DOA KELIRU UNTUK CORONA


 Dimana-mana musim corona membuat banyak orang hidup serba susah. Mau ke pasar membeli bahan makanan tidak punya uang, untuk mencari uang dengan cara berdagang juga tidak laku-laku karena semua orang harus dikurung di rumah.

“Pokoknya saat ini banyak yang susah tidur, bahkan ada juga yang sudah susah untuk bangun alias jiun akibat ketakutan penebaran virus corona”, demikian tulis Palui melalui WA kepada sahabatnya Garbus di kampung halamannya.

Garbus yang tinggal jauh di kampung di seberang lautanpun menyebarkan kabar itu kepada kawan-kawan yang lain, termauk rekan kentalnya Tuhlamak, Sudurajak dan Anang Gulali yang keseluruhannya tidak terlalu faham tentang perkembangan pandemik copid-19.

“Kalian tahu gak, corona itu mahluk apa sampai-sampai kawan kita si-Palui yang biasanya sakti dalam menghadapi ujian dunia sampai-sampai bertekuk lutut gak bisa tidur,”, tanya Garbus kepada Tuhlamak yang biasanya sok cerdas tapi selalu tong kosong nyaring bunyinya itu.

Lagi-lagi Tuhlamak berhayal sok tahu tentang corona yang dilukiskan sebagai wanita cantik  penghisap darah, semampai berambut panjang dan bermata tajam mirip duri ikan betok.

“Di Jakarta sekarang sudah dibanjiri mahluk corona kemudian beranak pinak menyesaki lorong-lorong gang, pasar, mal, perkantoran dan rumah sakit termasuk di tempat tinggal kawan kita si Palui,” kata Tuhlamak berbusa-busa menjelaskan kepada rekan-rekannya di suatu sore menjelang magrib.

Kerumunan di depan surau itu makin mengundang kehadiran warga lantaran Tuhlamak berpidato tentang corona mirip calon anggota legislatif yang biasa berkampanye.

“Kalau begitu kita undang saja mereka ke kampung kita, biar kalian ingat waktu dan tidak lagi main gaplek di pos ronda,” celetuk Anang Gulali, lelaki kurus kering yang selalu rajin berkeliling kampung berjualan gulali itu.

“Bagus, bagus sekali, biar yang duda-duda jablai seperti kamu mendapat jodohnya,” kata Sudurajak menimpal gak jelas alasannya.

Pembicaraanpun bertambah seru, mirip arena rembuk nasional yang diwarnai adu argumentasi dan intrupsi, sehingga kerumunan itu berhasil membuahkan kesepakatan bahwa akan dibuat rekomendasi kepada kepala desa untuk mengimpor corona ke kampung itu.

Tapi gagasan ngawur ini ditentang keras oleh kelompok emak-emak dan gadis-gadis setempat karena mereka khawatir bakal lebih banyak lagi terjadi perselingkuhan dan akan menumbuhkan pelakor-pelakor baru seperti ceritera di drama televisi abal-abal.

Perdebatan pun terhenti, ketika bunyi dering telepon menyentakkan kerumunan.

“Tenang, semua diminta tenang, ada  telepon dari Palui di Jakarta, mungkin  ada kabar penting terbaru”, kata Tuhlamak menebak.

“Hallo hallo, apa kabar Palui”, kata Tuhlamak sambil memperbesar nunyi suara handphone.

“Kabar baik”, terdengar suara Palui agak sedikit lirih.

Dalam bayangan Tuhlamak, Palui pasti sakit di perantauan karena susah tidur dan sebentar lagi susah bangun karena corona. Sampai disitu, bagi kelompok emak-emak dan gadis-gadis pasti akan berhasil mementahkan hasil musyawarah agar si-corona tidak jadi diundang datang ke kampungnya.

“Kok suaranya berisik sekali, apa ada yang kawinan,” terdengar lagi suara diseberang sana.

“Bukan,   ini kebetulan ada musyawarah akbar membahas isi WA kamu kemarin tentang si corona,” jawab Tuhlamak, sambil meminta penjelasan tentang perkembangan corona di Jakarta.

Palui memang piawai dalam mengolah kata-kata, walaupun hanya sekedar copy paste dari orang lain tentang data dan kabar terakhir menyangkut perkembangan corona di Jakarta, tempat perantauan yang tadinya dilukiskan penuh surga itu. Pokoknya si Palui terkenal mirip wartawan yang dijuluki  sebagai samudera kata-kata.

Palui mencoba memastikan kepada kawan-kawannya bahwa ia sehat wal afiat, namun tidak bisa keluar rumah karena ada larangan PSBB.  Banyak tetangganya yang sudah kurus kering karena keterbatasan makanan dan tidak ada lagi mata pencaharian lantaran dilarang berkeliaran diluar rumah. Masjid dan surau ditutup tidak ada lagi kegiatan solat berjamaah bahkan karyawan pemerintah dan murid sekolahpun dirumahkan.

“Pokoknya jangan mimpi dah pergi ke Jakarta, disini susah tidur dan tidak jarang yang sudah susah bangun,” kata palui.

“Lalu kalau begitu kamu makan apa?”, hampir serentak bersuara.

Biasalah, kalau sudah kemelut seperti itu si Palui handal dalam mengeluarkan jurus dramanya yang memungkinkan orang terhiba dan menitiskan air mata.

Jadi begini, memang betul aku sempat tidak makan beberapa hari tetapi tiba-tiba kawanan orang datang membagi-bagikan sembako. Antara sadar dan tidak sadar, Palui sempat bertanya kepada dermawan itu.

“Ini sumbangan corona pak, mudahan bapak bisa menyambung hidup”, kata Palui mengutip kembali pernyataan petugas. Palui pun sempat terfikir dalam hati  ternyata corona itu baik hati.

Belum lagi Palui meneruskan pembicaraan, tiba-tiba terdengah riuh mirip doa bersama dari kerumunan “terima kasih corona, mudah-mudahan selalu dekat dengan Palui”.(emte)