Contoh Baik Toleransi


oleh: Subiyantoro (Inspektur II)

Toleransi secara bahasa berasal dari bahasa Latin “tolerare”, toleransi berarti sabar dan menahan diri. Toleransi juga dapat berarti suatu sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau antarindividu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Sikap toleransi dapat menghindari terjadinya diskriminasi walaupun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat.

Lawan dari kata toleransi adalah intoleransi, kata intoleransi berasal dari prefiks in- yang memiliki arti ‹tidak, bukan› dan kata dasar toleransi (n) yang memiliki arti1) sifat atau sikap toleran;2) batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan;3) penyimpangan yang masih dapat diterima dalam pengukuran kerja. Dalam hal ini, pengertian toleransi yang dimaksud adalah ‹sifat atau sikap toleran›.[1]Kata toleran (adj) sendiri didefinisikan sebagai ‘bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.’[2]

Sikap toleransi diharapkan dapat menciptakan kedamaian di muka bumi, apalagi bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang memiliki suku, bahasa, budaya, agama, dan masih banyak lagi yang berbeda-beda. Tidak ada pilihan lain, sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok  atau antarindividu dalam masyarakat atau toleransi harus terus dijaga dan dipertahankan supaya NKRI tetap damai. Menjaga toleransi tetap ada sama halnya kita mempercayai pendapat Micheal Wazler (1997). Toleransi menurutnya merupakan keniscayaan terhadap ruang publik dan individu karena tujuan toleransi adalah membangun hidup damai (peaceful coexistence) di antara berbagai kelompok masyarakat dari berbagai perbedaan latar belakang sejarah, kebudayaan, dan identitas.

Sikap toleransi sudah lama tumbuh subur di kalangan masyarakat Indonesia, dan hingga kini terus dipelihara dan dijaga, khususnya oleh masyarakat suku Tengger, di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Hal inilah yang menjadikan masyarakat suku Tengger hidup penuh dengan kerukunan meskipun mereka memiliki perbedaan latar belakang agama. Umat Budha merupakan agama yang paling dominan dengan jumlah pemeluk lebih dari 50%.

Pada masyarakat suku Tengger, praktik saling menghormati ditunjukkan dengan kesediaan untuk memenuhi undangan dari orang lain. Praktik ini memiliki istilah sayan. Seseorang diundang untuk menghadiri hajatan maka ia harus hadir. Sebaliknya, jika ia yang menyampaikan undangan, warga yang diundang juga wajib hadir. Tradisi membagi makanan juga menjadi praktik yang biasa dilakukan, terutama pada saat hari raya. Pada hari raya Karo contohnya, terdapat tradisi genten cecelukan, yaitu tradisi saling mengundang makan tetangga. Dalam kehidupan secara kolektif pun, masyarakat suku Tengger melakukan kegiatan bersama-sama seperti gotong-royong dan kerja bakti tanpa membeda-bedakan agama. Bahkan uniknya, dalam pembangunan rumah ibadah semua warga turut berpartisipasi tanpa terkecuali.

Hal ini tidak semata-mata hanya sebuah kebiasaan yang dilakukan terus menerus, tetapi ada pandangan hidup yang dipegang teguh oleh masyarakat suku Tengger. Dalam budaya Tengger, hidup manusia tergantung kepada pihak di luar dirinya. Pemikiran masyarakat bahwa mereka manusia sesungguhnya lemah dan dapat menjadi kuat karena dikuatkan dengan dukungan dari pihak-pihak lain. Pihak- pihak tersebut harus dihormati dan disampaikan rasa syukur karena pihak-pihak tersebut yang telah menjadikan mereka mampu bertahan hidup, mewujudkan keinginan, memperoleh kesejahteraan, dan melindungi mereka. Demikian pula terhadap bantuan dan dukungan pihak lain bagi kepentingan dirinya, harus dibalas melalui pemberian yang setimpal.

Toleransi di Sekolah

Contoh toleransi di sekolah dipraktikkan di SMA Katolik St. Hendrikus, Surabaya. Sekitar 60 siswa-siswi tersebut, mengunjungi tiga tempat dari tiga agama berbeda yang ada di Surabaya, yakni di Pondok Pesantren Darus Sa’adah Nginden, Klenteng Boen Bio Kapasan, dan Pura Segara Kenjeran. Para siswa-siswi ini sengaja mengunjungi tempat tersebut agar dapat langsung berdialog mengenai berbagai hal berkaitan dengan isu keberagaman dan toleransi antarumat beragama.

Guru Sosiologi SMA Katolik St. Hendrikus, Michael Andrew berkata “Dalam membangun keberagaman itu, salah satunya adalah dengan dialog. Oleh karenanya tidak mungkin untuk melihat sesuatu tanpa salah paham itu tanpa dialog. Kami berharap dengan pertemuan lintas agama ini, anak-anak bisa merasakan, menyibak atau membuang sekat-sekat, paradigma-paradigma, stigma-stigma yang selama ini masuk di pikiran mereka dengan belajar pada sumber primer.”

Caroline, siswi kelas XI SMA Katolik St. Hendrikus mengaku mendapat banyak pengetahuan baru setelah mendengarkan penjelasan dan berdialog dengan para pemuka agama. Caroline mengatakan bahwa dia yang awalnya menaruh curiga terhadap pemeluk agama lain, saat ini menjadi lebih terbuka dan memahami perbedaan yang ada.

Toleransi di Pesantren

Di Pondok Modern Gontor, pendidikan berwawasan toleransi sesungguhnya telah menjadi pendidikan dasar yang tidak hanya diajarkan dalam pengajar formal di kelas saja, tetapi juga dilakukan dalam kehidupan sehari-hari santri. Pendidikan formal toleransi diwujudkan dalam bentuk pengajaran materi keindonesiaan/kewarganegaraan yang telah dikurikulumkan. Sistem pengajaran di pondok modern yang didominasi bahasa asing (Arab dan Inggris) sebagai pengantar, tidak melunturkan semangat pendidikan toleransi anak didik (santri). Karena materi ini ditempatkan sebagai materi primer dan harus diajarkan dengan bahasa Indonesia pula.

Sikap toleransi juga dipraktikkan di Pondok Modern Gontor melalui penempatan permanen santri dalam sebuah asrama seperti yang dikemukakan oleh Amir Maliki, seorang alumni pesantren Gontor mengatakan untuk menumbuhkan sikap toleransi dan pemahaman terhadap budaya lain, dalam satu kamar ditempatkan para santri yang berasal dari berbagai daerah, baik Jawa, luar Jawa, dan bahkan santri dari luar negeri. Penempatan santri dalam satu kamar ini tidak permanen. Pondok Modern Gontor menetapkan regulasi agar setiap tahun santri diharuskan mengalami perpindahan asrama. Setiap satu semester, mereka juga akan mengalami perpindahan antarkamar dalam asrama yang mereka huni. Hal ini dilakukan untuk memberi variasi kehidupan bagi para santri, juga menuntun mereka memperluas pergaulan dan membuka wawasan mereka terhadap aneka tradisi dan budaya santri-santri lainnya.

Pendidikan toleransi lainnya yang diterapkan di Pondok Modern Gontor adalah diberlakukannya aturan mengikat yang melarang santri berbicara menggunakan bahasa daerah. Santri di lingkungan pesantren hanya dibolehkan berbicara dalam bahasa Indonesia dalam berbagai kesempatan dan kepentingan,  bahasa utama yang digunakan di lingkungan pesantren adalah Arab dan Inggris,

Keutamaan pendidikan toleransi di pondok modern Gontor juga tercermin dari muatan/isi kurikulum yang tampak mengajarkan wawasan santri akan keragaman keyakinan. Dalam kelompok bidang studi Dirasah Islamiyah, sebagai contoh, diajarkan materi khusus muqaranat al-adyan (perbandingan agama) yang konten luasnya memaparkan sejarah, doktrin, isme, fenomena, dan dinamika keagamaan di dunia. Materi ini sangat substansial dalam pendidikan multikulturalisme karena santri diberi wawasan berbagai perbedaan mendasar keyakinan agama mereka (Islam) dengan agama-agama lain di dunia. Materi ini sangat potensial membangun kesadaran toleransi keragaman keyakinan yang akan para santri temui saat hidup bermasyarakat kelak.

Toleransi Ala Sekolah Falcon College Zimbabwe

Di wilayah Matabeleland di selatan Zimbabwe sejak tahun 1954 beridiri sekolah rekonsilisasi yang diberinama  Falcon College. Zimbabwe awalnya adalah sebuah negara yang penuh dengan konflik. Kekejaman demi kekejaman saling berbalas tanpa mengenal perikemanusiaan dan hakikat suci peradaban umat manusia di kawasan Afrika saat itu. Tata pemerintahan dan tata kehidupan tidak sempat tersentuh oleh penguasa negara yang silih berganti tumbang akibat perang saudara.

Di awal tahun 1954,  bara api peperangan dan dendam kesumat antaretnik itu perlahan-lahan mulai jinak bersamaan dengan hadirnya sedikit cahaya rekonsiliasi kehidupan bagi penduduk desa Matabeleland setelah beberapa orang di antara kedua etnik secara kebetulan bertemu dan bersepakat membangun lembaga pendidikan dengan tujuan tunggal  sebagai wadah “merukunkan” antaretnik.

Falcon College kini sering menjadi rujukan beberapa negara tetangga yang sama-sama mengalami traumatis etnik dan kekerasan radikal di kawasan Afrika. Sekolah berasrama independen itu makin hari makin menoreh prestasi akademik bersamaan dengan prestasi di bidang kemasyarakatan, perkebunan, pertanian, olah raga dan menjadi pusat pemulihan lingkungan hidup yang dahulu pernah menjadi kawasan bekas tambang emas kemudian berubah menjadi kawasan asri dan produktif.

Tanamkan Toleransi Sejak Dini

Anak usia dini sebagai ìThe Golden Ageî umur yang muda belia sangat efektif ditanamkan multidimensi pendidikan. Pendidikan apa saja yang dapat di berikan kepada anak oleh orang tua, ibu, bapak, dan pendidik akan ikut membentuk karakter dan kepribadian anak. Hasil penelitian oleh TK Al Irsyad Al Islamiyyah Kabupaten Tulungagung menemukan bahwa nilai-nilai pendidikan toleransi telah diberikan kepada murid PAUD tersebut, Bentuknya berupa; a) Anak dikenalkan akan lima agama yang diakui di Indonesia beserta tempat ibadahnya; b) Anak diajarkan untuk selalu berbuat baik dan menghormati orang lain termasuk pada yang berbeda keyakinan; c) Anak diajarkan untuk menyapa teman, saudara, tetangga apabila bertemu dimana saja termasuk pada orang yang berbeda agama; d) Anak dibiasakan untuk senang menolong dan beriman bersama teman termasuk pada yang berbeda keyakinan.

Menurut Martje yang membuka sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Puspa Manado, menanamkan moral seperti ini penting bagi anak-anak supaya mereka kelak mudah beradaptasi ketika berada di lingkungan sosial yang lebih luas dan beragam. Ia mengajak siapapun untuk mengajarkan anak agar memiliki sikap menghargai setiap perbedaan.
Ia juga meminta orang dewasa di sekitar mereka bisa memberi penjelasan pada anak, bahwa saling menghargai merupakan sikap yang terpuji.

Pemikiran Toleransi Menurut Tokoh

Berbicara tentang toleransi di Indonesia, rasanya tidak lengkap bila kita tidak menggali pemikiran Buya Ahmad Syafi’i Maarif. Syafi’i dikenal sebagai tokoh lintas agama yang berjuang keras menggalakkan toleransi di Indonesia. 

Menurut Syafi’i, toleransi itu penting bagi Indonesia yang majemuk dalam banyak hal. Dalam bukunya, Islam dan Politik: Teori Belah Bambu, Masa Demokrasi Terpimpin, 1959-1965 (1996), dengan mengacu pada Piagam Madinah, Syafi’i menulis, “Sebuah bangsa dapat mengalami kehancuran bila toleransi sosial, agama, dan budaya tidak mantap” (hlm. 154).

Dua tahun terakhir, Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Bersama “Maarif Institute” telah melakukan studi, kajian, dan menyusun program bimbingan dan latihan  mengenai peran pengawas internal dalam penguatan ideologi Pancasila pada lingkungan pendidikan, khususnya satuan pendidikan atau sekolah dalam rangka merawat toleransi dan keberagaman. Program ini telah dirasakan manfaatnya, semoga upaya yang telah dilakukan oleh berbagai pihak dalam menjaga, merawat toleransi dan keberagaman dapat bermanfaat bagi kehidupan berbangsa.

(Dirangkum dari berbagai sumber)


Daftar Bacaan

1. Al-Ilmu Nuurun Buya Syafi’i Maarif: Membangun Islam Indonesia dengan Toleransi Oleh: Petrik Matanasi - 25 Mei 2018

2. Belajar Toleransi dari Suku Tengger, Rudi Sandjaya  19 Juli 2018 10.31 WIB

3. Lawan Politik Identitas dengan Dialog, Sekolah Katolik Hendrikus Kunjungi 3 Tempat Ibadah (VOAIndonesia 17/4/2019)

4. “Model Pendidikan Toleransi di Pesantren Modern dan Salaf” oleh Ali Maksum, Jurnal Pendidikan Agama Islam Volume 03, Nomor 1, Mei 2015. Hal. 83-108.

5. Penguatan Ideologi Pancasila Untuk Pengawasan Sekolah (Pembelajaran dari program Bersama Maarif Institute 2018-2019)

6. Pentingnya Mengajarkan Toleransi pada Anak, ANTARA, CNN Indonesia | Senin, 23/07/2018 09:56 WIB.

7. Pengutan Pendidikan Toleransi Sejak Usia Dini  (Menanamkan Nilai-nilai Toleransi Dalam Pluralisme Beragama Pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Di Kabupaten Tulungagung Tahun 2010) Oleh : Zaini.

8. Wikipedia Ensiklopedia Bebas.

 

======000000000=====

 

Tags

Toleransi