BODI LEPAT KELIPAT


Wajah sumringah dengan senyum yang hampir-hampir tak pernah putus, sangat jarang  terlihat di wajah pak Kepala Desa Haji Durauf.  Maklum isteri ke-empatnya yang berhasil dipersunting pekan lalu sudah pulang dari kota setelah di vermak habis-habisan disebuah salon kecantikan ternama.

Wajah, kulit dan model rambut seratus persen berubah total, demikian penampakan terakhir Siti Zuleha, isteri pak Kades yang sebelumnya adalah janda paling bahenol di desa itu.

Cuma sayang, hasil vermak  salon orang kota tadi tidak mampu mendandani bodi Zuleha yang masih saja mirip lepat yang kelipat-lipat oleh ikatan tali rapia. Tapi biarpun begitu, tidak menyurutkan rasa sayang pak Kades yang sejak pernikahan sudah kelepek-kelepek dibuatnya.

Senyum pak Kades, ternyata memberi inspirasi bagi warga desa hingga kabar bahagia tersebut dengan cepat menjalar ke seluruh kampung. Pokoknya hari itu merupakan hari istimewa, sampai-sampai setiap warga seakan wajib ikut tersenyum pula hari itu.

Sebelum pak Kades berhasil mempersunting Siti Zuleha, momen pak Kades bisa tersenyum seperti itu paling hanya dua kali dalam setahun. Yaitu ketika hari lebaran atau saat menerima setoran dari hasil tanah bengkok.

Karena dianggap sebagai hari istimewa dan keramat bagi warga, maka pak Kades mengundang tokoh masyarakat untuk berkumpul membicarakan acara pesta panen yang dalam tahun itu dirasakan sangat luar biasa.

Entah siapa yang memulai, tiba-tiba musyawarah melebar ke pembahasan yang diluar dari agenda musawarah. “Karena pak Kades kami nilai sukses, maka warga meminta untuk terus menduduki jabatan se-umur hidup”, kata seorang lelaki yang hanya kebagian nyempil kepalanya di jendela lantaran saking membeludaknya hadirin.

Celetuk itu ternyata memancing emosi pak Kades. Sambil duduk dikipasi Siti Zuleha, wajah pak Kades tidak hanya sekedar sumringah semata tetapi berubah menjadi  senyum lebar menganga  hingga sempat laler masuk ke mulutnya.

Musyawarah desa yang kali ini sangat heboh itu, akhirnya disepakati untuk mengundang artis dari ibukota serta bapak Bupati agar pesta panen tambah meriah.

“Kalau perlu kita laksanakan tiga hari tiga malam,” ucap pak Kades.

Dilapangan terbuka, hajatan akbarpun digelar sangat meriah. Ada pertunjukan orkes dangdut ternama dari kampung sebelah, ada atraksi kuda lumping hingga atraksi kesenian lainnya yang sengaja dirancang untuk membahagiakan pak Kades.

Acara yang tumpah ruah dihadiri warga itu, untuk panggung kehormatan hanya diperbolehkan undangan super VVIP yang diperbolehkan mengisinya yaitu pak Kades dan isteri, pak Bupati dan Pak Camat, sementara rakyat jelata dipersilahkan mencari tempat yang aman sendiri-sendiri.

Ketika musik dangdut makin panas, biduan pertama tampil dengan suara merdu tapi penampilan biasa-biasa saja hingga wajar hanya mendapat sedikit tepukan.  Tidak berbeda dengan penampilan biduan kedua, wajah cantik, bodi aduhai dan sedikit genit tetapi juga menerima nasib yang sama. Tetapi ketika biduan ketiga tampil, tepukan riuh rendah membahana seantero lapangan, padahal  suaranya tidak semerdu biduan sebelumnya dan wajahnya pun pas-pasan saja, bahkan bodinya jauh dari standar penyanyi dangdut karena disana-sini penuh ikatan mirip lepat kelipat.

“Hebat ya biduan terakhir tadi mampu memukau hadirin”, bisik bupati kepada pak Kades sambil menanyakan siapa dia sebenarnya.

Pak Kades mulai salah tingkah, tetapi dia harus menjawab…”itu isteri ke-empat saya pak”, jawabnya. (emte)