Gara-Gara Burung


Kampung Selili memang dikenal dengan kampung para janda. Dari janda muda usia sepekan  sampai janda tua, tetapi kondisi ini tidaklah mengganggu kinerja pak Kadis Susanto Wibowo Mukti dalam memajukan kesejahteraan warga dengan membuka peluang lapangan kerja dari urusan asisten rumah tangga sampai kepada pekerjaan menjadi figuran bintang filem.

Jika dikumpulkan disebuah tanah lapang, 9 dari 15 warga adalah berstatus janda dan  lebih dari 75 persen diantaranya adalah janda muda. Dengan potret demografi seperti itu, pak Kades sering diledek rekan sejawatnya sebagai Kades kaya raya lantaran sering memfasilitasi sebagai penyalur janda, baik untuk dikawinkan ataupun urusan ekspor tenaga kerja ke Arab Saudi.

Bagi pak Kades Susanto Wibowo Mukti tidak terlalu pusing menanggapi gunjingan tetangga itu, apalagi urusan kawin cerainya lancar-lancar saja yang hingga saat ini sudah empat orang wanita cantik yang selalu setia mendimpinginya sebagai isteri sah. Jangan ditanya soal urusan penghasilan, karena saban hari ada saja uang mengalir ke koceknya dari hasil komisi jual beli tanah di desanya.

Dari segi penampilan pak Kades tergolong sebagai pria sejati, selain tampan juga atletis.  Cuma yang selalu menjadi misteri bagi warganya adalah kebiasaan pak Kades yang selalu pakai sarung dan sangat jarang memakai celana panjang kecuali diperintah untuk menghadap pak camat atau pak bupati. Satu lagi yang menjadi misteri adalah kebiasaan pak Kades yang selalu memperhatikan burung peliharaannya lebih urgen jika dibanding mengurus isteri-isteri maupun kepentingan warganya.

Burung peliharaan pak Kades beraneka ragam, dari jenis burung bersuara merdu seprti Kutilang,Cucuk Rowo,  Murai Batu, Love Bird, Tekukur sampai dengan berbagai  jenis burung yang tergolong sangar seperti burung elang pemakan bangkai dan Burung Hantu. Semuanya dipelihara dan dimanjakan pak Kades dengan baik sejak bangun pagi hingga menjelang tidur malam hari.  Bahkan sebagian besar staf kantor desa dikerahkan untuk ikut terlibat membantu pak Kades dalam urusan burung itu.

Suatu hari pak Kades terlihat murung dan gundah gulana. Tadinya sempat termenung sedih duduk dihalaman rumah kemudian  keluar dan masuk  lagi tanpa henti dengan wajah penuh duka. Isteri-isterinya seakan tak kuasa meredam kesedihan Pak Kades, walaupun sudah dengan berbagai cara menyapanya untuk menyingkap kegelisahan pak Kades.

“Ada apa sih, kok kang mas dari subuh terlihat sedih banget,” sapa isteri mudanya sambl membetulkan tink top yang sebenarnya tidak longgar-longgar amat untuk mencoba membuka tabir kesedihan pak Kades, tetapi tidak ditanggapi malah muka pak Kadis tambah kusut.  Melihat gelagat adanya ancaman dalam negeri itu, akhirnya para isteri pak Kades sepakat melakukan rapat terbatas darurat untuk mencari tahu penyebab kegundahan itu.

Dari bilik kamar yang menjadi tempat meeting para isteri pak Kades itu, sesekali terdengar suara cekikikan tetapi tidak jarang suara gaduh.  Karena semuanya menjadi moderator dan semuanya juga bertindak sebagai peserta rapat sehingga gaduhnya mirip pasar malam. Lama-lama mulai mengerucut tentang mencari tahu dugaan mengapa pak Kades bersedih hati, malah  diantara para isteri mencoba membedah lebih spesifik tentang peristiwa malam sebelumnya. “Jangan jangan kang mas  kecewa atas layanan kamu,” tunjuk isteri ketiga kepada isteri paling muda, tetapi isu itu terbantahkan karena tadi malam pak Kades malah tidur disemua kamar isteri-isterinya sampai pagi.

Akhirnya tidak ada rekomendasi atau kesimpulan apapun dari rapat darurat itu, kecuali hanya menunggu bagaimana perkembangan berikutnya tentang apa yang bakal dilakukan pak Kades berikutnya. Sorepun tiba, terlihat dihalaman rumah pak Kades dipenuhi undangan warga yang berjejal jejal memenuhi sudut ruang halaman luas itu.

Melalui pengeras suara toa, suara MC terdengar jelas “Sebelum yang kami muliakan bapak Kades memasuki tempat acara, mohon warga tidak berisik dan mematikan ring tone masing-masing”, demikian suara pembuka yang mengesankan bahwa acara tersebut terkesan sangat penting dan khidmat.

Tiba-tiba muncul sosok pak Kades Susanto Wibowo Mukti dengan wajah serius dan sesuai dengan namanya penuh wibawa berdiri diatas podium dengan tampilan khas berkain sarung. Setelah pidato berbasa basi, tiba-tiba pak Kades memancing perhatian hadirin.

“Susudara susudari, apakah kalian pernah melihat burung?, kata pak Kades agak nyeleneh, sontak saja dijawab aklamasi..”pernahhhhhh”. Lalu pak Kades bertanya lagi “apakah kalian pernah melihat burung saya?”, kali ini tidak ada jawaban kecuali suara cekikkan diantara kerumunan janda. “Saya ulangi lagi, apakah kalian pernah melihat burung saya yang bulunya lebat itu?, Tanya pak Kades mengulang dengan suara lebih tegas.

Tiba-tiba seorang janda muda mengangkat tangan dengan menjawab “pernah pak Kades,    waktu itu saya sedang melintas dan melihat bapak sedang duduk dipintu rumah dan sarung bapak terbuka lebar tertiup angina hingga kelihatan burungnya,” kata Samiatun bersemangat disambut suara gemuruh huhhhhhhhh dari para hadirin, sementara muka pak Kades berubah merah merona tersipu-sipu.

Suasana menjadi heboh ketika ke empat isteri pak Kades secara bersamaan menyerbu Samiatun sambil teriak-teriak “dasar kamu pelakor, dasar kamu pelakor dan……” seakan menghakimi, sementara puluhan petugas Pamong Praja mencoba melerai namun gagal hingga memaksa pak Kades melalui pengeras suara toa berteriak “harap tenang, tenang, jangan ribut, dengar saya bicara”.

Setelah suasana terkendali 86, pak Kades menceritakan maksud mengumpul warga tidak lain adalah ingin memberitahukan bahwa burung Murainya yang menjadi kesayangannya tadi pagi  lepas dari sangkarnya. (emte)

 

 

Tags

gara-gara burung