Bahasa Isyarat Menyatukan Dunia


Masih dalam suasana bahagia bagi kalangan “Insan istimewa”, dunia memeringati Hari Bahasa Isyarat Internasional sebagai salah satu kesempatan melindungi serta mendukung identitas linguistik dan keragaman budaya teman tuli maupun pengguna bahasa isyarat lainnya. Bertepatan dengan Hari Bahasa Isyarat Internasional, Federasi Tuli Dunia (World Federation of the Deaf / WFD) menyelenggarakan Tantangan Pemimpin Global (Global Leaders Challenge).

Tujuannya agar pemimpin lokal, nasional, dan global dalam kemitraan dengan asosiasi nasional teman tuli di setiap negara serta organisasi yang dipimpin turut mempromosikan bahasa isyarat.

Dengan begitu, asosiasi nasional teman tuli bisa memperoleh kesempatan membangun serta memelihara kolaborasi berkelanjutan bersama para pemimpin politik mereka lewat penggunaan bahasa isyarat nasional.

Namun secara global, European Union of the Deaf dalam situsnya menjelaskan tidak ada bahasa isyarat yang universal di dunia, termasuk Indonesia. Justru mereka mendapati dalam sebuah negara memungkinkan memiliki lebih dari 1 bahasa isyarat.

Misalnya negara yang memiliki bahasa lisan sama seperti Jerman dan Austria juga tidak memiliki hanya satu bahasa isyarat. Hal tersebut bisa terjadi karena bahasa isyarat merupakan bahasa alami yang memiliki sifat linguistik, sama seperti bahasa lisan.

Akan tetapi, bahasa isyarat memiliki struktural berbeda. Oleh karena itu, biasanya teman Tuli menggunakan bahasa isyarat internasional dalam pertemuan internasional. Meskipun begitu, bahasa isyarat internasional tidak sekompleks bahasa isyarat alami dan memiliki leksikon terbatas. Ragam bahasa isyarat di dunia Berdasarkan situs resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), WFD mengatakan bahwa ada sekitar 72 juta orang yang memiliki masalah pendengaran di dunia.

Secara bersama atau kolektif, teman Tuli memiliki 300 bahasa isyarat yang berbeda di seluruh dunia.

Di Indonesia sendiri terdapat 2 jenis bahasa isyarat yang kerap digunakan, yaitu Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia ( Bisindo).

Untuk mendapat pembahasan lebih lengkap, berikut ini merupakan ragam bahasa isyarat dari 5 negara.

1.Indonesia (SIBI dan BISINDO)

SIBI merupakan bahasa isyarat yang berkembang dari serapan American Sign Language dan merupakan cara merepresentasikan tata bahasa lisan Indonesia ke dalam gerakan isyarat buatan tertentu. Dalam penerapannya, SIBI sudah diresmikan dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 serta dibakukan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 30 Juni 1994 menjadi sistem isyarat untuk teman Tuli. Alhasil, SIBI masih digunakan sebagai pengatar komunikasi di kurikulum Sekolah Luar Biasa (SLB).  

Sementara itu, Bisindo adalah bahasa isyarat yang berkembang secara alami dari kebutuhan kaum tuli. Sebenarnya sejak 1966 eksistensi Bisindo sudah ada, tetapi perkembangannya belum naik ke permukaan. Maka dari itu, pemerintah menggunakan SIDI. Akan tetapi, teman tuli lebih memilih menggunakan Bisindo karena hal tersebut merupakan salah satu budaya karena lahir dan berkembang dari kaum tuli di Indonesia.

  1. Amerika (ASL)

Orang di Amerika Serikat menggunakan bahasa isyarat bernama American Sign Language (ASL). Perkembangan bahasa ASL berasal dari French Sign Language, Martha’s Vineyard Sign Language, dan bahasa isyarat lokal lainnya. Jika dilihat dari isyarat untuk menggambarkan alfabet, ASL hanya mengejanya dengan jari satu tangan.

  1. Inggris, Australia, dan Selandia Baru (BANZL)

Bahasa isyarat yang digunakan di Inggris ialah British Sign Language (BSL). Namun dalam perkembangannya, Australia dan Selandia Baru memiliki bahasa yang serupa dengan BSL. Oleh karena itu, sering disebut dengan British, Australian and New Zealand Sign Language (BANZL). Berbeda dengan ASL, BANZL menggunakan 2 tangan untuk menggambarkan alfabet.

  1. Prancis (FSL)

French Sign Language (FSL) pada dasarnya memengaruhi bahasa isyarat lainnya seperti ASL, Ireland Sign Language (ISL), Rusian Sign Language (RSL), dan lainnya. Meski mirip dengan ASL yang menggunakan 1 tangan untuk ejaan alfabet, tetapi masih ada perbedaan kecil di seluruh bahasa isyaratnya.

  1. Cina (CSL)

Di Cina, masyarakat Tuli menggunakan Chinese Sign Language (CSL). Mereka memakai tangan sebagai representasi visual dari karakter Cina tertulis.  

Walaupun bahasa isyarat di dunia ini beragam, tetapi PBB mendapati bahwa masyarakat secara global masih perlu meningkatkan kesadaran akan pentingnya bahasa isyarat dalam realisasi penuh hak asasi manusia teman Tuli. Maka dari itu,

Hari Bahasa Isyarat Internasional tercipta agar bahasa isyarat teman Tuli bisa mendapatkan akses dan layanan dalam pendidikan. Selain itu, penting juga agar bisa melestarikan bahasa isyarat sebagai bagian dari keragaman bahasa dan budaya.(K)