Dosen Bukan Satu-Satunya Sumber Ilmu


Jakarta, (Itjen Kemendikbud) – Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud,  Nizam menjelaskan dengan menghadapi dunia yang terus berubah, sudah sepatutnya kampus ikut menyesuaikan perubahan tersebut. “Pada esensinya jika kita menghadapi dunia yang berubah maka kampus harus berubah, tidak bisa diam. Saat ini  sumber ilmu yang diancang masih sepenuhnya bersumber dari dosen, padahal alangkah lebih baiknya mahasiswa mendapat sumber ilmu lain dari sumber manapun,” tuturnya.

Hal tersebut disampaikan oleh Nizam, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, pada webinar bertema “Menyongsong Kampus Merdeka bagi Universitas Swasta di Indonesia, Best Practice Telkom University dan Universitas Islam Indonesia” yang diselenggarakan oleh Telkom University.

Nizam turut memaparkan dampak perkembangan zaman yang membuat berbagai pekerjaan manusia kian tergantikan oleh otomasi yang cerdas dan canggih. “Setiap revolusi selalu menghapus banyak sekali pekerjaan manusia, digantikan oleh mesin. Di era ini pun pekerjaan mapan yang saat ini menjadi aktivitas manusia untuk bekerja digantikan oleh teknologi. Sehingga tidak heran McKinsey memprediksikan 23 juta pekerjaan akan hilang digantikan oleh otomasi dan sistem cerdas,” jelas Nizam.

Nizam katakan selama ini masih terjadi broken link antara industri dengan perguruan tinggi. Oleh karena itu diperlukan adanya revolusi pendidikan yang cocok dengan kebutuhan industri. “Jangan sampai terjadi broken link, Perguruan Tinggi dinilai tidak fit dengan dunia kerja, link and match tidak terjadi, karena dunia kerja berjalan dengan jalurnya sendiri mengutamakan efisiensi dan persaingan yang tinggi dengan melahirkan teknologi terbaik dan harga termurah. Sedangkan kampus mempersiapkan kompetensi saat ini. Untuk itu perlu dilakukan revolusi pendidikan, jika biasanya fit to industry dengan mempersiapkan sekrup-sekrup butuhan industri, kini mahasiswa punya jalan tangannya berbeda, dengan istilah student centered learning. Dosen tidak menjadi satu satunya ilmu tapi jadi co-creator bersama mahasiswa,” ujar Nizam.

Nizam turut berpesan bahwa gotong royong menjadi hal yang sangat penting, layaknya semangat lomba seperti panjat pinang pada acara 17 agustusan. “Gotong royong bersama memajukan bangsa, seperti semangat panjat pinang, senang melihat temannya sukses, sedih melihat temannya sengsara,” pesan Nizam.

Nizam lanjutkan, Kampus adalah tempat transisi dari dunia pendidikan ke dunia nyata atau dunia kerja. Jika bersama-sama digarap, maka tidak akan terjadi kesenjangan diantara keduanya. Sejatinya, spirit dari kampus merdeka ialah antara perguruan tinggi dengan dunia kerja.

“Jangan sampai lulusan perguruan tinggi tidak siap dengan dunia industri. Karena dunia kerja berkaitan dengan efisiensi dan membutuhkan skill. Cara mengatasinya adalah dengan melakukan revolusi di bidang pendidikan,” jelas Nizam.

Student center learning merupakan salah satu contoh revolusi pendidikan, dimana pusat pembelajaran tidak hanya terpaku pada dosen sebagai fasilitator sumber ilmu, namun juga mahasiswa harus siap berkreasi lintas keilmuan dan memiliki karakter yang kuat sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh perubahan global.

Nizam menyimpulkan bahwa semangat merdeka belajar: kampus merdeka dilakukan demi terwujudnya kreativitas generasi unggul, membuka ruang semesta belajar bagi mahasiswa, serta menggandengkan perguruan tinggi dan dunia nyata. Selain itu, kampus merdeka menjadi katalis terbentuknya ekosistem penta helix yang menjadikan perguruan tinggi sebagai mata air bagi industri, masyarakat, dan pembangunan bangsa.

Pada akhir paparannya, Nizam menyampaikan bahwa tujuan pendidikan adalah melahirkan insan merdeka yang berbudaya. “Manusia tidak hanya sekadar merdeka, tetapi merdeka dan berbudaya. Insan merdeka diwujudkan dengan berdikari, tidak bergantung pada orang lain, serta mampu menentukan masa depannya sendiri,” tuturnya.

Tags

dosen