Bercanda Dalam Mimpi


Lelaki ganjen ini biasa dipanggil warga kampungnya dengan “Dur”, dan tidak seorangpun yang tahu kepanjangan nama itu. Ada yang menduga Durajak, Durahman, Duraemon, Durauf dan banyak lagi tetapi yang jelas bukan Durian Muntong. Walaupun banyak bunga desa yang kesemsem dengan lelaki ini, namun  satu-satunya gadis desa yang berhasil menaklukkan si Dur hanyalah Mpok Munah lantaran selalu  memanggilnya “Bang Dur”.

Dur bukan lelaki sembarangan, selain memiliki kedudukan sosial  juga berkantong tebal lantaran bisnisnya selalu lancar sebagai penyalur tunggal pembantu   paling termasyhur di negeri ini.

Mpok Munah bukanlah perempuan pertama yang dipersunting Dur tetapi mungkin yang ke berapa puluh, cuma bedanya hanya Mpok Munah yang berhasil menaklukkan Dur baik di kamar, di dapur maupun di sumur. Walaupun Mpok Munah adalah juga alumni pembantu, tetapi setelah diperisteri Dur mereka tampil tidak kalah dengan Vennesa Angle yang rajin keluar masuk SPA dan perawatan  melalui kursus editing wajah dan tubuh.

Seperti biasanya, Dur selalu bangun kesiangan. Apalagi malam sebelumnya mengikuti rapat bertele-tele dengan para tokoh dari delegasi asosiasi penyalur pembantu Asia Tenggara untuk merumuskan moratorium pengiriman pembantu kesalah satu Negara lantaran sering terjadi kasus pelecehan selangkangan oleh para majikan di negeri itu.

“Bang bangun, pak Kades sudah lama menunggu di ruang tamu,” bisik Mpok Munah mesra sambil mengelus-elus pipi suaminya disela dengkuran keras mirip kerbau lagi diruang jagal.

“Bentar dulu napa, abang masih ketakutan nih,” ucap Dur sambil menarik selimut.

Mendengar jawaban itu, Mpok Munah sempat pucat pasi. Dalam hatinya terbayang suaminya bakal di panggang pak Kades lantaran tidak mampu mempertanggung jawabkan dana desa.  Mpok Munah bukan wanita sembarangan, selain cantik dan montok juga cerdas dalam hal menjinakkan lelaki.

“Maaf pak Kades, abang Dur masih belepotan ditempat tidur dan gak bakalan bangun sampai siang,” kata Mpok Munah terkesan manja di depan pak Kades yang sedari tadi matanya jelalatan melihat liuk, lauk dan luluknya body si mpok bahenol itu. Awalnya pak Kades bersikeras untuk meminta pertanggung jawaban dana desa kepada suaminya,   namun lantaran mpok Munah sangat fasih berdiplomasi dan lobi akhirnya Pak Kades mengurungkan niat itu.  Apalagi mpok Munas mulai menggeser posisi duduknya jengkal demi jengkal merapat kesamping paha Pak Kades, akhirnya dapat diduga cerita berikutnya.

Entah berapa lama mpok Munah bersama Pak Kades bercengkerama hingga akhirnya berakhir dengan sebuah perjanjian khusus yang intinya Pak Kades bermurah hati untuk tidak memperpanjang kasus suaminya ke ranah hukum.

Ketika masuk ke kamar tidur,  betapa terkejutnya  Mpok Munah melihat suami terisak-isak menangis ditempat tidurnya. Momen ini belum pernah Mpok Munah lihat dan rasakan selama mendampingi Bang Dur. Dalam hatinya penuh tanda tanya. Apakah perilakunya dengan Pak Kades beberapa saat lalu diketahui suaminya atau ada sesuatu yang lain.

Dengan segala keberanian, Mpok Munah mencoba mendekati suaminya dengan jurus pamungkas mempraktikan  ilmu penakluk lelaki. Dicobanya duduk diujung tempat tidur terlebih dulu, namun tidak ada reaksi suaminya kemudian dengan elusan mesra  berhasil mendekatkan wajahnya ke muka Bang Dur sambil mengelus   selembut sutera.

“Ada apa sih bang, kok kelihatan berat sekali masalahnya,” terdengar suara serak-serak basah meluncur dari mulut Mpok Munah mencairkan suasana.

Jurus penjinak lelaki dari racikan  Mpok Munah ini ternyata mampu meluluh lantakkan hati sang suami hingga Bang Dur bersedia membuka rahasia tentang kenapa ia menangis sedih.

“Begini dek, tapi abang minta adek jangan cerita kepada siapapun termasuk Pak Kades”, kata Bang Dur membuka pembicaraan. Muka Mpok Munah makin melekat di pipi suaminya seakan gak sabaran lagi mendengar kelanjutan ceritanya.

Dengan suara yang terkesan lirih, Bang Dur menceritakan mimpinya tentang hadirnya seorang malaikat pencabut nyawa singgah untuk melaksanakan eksekusi   mengakhiri hidupnya. Tapi lantaran tabiat Bang Dur dari sosonya memang “raja akal”, si-malakalmautpun dicobanya untuk dikadalin.

Masih dalam suasana mimpi, si malakalmaut memperlihatkan daftar nama  untuk dicabut nyawanya hari ini dan kebetulan Bang Dur berada di urutan pertama. Melihat fakta itu, Bang Dur mencari muslihat agar ia terbebas dari eksekusi itu atau setidak-tidaknya sebisa mungkin mengulur waktu dengan alasan masih bulan madu dengan Mpok Munah. Tapi Malakalmaut tidak mudah menyerah, apalagi disuap seperti kebiasaan Bang Dur jika sedang berhadapan dengan aparat hukum.

“Ok lah ok lah, tapi begini saja. Silahkan tuan ambil nyawa saya tapi sebelumnya kita ngopi dulu agar operasi pencabutan nyawa berjalan sempurna”, pinta Bang Dur, sambil memberikan secangkir kopi yang sudah dicampurnya dengan obat tidur dosis tinggi.

Selang beberapa saat, akal bulus Bang Dur ternyata jitu dan berhasil menina bobokan si Malakalmaut hingga terdengar dengkurannya sampai kelangit ketujuh. Sementara dalam suasana aman terkendali, Bang Dur melaksanan rencana kedua dengan cara menghapus nama dirinya diurutan pertama kemudian dirubah menjadi urutan terakhir. Tiba-tiba sang malaikat tadi terbangun, kemudian bersiap-siap untuk melaksanakan tugas. Suasana tegang dan dari wajah Bang Dur mengucur keringat dingin.

“Ok ok, karena anda berbaik budi  maka saya mengubah keputusan dengan tidak mencabut nyawa anda sesuai daftar urutan pertama, tapi saya mulai kepada seseorang yang berada diurutan  terakhir,” kata malaikat sedikit serius. Belum sempat dilaksanakan eksekusi  itu, tiba-tiba Bang Dur tersentak dari tidurnya dan menangis sejadi-jadi.(emte)