Dinamika Kampus Perlu Dicermati


UPAYA mewadahi dinamika kampus dengan menjunjung tinggi kebebasan akademik dan di sisi lain menjaga agar generasi penerus bangsa itu tidak terpapar atau terjerumus paham ekstrimisme perlu dicari titik keseimbangannya.

Dua dosen di lingkungan Universitas Gajah Mada (UGM) beberapa waktu lalu telah dimintai keterangan mereka oleh pimpinan, senat akademik dan Dewan Guru Besar perguruan tinggi tersebut terkait pandangan mereka tentang Pancasila.

Setelah pertemuan itu, menurut Kabag Humas dan Protokol UGM Eva Ariani (10/6), kasus kedua dosen, masing-masing menjabat kepala departemen dan kepala laboratorium, akan diserahkan kepada Dewan Kehormatan Universitas yang akan memberikan pertimbangan bagi pimpinan guna mengambil tindakan selanjutnya.

Tiga alumni FISIP Universitas Riau yang berencana melakukan aksi pemboman ke gedung DPR berhasil digagalkan Densus 88 di kampus tersebut awal Juni lalu, sementara BIN dalam riset yang dilakukan pada 2017 mencatat, 39 persen mahasiswa terpapar paham radikalisme, bahkan menyebutkan nama tiga perguruan tinggi negeri yang perlu diawasi karena dijadikan pusat penyebaran radikalisme.

“Sikap kami jelas. Dosen atau mahasiswa yang tidak setia pada NKRI dan Pancasila silahkan keluar, “ tandasnya seraya menyebutkan bahwa ia mendukung pimpinan Perguruan tinggi yang bertindak tegas di kampus masing-masing.

Mayoritas dukung NKRI

Sementara Saiful Mizani Research and Consulting (SMRC) berdasarkan hasil surveinya pada 2017 mengungkapkan, 79,3 persen penduduk Indonesia masih menginginkan NKRI adalah pilihan terbaik, sementara 9,3 persen menghendaki RI menjadi negara khilafah atau negara Islam.

Walau pun yang anti Pancasila cuma 9,3 persen, jika dihitung jumlahnya cukup banyak juga yakni sekitar 24 juta orang lebih dari jumlah penduduk Indonesia seluruhnya.

Peringatan terhadap gerakan radikalisme di kampus juga disampaikan oleh Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Moh. Nasir (10/6) lalu dengan meminta para pemimpin perguruan tinggi meonitor dosen dan mahasiswa yang terindikasi sudah terpapar paham radikalisme dan intoleransi.

Universitas Diponegoro sebelumnya juga mencopot jabatan struktural Guru Besar Fakultas Hukum Suteki yang diduga terindikasi paham radikalisme. Terduga pelaku tersebut dicopot dari jabatan struktural selama menjalani pemeriksaan dan persidangan kode etik.  (NanangS) 

 

Penguatan Pancasila

Sementara Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Hariyono di Jakarta (11/6) menilai, perlu penguatan nilai-nilai Pancasila dalam porsi yang relevan.

Aparat Sipil Negara (ASN), ujar Hariyono, hendaknya mengingat kembali sumpah setia mereka pada Pancasila saa diangkat menjadi pegawai negeri, dan saat dipercaya menduduki jabatan struktural mereka juga mengamalkan nilai-nilai Pancasila.

Untuk itu, Hariyono meminta pimpinan lembaga pendidikan agar terus memonitor kegiatan para ASN yang bekerja dalam institusi mereka. “Begitu ada kecenderungan menjurus ideologi yang bertentangan dengan Pancasila, bisa dilakukan pendekatan secara personal, “ tuturnya.

BPIP, lanjutnya, siap duduk bersama Kemdikbud, Kemristek dan Dikti, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan lembaga lainnya guna merumuskan cara pendekatan dan penguatan materi Pancasila.

Sedangkan Direktur Peace Generation Irfan Amalee berpendapat, indoktrinasi paham radikal di lingkungan pendidikan biasanya dilakukan melalui berbagai modus sehingga perlu penguatan pemahaman bagi dosen, guru dan siswa terkait cara-cara untuk menangkalnya.

Dari sisi perekrutan ada sejumlah narasi yang dilakukan kelompok radikal, mulai dari narasi politik yang mudah menarik remaja yang galau untuk melakukan jihad, ada pula yang mengunakan narasi historis sehingga perlu pengawasan pada para pendidik di bidang ini.

“Pendidikan sejarah harus membangkitkan “wisdom”, bukan malah menyulut dendam lama, “ tuturnya.

Irfan juga menyebut narasi lainnya yakni narasi psikologi dengan mengglorifikasi atau mengagungkan tokoh-tokoh yang melakukan teror atau aksi radikal, narasi instrumentasi yang menganggap kekerasan adalah satu-satunya solusi persoalan dan narasi keagamaan, dengan mencomot di sana-sini penggalan ayat suci.

“Akibatnya anak-anak semakin antusias bergabung dengan kelompok radikal, “ ujarnya.

Walau jumlahnya masih sedikit kelompok radikal memiliki nyali dan suara lebih keras dan vokal ketimbang mayoritas penduduk pendukung NKRI. Oleh sebab itu waspadalah!

Tags

radikalisme
ekstrimisme
kampus