Bhinneka Tunggal Ika Tameng dari Xenophobia


Xenophobia berasal dari Bahasa Yunani, yaitu “xenos” yang berarti orang asing dan “phobos” yang berarti ketakutan. Dilansir dari Kantor Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Hak Asasi Manusia, xenophobia adalah ketakutan, ketidaksukaan, dan kebencian terhadap orang atau kelompok asing karena perbedaan etnis, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, orientasi seksual, atau alasan lainnya. Perwujudan xenophobia dapat ditunjukkan melalui tindakan diskriminasi langsung, permusuhan, kekerasan, dan hasutan kebencian. Tindakan ini biasanya sengaja dilakukan karena tujuannya adalah untuk mempermalukan, merendahkan dan/atau melukai orang dan kelompok orang yang "terkait."

Xenophobia rentan terjadi di negara yang memiliki banyak perbedaan, seperti suku, ras, dan agama, tak terkecuali Indonesia. Menurut sensus yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010, Indonesia memiliki 1.320 suku bangsa yang tersebar di seluruh wilayah Tanah Air. Penduduk Indonesia juga menganut agama yang berbeda-beda. Perbedaan dan kemajemukan yang ada inilah yang membuat adanya gesekan-gesekan yang dapat memicu ketakutan, ketidaksukaan, dan kebencian yang ekstrim pada suku atau agama lain.

Leluhur Indonesia sudah mewarisi sebuah gagasan penting untuk mencegah dan menanggulangi fenomena xenophobia yang tertulis dalam Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular. Gagasan ini hadir lebih dulu, jauh sebelum Indonesia merdeka. Gagasan ini adalah “Bhinneka Tunggal Ika,” yang memiliki arti berbeda-beda tetapi tetap satu. Bhinneka Tunggal Ika kemudian dijadikan semboyan bangsa Indonesia sampai saat ini sesuai dengan yang dicantum dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 36A.

Pada awalnya, Bhinneka Tunggal Ika dibuat sebagai upaya untuk menjaga toleransi agama Hindu dan Buddha. Namun, setelah dijadikan sebagai semboyan bangsa, gagasan ini memiliki makna yang sangat luas dan mendalam. Bhinneka Tunggal Ika dinilai dapat menjaga semangat toleransi di tengah perbedaan suku, ras, dan agama.

Istilah ini sangat sesuai bagi bangsa Indonesia yang penduduknya sangat majemuk. Selain itu, gagasan ini selaras dengan sila yang terdapat pada Pancasila. Bhinneka Tunggal Ika membuat seluruh masyarakat Indonesia harus dan menghormati perbedaan dan menjunjung tinggi persatuan. Bhinneka Tunggal Ika menyiratkan bahwa harmonisme harus ada di tengah pluralisme dan keanekaragaman.

Merujuk dari makna yang terdapat dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika, xenophobia tidak boleh dilakukan. Pada realitanya, Indonesia memanglah negara yang majemuk dan memiliki beragam perbedaan, sehingga perbedaan adalah hal yang biasa. Manifestasi xenophobia seperti kebencian dan ketidaksukaan yang berlebih, sudah sepatutnya tidak dilakukan karena dapat menimbulkan ketidakharmonisan yang berujung pada perpecahan bangsa. Perlu digaris bawahi bahwa perbedaan inilah yang menjadikan Indonesia unik. Kebudayaan yang berbeda-beda di setiap suku membuat Indonesia kaya akan warisan budaya. Hal penting yang perlu dilakukan sebagai warga negara Indonesia yang baik adalah berpegang teguh pada Bhinneka Tunggal Ika dengan cara menghormati perbedaan tersebut, bukan melakukan tindakan-tindakan kebencian yang merupakan bentuk dari xenophobia.

  • FBL