Cara Surabaya Memperkecil Anak Putus Sekolah


Jakarta, Itjen Kemendikbudristek -Sedikitnya 1.753 pegawai atau aparatur sipil negara (ASN) Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menjadi orangtua asuh bagi anak-anak tak mampu dengan status masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Hal itu dilakukan, setelah Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memberikan imbauan kepada seluruh ASN untuk menjadi orangtua asuh bagi anak-anak MBR.

Hingga Senin (14/6/2021), sudah ada sebanyak 1.753 pegawai yang menjadi orangtua asuh dan menanggung sebanyak 2.416 anak asuh dari kalangan MBR.

Eri mengaku, tidak ingin ada anak Surabaya yang putus sekolah meski pandemi Covid-19 sangat mempengaruhi perekonomian warga. ia mengimbau kepada seluruh pegawai atau ASN di lingkungan Pemkot Surabaya untuk berpartisipasi dalam program beasiswa pendidikan tersebut, yaitu dengan menjadi orang tua asuh bagi anak-anak yang berasal dari keluarga MBR.

Para donatur atau pegawai Pemkot Surabaya itu akan menyisihkan penghasilannya Rp 125.000 setiap bulannya dan akan berlaku sampai 3 tahun atau sampai anak itu lulus sekolah. "Ini zakat penghasilan kita. Bisa dibayangkan kalau ini disatukan untuk membantu anak asuh ini, pasti mereka akan sangat terbantu di tengah pandemi ini," ujar Eri.

Melalui program ini, diharapkan menumbuhkan rasa gotong-royong dan terus memupuk rasa cinta kasih kepada sesama.

Jika sudah punya rasa gotong royong dan cinta kasih yang tinggi, berbagai masalah di Kota Surabaya akan bisa diatasi. "Insya Allah bisa menyelesaikan berbagai masalah di Surabaya. Ini yang kita lakukan hari ini," tutur Eri.

Program anak asuh ini sebenarnya sudah ada sebelumnya dan sudah menggandeng beberapa perusahaan yang memberikan CSR. Bagi dia, dalam membangun sebuah kota, harus melibatkan semua stakeholder. Sebab ia sadar pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. "Alhamdulillah ketika semua stakeholder itu menjadi satu bagian, kita sampaikan semua permasalahan Kota Surabaya bisa diatasi, karena semuanya sudah hadir untuk membantu Surabaya.