Awas! Predator Anak di Sekolah


WALAU bersifat kasuistis, aksi-aksi kekerasan seksual terhadap siswa di lingkungan sekolah, apalagi jika pelakunya (oknum) guru, perlu diantisipasi agar kejadian serupa tidak terulang dan tidak ada lagi korban berikutnya.

Media baru saja meramaikan pemberitaan terkait puluhan murid laki-laki di SD Negeri  10 Tugu, Cimanggis, Depok, Jawa Barat yang menjadi korban kejahatan seksual, diduga dilakukan oleh guru bahasa Inggeris mereka berinisial AW (23).

Ironisnya, guru-guru  di sekolah tersebut dan para orang tua murid tidak mengetahui kasus memalukan di lingkungan sekolah yang sudah berjalan beberapa tahun, sementara Kepala Sekolah Ade Siti Rohimah mengaku kecolongan karena selama ini AW berperilaku ramah, sopan dan baik serta tidak ada laporan tentang kejadian itu.

Berdasarkan pengakuan LY, orang tua siswa kelas VI  SD berinisial MF (12) , sekitar dua bulan lalu anaknya menuturkan, AW memisahkan siswa dan siswi di dua kelas yang berbeda.

Di kelas laki-laki, MF melihat  AW meminta seorang siswa membuka celananya dengan iming-iming akan diganjar dengan nilai bagus dan kemudian memintanya melakukan gerakan dengan tangan yang mengarah pada perbuatan tidak senonoh.

Siswa lain tidak ada yang berani melapor kepada guru lain, kepala sekolah atau orang tua mereka, sementara LY yang mendatangi Polres Depok (6/6) lalu yang mengaku menerima pengaduan dari anaknya sehari menjelang Ujian Nasional (UN), menunda melaporkan kejadian itu pada polisi sampai  ujian rampung. 

Berdasarkan pengakuan MF, ia juga diminta melakukan perbuatan tidak pantas oleh gurunya sejak semester I Kelas V atau sekitar dua tahun lalu. MF mengaku tidak berani mengadu pada orang tuanya karena diancam oleh pelaku, begitu pula dengan siswa lainnya yang takut diberi nilai buruk oleh AW.   

Menurut pengakuan sejumlah siswa, AW memang dikenal dekat dengan mereka, karena selain mengajar bahasa Inggeris, ia juga menjadi wali kelas II dan pembimbing Pramuka. Bahkan di luar jam pelajaran, AW tidak juga jarang mentraktir atau  mengajak siswanya nonton film bareng atau berenang.

Sejumlah orang tua murid yang anaknya menjadi korban menyatakan, mereka memberanikan diri mendatangi Polres Depok karena setelah kabar mengenai aksi bejat AW beredar, ia masih tetap dipertahankan sebagai guru dan tidak ada tindakan apa pun dari kepala sekolah. Polres Depok langsung mencokok terduga dan mengamankan pelaku.

Menprihatinkan

Komisioner Komisi Perlindungan Anak (KPAI) Retno Listyarti menilai, kekerasan seksual terhadap anak di lingkungan sekolah sangat memprihatinkan, karena pada tiga bulan pertama 2018 saja tercacat 117 kasus dengan tujuh pelaku di Surabaya, Tangerang dan Lampung 42, sedangkan pada 2017, KPAI mencatat 393 kasus kekerasan seksual terhadap siswa SD dan SMP dengan 66 pelaku..

Kekerasan seksual juga terjadi di sekolah berbasis keagamaan seperti dilaporkan Legal Resources Center untuk Keadilan Gender dan HAM Jawa Tengah, sekitar 100 santri berusia 14 sampai 18 tahun  menjadi korbannya  di sejumlah ponpes pada 2011 dengan pelakunya kiyai, ustad atau guru dengan modus a.l. mengancam korban atau menjanjikan masuk surga bila memenuhi hasrat bejat mereka.

Berbagai modus aksi kekerasan di dunia pendidikan termasuk kekerasan seksual, bagaikan fenomena gunung es yang sebagian kecil saja tampak di permukaan, sedangkan persoalan besarnya mengendap di balik tumpukan persoalan bangsa lainnya.

Kasus-kasus lainnya, mungkin dengan derajat kekerasan lebih rendah, berupa  penganiayaan ringan, ancaman atau penganiayaan verbal terhadap guru, banyak terjadi, namun tidak dilaporkan.

Berdasarkan survei International Center for Research on Women 2016 yang dirilis  KPAI, 84 persen atau tujuh dari 10 siswa pernah mengalami kekerasan (termasuk kekerasan seksual) saat berada di lingkungan sekolah atau tertinggi diantara negara yang disurvei dibandingkan Vietnam dan Nepal (79 persen), Kamboja (73 persen) dan Pakistan (43 persen).

Bagi siswa, tip yang perlu dingat menghadapi kekerasan seksual yakni: pahami aksi yang mengarah ke sana, katakan “tidak” saat pelaku menjalankan modusnya, jangan takut pada ancaman pelaku, jika pelaku memaksa dengan menggunakan kekerasan fisik segera berteriak atau usahakan menghindar atau melawan jika merasa mampu.

Korban, diminta tidak menyalahkan diri sendiri, cari tempat aman atau hubungi orang terdekat untuk mendampingi, jangan hilangkan jejak kekerasan dengan mandi atau mengganti pakaian, ingat kronologis kejadian dan laporkan pada polisi atau minta bantuan LSM yang bergerak dalam penanganan kasus kejahatan seksualitas untuk mengatasi trauma dengan konseling atau pendampingan hukum.

Sudah tiba saatnya, segenap pemangku kepentingan termasuk guru, sekolah dan orang tua merumuskan mekanisme atau sistem yang bisa diberlakukan untuk mencegah aksi-aksi kekerasan terutama kekerasan seksual terhadap murid di lingkungan sekolah.

Jika tidak dirumuskan cara-cara mengantisipasi dan mencegahnya, aksi-aksi kekerasan termasuk  kekerasan seksual di lingkup sekolah, apalagi jika pelakunya guru, akan dikemanakan masa depan para siswa yang merupakan kader-kader bangsa itu? (NS)

Tags