AG 18: Kebangkitan Olahraga Indonesia


DI LUAR perkiraan, di tengah proses persiapan yang tidak terlalu mulus dan hiruk-pikuk panggung politik menjelang pemilu legislatif dan pilpres 2019, prestasi atlit-atlit Indonesia di ajang Asian Games ke-18 yang digelar di Jakarta dan Palembang, 18 Agustus sampai 2 September cukup membanggakan.

Menjelang penutupan helat olahraga terakbar se-Asia, Minggu (2/9), kontingen Indonesia telah mendulang 30 medali emas, 22 perak dan 36 perunggu, walau 14 keping atau hampir separuh medali emas diraih dari pencak silat, olahraga tradisional usulan tuan rumah yang baru dipertandingkan di AG kali ini.

Selain tidak masuk cabang olahraga (cabor) yang dilagakan di ajang olimpiade, pencak silat yang berasal dari Indonesia dan banyak diminati di negara berpenduduk etnis Melayu di Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura dan Thailand, mungkin juga tidak disertakan pada Asian-Asian Games mendatang.

Dengan  waktu tersisa tiga hari, kedudukan Indonesia pada peringkat ke-4 perolehan medali dan kemungkinan akan meraih dua atau tiga keping medali emas lagi dari akuatik nonrenang, bridge atau tinju agaknya tidak akan tergoyahkan lagi.

Semula pada AG ke-18 kontingen RI ditargetkan menempati peringkat ke-10 dengan minimal 16 medali emas. Peringkat tertinggi yang pernah dicapai Indonesia yakni sebagai runner-up setelah Jepang saat menjadi tuan rumah AG ke-4 pada 1962 dengan total 51 medali (11  emas, 12 perak dan 28 perunggu).

Setelah itu, peringkat kontingen Indonesia di event AG terus melorot dan sejak AG Hiroshima 1994, berada di atas 10 besar, bahkan pada AG 2006 di Doha, Qatar anjlok ke posisi ke-22, di Guangzhou, China 2010 peringkat ke-15 sedangkan di AG Incheon,Korsel  2014 bertengger di peringkat ke-17.

Bahkan di level Asia Tenggara, prestasi para atlit Indonesia kurang moncer, hanya menduduki peringkat ke-5 di bawah tuan rumah Malaysia, Thailand, Vietnam dan Singapura pada SEA Games Kuala Lumpur 2017.

Tentu tidak bisa dibandingkan “apple to apple” antara raihan AG 1962 yang hanya diikuti 1.460 atlit dari 15 negara dan mempertandingkan 17 cabor dibandingkan AG 2018 yang diikuti 11.000 atlit didampingi 4.400 ofisial dari 45 negara yang berlaga di 465 nomor pertandingan dalam 40 cabor.

Prestasi para atlit Indonesia dalam AG ke-18 hendaknya dijadikan momentum kebangkitan, tidak kendur setelah helat berakhir, melainkan terus konsisten melakukan pembinaan dan menggelar kompetisi-kompetisi berjenjang, tidak hanya menjelang event-event tertentu, dan “last but not least” juga penganggaran.

Dari sisi anggaran untuk kegiatan olahraga, Indonesia termasuk kecil, masih di bawah satu persen dari APBN, dibandingkan China (lima persen), Malaysia (4,9 persen), Filipina (3,4persen) dan Vietnam (tiga persen). Dari nominalnya, pada APBN 2018, Kemenpora mendapatkan alokasi anggaran Rp5,037 triliun untuk kegiatan kepemudaan dan olahraga.

Jalan masih panjang bagi para atlit Indonesia untuk berbicara banyak, mengukir prestasi di kelas dunia, karena harus dilalui berjenjang, mulai dari level event kawasan (SEA Games), Asian Games, baru melangkah ke olimpiade.

 

 

    

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tags

AG 18
Indonesia peringkat ke-4 AG 18
Pencak slat sabet 14 medali emas