IDAI Dan Jubir Copid-19 Perlu Saling Verifikasi


 Jakarta, (Itjen Kemendikbud) – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Juru bicara penanganan COVID-19 di Indonesia memerlukan saling verifikasi terkait jumlah kematian anak akibat wabah Copid-19 .

 Achmad Yurianto, menanggapi perihal pernyataan Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia yang menyebut angka kematian anak akibat Corona negara ini adalah yang paling tinggi dibanding negara Asia lainnya.

"Saya tidak tahu datanya dari mana ya," kata Yuri, seperti yang dikutip Liputan6.

Disebabkan gugus tugas tidak mengetahui IDAI mendapatkan data tersebut dari mana, Yuri enggan untuk menanggapinya lebih jauh.

"Bingung juga, (IDAI) datanya dari mana," Yuri melanjutkan.

Menurut Yuri, data yang terjangkit COVID-19 di Indonesia mengalir dari kabupaten kota menuju provinsi lalu ke nasional. "Di nasional, di Menkes ada, di gugus tugas ada," katanya.

Yuri menekankan bahwa data tersebut tidak menyebar ke pihak lain,"Makanya dia mengatakan buat data sendiri, saya bingung."

Sebelumnya, saat melakukan siaran langsung dengan salah satu media, Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia Aman Bhakti Pulungan, menyebut, angka kematian anak akibat COVID-19 di Indonesia adalah yang paling tinggi.

“Sebetulnya di Malaysia dan Singapura kasus pada anak tidak banyak dan tidak ada yang meninggal. Di kita, angka kematian anak adalah yang paling tinggi, bahkan mungkin di Asia,” ujar Aman dalam siaran langsung yang dilakukan pada Rabu, 20 Mei 2020.

Mengutip laman resmi IDAI idai.or.id disebutkan bahwa IDAI telah melaksanakan upaya deteksi kasus pada anak secara mandiri dan mendapatkan data, hingga 18 Mei 2020, jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 3.324 anak.

“129 anak berstatus PDP meninggal, 584 anak terkonfirmasi positif COVID-19, dan 14 anak meninggal akibat COVID-19,”

Menurut Aman, 14 anak yang meninggal akibat COVID-19 bukanlah angka yang sedikit. "Seharusnya tak boleh ada satupun anak yang meninggal."

Temuan ini menunjukkan bahwa angka anak yang terjangkit dan yang meninggal akibat COVID-19 di Indonesia terbilang tinggi. Temuan juga membuktikan bahwa tidak benar kelompok usia anak tidak rentan terhadap Virus Corona atau hanya akan menderita sakit ringan saja.