Bidikmisi dan KIP-K di Mata Masyarakat


       Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah mengeluarkan bantuan pendidikan untuk mewujudkan Indonesia Maju, di antaranya adalah Bidikmisi dan Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K). Lantas, apakah Bidikmisi dan KIP-K itu? Apa kata mereka tentang Bidikmisi dan KIP-K?

       Bidikmisi dan Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) adalah bantuan biaya pendidikan dari pemerintah melalui Kemdikbud bagi lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat yang memiliki potensi akademik yang baik, tetapi juga memiliki keterbatasan ekonomi. Tujuan dari Bidikmisi dan KIP-K adalah agar para lulusan SMA atau sederajat yang berasal dari keluarga tidak mampu itu dapat melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Kedua bantuan ini juga merupakan wujud dari pemerataan pendidikan yang tercantum dalam Tujuan Pendidikan Nasional demi terciptanya Indonesia yang maju.

       Baik Bidikmisi maupun KIP-K, akan menjamin keberlangsungan mahasiswa saat kuliah dengan memberikan bantuan finansial, yaitu pembebasan uang kuliah dan biaya hidup bulanan Rp 700.000 per mahasiswa.

       Pada tahun 2020 Bidikmisi ditiadakan dan digantikan oleh KIP-K. Melalui KIP-K, pemerintah memperluas sasaran bantuan sebanyak 818.000 mahasiswa, termasuk penerima bidikmisi on going sampai masa studi selesai. Pemerintah melalui Kemdikbud juga menargetkan akan menerima 400.000 penerima baru di tahun 2020 ini.

       Keberadaan Bidikmisi dan KIP-K membawa angin segar bagi mereka yang berpestasi tetapi dari kalangan tidak mampu. Nur Azizah, mahasiswa tahun pertama di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), menceritakan arti KIP-K bagi dirinya.

      “Saya termasuk dari keluarga kurang mampu sehingga harus berpikir dua kali untuk melanjutkan kuliah. Manfaat yang saya rasakan sebagai mahasiswa KIP-K adalah saya tidak perlu membayar tes masuk perguruan tinggi sepeser pun. Saya juga tidak perlu membayar biaya kuliah, justru saya mendapatkan uang saku setiap bulannya,” ujarnya dalam wawancara yang dilakukan melalui telefon.

      Isnaini Kholifatu Rohmah, mahasiswa penerima Bidikmisi di Unsoed, turut mengungkapkan pengaruh Bidikmisi bagi keberlanjutan pendidikannya. “Alasan mendaftar Bidikmisi itu untuk meringankan beban orang tua karena untuk melanjutkan ke perguruan tinggi membutuhkan banyak biaya, sedangkan perekonomian keluarga ku tidak memungkinkan. Kalau tidak pakai Bidikmisi, aku tidak bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.” jelasnya.

      Menurut Bela Aji, Ketua Himpunan Mahasiswa Bidikmisi dan KIP-K Unsoed, keuntungan kedua bantuan pendidikan ini tidak hanya sekadar bantuan finansial saja, tetapi juga non-finansial. “Beberapa ketentuan bagi penerima Bidikmisi dan KIP-K, seperti pembuatan PKM (Pekan Kreativitas Mahasiswa) juga memberikan pengaruh akademik. Penerima bantuan bisa lebih meningkatkan kreativitas, karena mau tidak mau kita harus menggali ide-ide. Selain itu, adanya standar IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) bagi penerima bantuan juga cukup memacu semangat untuk selalu meningkatkan prestasi terlepas dari kendala lain yang mungkin ada di masing-masing individu,” tuturnya.

      Keuntungan yang didapat dari Bidikmisi dan KIP-K sangat menggiurkan. Oleh karena itu, tak jarang bantuan ini disalahgunakan atau pemberiannya tidak tepat sasaran. “Dalam proses seleksi, terkadang ada mahasiswa yang berasal dari keluarga mampu yang mendapatkan Bidikmisi atau KIP-K. Hal ini dikarenakan banyak oknum yang memalsukan dokumen-dokumen dalam proses seleksi,” jelas Isna.

       Untuk menanggulangi kejadian tersebut, Kemdikbud telah menyediakan layanan “Lapor Bidikmisi” yang dapat diakses dalam laman bidikmisi.belmawa.ristekdikti.go.id. Sementara untuk KIP-K dapat diakses melalui situs ult.kemdikbud.go.id.  Diharapkan dengan adanya fitur ini masyarakat dapat ikut berperan aktif dalam menyukseskan program Bidikmisi dan KIP Kuliah.

  • FBL