Gawai di Sekolah Dibatasi


KEMAJUAN teknologi tidak selalu bernilai positif jika tidak digunakan dengan benar, termasuk gawai yang mewabah  di kalangan anak-anak dan siswa sekolah yang belum menyadari dampak negatifnya.

Untuk itu, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sepakat membatasi penggunaan gawai di sekolah terutama demi  mencegah bahaya kekerasan terhadap anak-anak melalui medsos.

“Penggunaan gawai pada anak sudah harus dibatasi baik di rumah maupun sekolah. Orang tua, dan pendidik pada institusi formal maupun informal harus proaktif memantau serta memegang kendali atas penggunaan gawai anak maupun peserta didik, baik dengan pembatasan waktu maupun materi yang diakses, “ kata Menkominfo Rudiantara di Jakarta, Jumat (31/8).

Menurut dia, orang tua dan pendidik wajib mengarahkan anak-anak hanya bisa mengakses konten positif serta produktif yang tidak kalah banyak jumlahnya di dunia maya. Saat ini, setidaknya ada sebanyak 289 ribu situs positif yang masuk dalam white list Kominfo.

Sementara Menteri PPPA Yohana Yembise mengimbau agar masyarakat, khususnya orang tua dan anak serta semua satuan pendidikan, baik sekolah umum maupun madrasah, membatasi penggunaan gawai. 

“Gawai diperlukan hanya untuk mengunduh mata pelajaran tertentu saja, “ ujarnya.

Pembatasan penggunaan gawai, menurut dia, dimaksudkan untuk mencegah anak-anak mendapatkan informasi tidak layak seperti pornografi, radikalisme, kekerasan, berita bohong atau terkait SARA, selain mencegah agar anak-anak tidak kecanduan gawai.

Di era yang serba digital kini, penggunaan komputer dan smartphone di tengah keseharian memang membuat orang seperti tersihir dan mengakibatkan  tidak bisa terlepas dari produk  teknologi tersebut.

Padahal, menatap layar gawai terlalu lama berdampak negatif bagi kesehatan manusia, bahkan terlalu banyak menghabiskan waktu di depan layar TV, komputer atau gawai dapat menggandakan risiko kematian, kanker dan penyakit jantung pada orang dengan tingkat kebugaran rendah.

Berdasarkan hasil studi Universitas Glasgow, menghabiskan waktu memirsa TV atau menatap layar komputer bisa meningkatkan hampir dua kali lipat risiko kematian, kanker dan penyakit cardiovascular pada orang dengan tingkat kebugaran rendah.

Selain itu, penggunaan gawai tanpa mengenal waktu kadang-kadang juga merusak tatakrama, komunikasi dan interaksi antarmanusia, baik antara anak dan orang tua atau sebaliknya, antarindividu, juga etika.

Tidak jarang kita menyaksikan orang yang “sibuk” memainkan gawai di tengah diskusi kelompok, pertemuan keluarga, rapat di kantor, bahkan di tengah ritual keagamaan saat khatib atau penceramah naik mimbar.

“Apapun yang berlebihan, memang ujung-ujungnya menjadi mudharat” sehingga pembatasan penggunaan gawai pada anak-anak dan siswa selayaknya memang diatur. (NS)

 

 

Tags

gawai di sekolah
pembatasn gawai