi ketiga-tiganya dilakukan oleh pelaku sekeluarga yakni suami, isteri beserta anak-anaknya. Dalam kasus penyerangan tiga gereja di lokasi terpisah, Dita bersama isterinya dan keempat anaknya tewas mengenaskan, sedangkan dalam kasus bom yang keburu meledak di lantai lima rusunawa Jl. Sepanjang, Sidoarjo, Anton Ferdianto, penghuni dan terduga perakit bom tewas bersama dua anggota keluarganya.

Dalam kasus penyerangan di mapolrestabes Surabaya, Senin pagi (14/5), Tri Murtiono tewas bersama isteri dan dua anaknya saat meledakkan bom bunuh diri di titik pemeriksaan di mapolrestabes. Mereka yang berkendara dua sepeda motor gagal menerobos penjagaan polisi.

Masih beruntung, salah satu diduga pelaku, anak berusa sekitar sepuluh tahun berhasil diselamatkan walau mengalami luka-luka.  Jadi sejauh ini seluruhnya tercatat 28 tewas sepanjang dua hari kelabu Minggu dan Senin, 13 diantaranya terduga pelaku teroris, selebihnya jemaah gereja dan warga lainnya serta 57 korban masih dirawat di RS Bhayangkara dan RS dr Soetomo.

"Aksi teroris kali ini sungguh biadab dan di luar batas kemanusiaan," kata Presiden Jokowi yang bergegas datang ke TKP dan melakukan jumpa pers di RS Bhayangkara pada hari yang sama.

Jokowi dengan nada emosional juga mengingatkan lagi, terorisme merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan yang tidak ada kaitannya dengan agama apa pun. “Semua agama menolak terorisme apa pun alasannya, “ tandasnya.

Presiden juga langsung memerintahkan kapolri untuk mengusut dan membongkar tuntas seluruh jaringan pelaku jaringan terorisme  sampai ke akar-akarnya.

Sejumlah tokoh lintas agama dalam jumpa pers di gedung PB-NU Jakarta pada hari yang sama mengutuk aksi teror dengan alasan dan motif apa pun serta mendesak pemerintah untuk bertindak tegas dan “hadir” mengatasi kejadian-kejadian seperti itu.

Dalam butir pernyataan lainnya, para tokoh lintas agama juga meminta publik tidak terprovokasi atau malah ikut memperkeruh situasi, sebaliknya menggalang solidaritas kemanusiaan dan melaporkan pada aparat keamanan jika menemukan hal-hal mencurigakan di lingkungannya serta membantu tugas aparat dalam menanggulangi aksi-aksi terorisme.

Sementara itu Wakil Ketua DPR dari F-PAN Taufik Kurniawan meminta agar pelaku terorisme dihukum berat serta meminta semua pihak untuk tidak membiarkan ruang gerak sekecil apa pun bagi paham radikalisme di Indonesia.

Sedangkan anggota Komisi I DPR dari F-Partai Demokrat Roy Suryo menilai, aksi teroris seperti terjadi di Mako Brimob dan Surabaya pekan lalu seharusnya bisa dicegah jika aparat intelijen lebih proaktif, apalagi mereka sudah dilengkapi dengan teknologi yang memungkinkan untuk melakukan deteksi secara dini. 

Mantan Ketum PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif yang juga geram dan angkat bicara menanggapi aksi teror di Mako Brimob dan Surabaya, mendesak pemerintah untuk melakukan tindakan tegas, karena peristiwa tersebut sudah terjadi berulang kali, seperti kasus bom Bali, hotel Mariott, penyerangan pos polisi di Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat dan banyak lagi.

"Seharusnya peristiwa semacam itu semakin reda, tetapi nyatanya tidak. Ditangkap satu (pelaku teroris-red), tumbuh seribu, " ujarnya seraya menambahkan, jika aksi-aksi semacam itu tidak dihentikan, akan berimbas tergerusnya kepercayaan publik pada pemerintah.  

 

Kronologis

Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang medampingi Presiden Jokowi di dua TKP dan membesuk korban di RS Bhayangkara menuturkan secara kronologis aksi teror yang dilakukan oleh terduga pelaku, Dita yang merupakan amir (pemimpin) Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya bersama isteri dan keempat anaknya.    

Dita dengan berkendara minibus Avanza Minggu pagi itu menurunkan istri dan kedua anak  perempuannya (FS dan PR) di gereja di GKI jalan Diponegoro, dan kemudian mengarahkan mobil bermuatan bom rakitannya sendiri menuju Gereja Pantekosta. Setelah semua keluarga didrop, Dita kemudian meledakkan bom di mobil tersebut di Gereja Pantekosta pada pukul 07.53 pagi.

Sementara itu, dua anak laki-laki kedua pasangan tersebut (YF dan FH), masing-masing mengendarai sepeda motor menuju gereja Santa Maria untuk melakukan serangan bom bunuh diri saat misa pertama usai sekitar pukul 07.00 pagi.  Bom yang diikatkan di tubuh keduanya dipantik saat mereka  dihalangi oleh anggota satuan keamanan gereja, Bayu Wardhana setibanya di gerbang rumah ibadah itu. Kedua pelaku (YF dan adiknya, FH) dan juga Bayu tewas di lokasi. 

Sementara Puji bersama kedua puterinya (FS dan PR) tewas di tempat di GKI Jl. Diponegoro pukul 07.15 pagi bersama bom yang dililitkan di pinggang mereka .

Berdasarkan penelusuran polisi di rumah kontrak pelaku di kompleks perumahan Wisma Indah, Blok K22 Rt02/Rw03, Kel. Wonorejo, Rungkut, Surabaya, ditemukan beberapa bahan peledak yang kemudian dijinakkan oleh satuan penjinak bahan peledak polisi.

 

"PR" Penanggulangan Teroris

Aksi teroris yang merupakan ancaman bagi kemanusiaan dan peradaban telah terjadi dan yang tersisa adalah perasaan trauma sebagian publik dan kehilangan bagi keluarga yang ditinggalkan serta rasa sakit yang dialami korban yang masih dirawat dan juga setumpuk "PR" bagi pemangku kepentingan, khususnya aparat keamanan untuk menangkal aksi-aksi teroris berikutnya.

Dalam kasus penyanderaan di Mako Brimob, Kelapa Dua, dari sisi profesionalisme terkait penegakan HAM, polisi patut diacungi jempol, tercermin dari jumlah korban yang jatuh yakni lima anggota satuan elit Densus 88 gugur, sementara hanya satu tahanan perusuh yang meregang nyawa.

Kejadian itu mencerminkan, anggota polisi mampu menahan diri dan bertindak secara terukur, padahal jika mau, tentu dengan mudah akan menghabisi para tahanan teroris yang sudah membantai rekan satu korps secara brutal.

Namun di sisi lain, aksi kerusuhan dan penyanderaan oleh sebagian dari 156 tahanan dan napi teroris itu juga terbilang nekat, karena dilakukan di "kandang macan" Mako Brimob, satuan elit polisi.

Pertanyaannya, kenapa begitu mudahnya mereka keluar dari sel, merebut senjata, menyerang dan menyandera polisi?  Bagaimana standar prosedur penjagaan yang dilakukan selama ini, dan siapa komandan yang bertanggungjawab?

Sedangkan dari kasus teror Surabaya, jika memang sudah diketahui Dita sekeluarga adalah salah satu diantara sekitar mantan 500 alumni "combatant" ex-Suriah, bagaimana pengawasan dan pembinaan terhadap mereka, apakah sudah benar-benar dilakukan, dan secara rutin?.

Di dalam diksi deradikalisasi juga dikenal tiga program utama yakni pembinaan, pendampingan dan pemberdayaan bagi para mantan napi atau tahanan teroris. Apakah ketiganya sudah dilakukan dengan benar, terencana, terpola dan berkelanjutan?

Khusus terkait pemberdayaan, bisa saja teroris yang sudah insyaf dan kembali ke jalan benar, tetapi jika mereka tidak diterima di tengah masyarakat dan tidak memiliki nafkah untuk menghidupi keluarganya, bisa saja mereka berbuat nekat karena putus asa, apalagi jika kematian dengan bom bunuh diri, diyakini sebagai jalan pintas menuju surga.

Penanggulangan terorisme tidak cukup hanya dengan sekedar tekad, apalagi pencitraan atau retorika yang dilakukan cuma saat terjadi suatu peristiwa, kemudian dilupakan lagi, sampai  kejadian berikutnya.  

Tentu tanggungjawab penanggulangan terorisme tidak hanya diserahkan pada aparat kepolisian,  mulai dari keluarga, lingkungan (RT, RW dan kelurahan) harus abai, dan lebih penting lagi para politisi, agar tidak memanfaatkan teroris untuk tujuan politik mereka.

Pemahaman tentang toleransi, keberagaman, solidaritas dan semangat persatuan tentu perlu ditanamkan kepada anak-anak termasuk di sekolah pada usia sedini mungkin. 

Harus diingat pula, teroris walau nekat, juga menggunakan strategi dan taktik saat melancarkan aksi-aksinya. Mereka tentu akan "tiarap" saat seluruh aparat keamanan bersiaga dan semua orang ramai-ramai mengutuk dan menghujat mereka, dan kembali beroperasi saat kita lengah atau tertidur lelap.

Melawan teroris, harus selalu siap dan waspada, selamanya!   

 

 

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Teroris Beraksi, Indonesia Berduka