Bibit Radikalisme Bersumber Dari Intoleransi


Radikalisme dan juga terorisme menjadi dua hal yang harus dicegah agar tidak masuk ke dalam dunia pendidikan di Indonesia. Untuk itu, Yayasan Ayo Mengajar Indonesia (AMI) yang fokus membangun pendidikan tanah air menekankan pentingnya nilai toleransi dalam dunia pendidikan.

Melalui dialog Publik bertema 'Tolerance, Yes. Radicalism, No: End Game' yang dilakukan secara virtual mengajak bagaimana caranya untuk mengaplikasikan nilai-nilai toleransi di dunia pendidikan. Sehingga menekan radikalisme dan toleransi.

"Beberapa minggu yang lalu, kami membahas konsep, nilai yang terkandung, kalau sekarang kita mengajak untuk menjalankan caranya (aplikasi). Dialog ini membahas bagaimana cara mencegah intoleransi, radikalisme, hingga terorisme masuk ke dunia pendidikan, lewat contoh aplikatif langsung dari para pembicara," kata Direktur Ayo Mengajar Indonesia, Adi Raharjo, seperti yang dikemukakan kepada media Senin lalu.

Dalam kesempatan ini,salah satu narasumber yaitu Founder Peace Generation, Irfan Amalee memgungkapkan beberapa hal yang di galang oleh kelompok teroris. Setidaknya ada 3 hal, yang pertama Pull Factor, Push Factor dan Personal Factor.

"Akar dari radikalisme adalah intoleransi, menjelekkan seseorang atau mem-buly itu biasanya sang korban akan menjadi radikalisme karena ada faktor tekanan dari orang lain. Kami peace generation mengajarkan dengan menggunakan games kepada anak-anak dan generasi millenial dan "ujar Irfan.

Sementara itu, menurut Founder Sangkhalifa.co, Makmun Rasyid, menungkapkan agar para pengajar memberikan pelajaran moderat kepada para siswa. Sebab sekecil apapun bibit terorisme harus diatasi sedini mungkin.

Untuk itu, ia berharap Ayo Mengajar Indonesia harus aktif mengajarkan pemahaman keagamaan yang moderat dan menanamkan nilai-nilai toleransi. "Walaupun tindakan terorisme di akhir tahun 2020 menurun, tetapi semua riset di Indonesia berada di atas 80 persen, orang yang melakukan tindakan terorisme lebih dikit, namun bibit bibitnya yang banyak" ujarnya.

Dalam diskusi ini, hadir juga Anggota DPR RI Komisi X, Bramantyo Suwondo yang bicara mengenai cara mencegah masuknya intoleransi dan terorisme. Menurutnya, sentralisasi pendidikan yang sudah terbangun saat ini sudah bagus, namun harus di maksimalkan dengan koordinasi pengajaran dan sosialisasi terkait intoleransi dan menolak radikalisme.

Bram mendorong, guru harus bisa memakai cara pengajaran yang kreatif dalam memaknai tentang intoleransi. "Kita dorong bagaimana kurikulum itu kita masukan satu subjek yang memupuk intoleransi, dan juga kita harus mempersiapkan guru agar bisa melakukan pengajarannya" ujar Bram.

Tags

toleransi