Inovasi teknologi di masa pandemi karya anak bangsa


Setahun telah berlalu sejak kasus covid-19 pertama di Indonesia diumumkan. Dimasa yang sulit ini, banyak hal yang telah terjadi di Indonesia dan dunia dalam bentuk baik dan buruk. Akan tetapi, dimasa pandemi ini tidak menghentikan inovasi dan teknologi untuk berkembang. Inovasi menurut KBBI adalah pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru; pembaharuan serta penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode, atau alat). Di Indonesia sendiri, anak bangsa dapat membuat inovasi teknologi yang membantu masyarakat luas dimasa pandemi ini.

Beberapa inovasi yang dikembangkan tersebut berupa alat pendeteksi covid-19. Alat-alat pendeteksi Covid-19 temuan ilmuwan Indonesia antara lain:

1. Non-PCR diagnostic test/ Rapid Detection Test (RDT) Covid-19

Alat ini dikembangkan oleh gabungan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Airlangga (Unair), Hepatika Mataram, Universitas Mataram, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjajaran (Unpad) dan sejumlah pelaku industri. RDT sendiri bekerja mendeteksi dengan cara meneteskan darah atau serum pada RDT dan hasil keluar dalam 5-10 menit. RDT kit didesain untuk lebih lebih peka dan lebih spesik terhadap orang Indonesia dibandingkan produk impor.

2. Rapid Test RI-GHA

Pembuatan rapid test RI-GHA dipimpin oleh Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Prof. Sofia Mubarika Haryana. Kepanjangan dari RI-GHA adalah Republik Indonesia – Gadjah Mada Hepatika – Airlangga karena adanya kerjasama dari UGM, Laboratorium Hepatika Mataram, dan Unair.

3. Rapid Test Antigen CePad

Merupakan hasil dari Unpad. Akurasi dari CePad adalah 91,5% dengan tingkat sensitivitas 82% yang menandakan bahwa CePad telah melewati ambang rekomendasi yang ditetapkan WHO yaitu 80% dalam mendeteksi covid-19. CePad mendeteksi covid dengan cara sample nasal swab dengan hasil 15 menit.

4. Covid-19 Detection KIT RT-LAMP

Diproduksi oleh PT Kalbe Farma. RT-LAMP adalah alat pendeteksi covid-19 dengan menggunakan sampel saliva sebagai tolak ukur dengan hasil kurang lebih 1 jam. RT-LAMP sendiri dikatakan mampu mendeteksi varian covid-19 yaitu virus SARS-CoV-2. RT-LAMP mempunyai akurasi sebesar 98% dengan tingkat sensitivitas sebesar 94%.

5. Genose

Merupakan alat pendeteksi covid-19 yang dikembangkan olleh peneliti UGM. Genose bekerja dengan memanfaatkan hembusan yang kemudian dikombinasikan software Artificial Intelligence (AI) untuk mempercepat deteksi covid-19. Genose sendiri telah banyak digunakan ditempat umum seperti stasiun kereta. Genose memiliki harga yang murah yaitu dikisaran 15 ribu hingga 25 ribu dengan hasil keluar kurang dari 3 menit.

6. I-Nose Alat pendeteksi covid-19 yang dikembangkan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Merupakan alat pendeteksi covid-19 pertama didunia yang mendeteksi melalui bau keringat ketiak. I-Nose telah bekerjasama dengan pemprov Jawa Timur dalam pengembangan AI.

7. Mobile laboratorium Bio Safety Level-2 (BSL-2)

,

Merupakan laboratorium mobile yang dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Memiliki fitur diantaranya memenuhi standar WHO (BSL 2 ), memiliki Biosafety Cabinet Level II A2, mencegah virus menginfeksi penguji, ruang utama bertekanan negatif, mencegah virus keluar ke lingkungan, memiliki autoclave (alat pemusnah limbah). Ditujukan untuk memudahkan pelaksanaan uji test PCR diberbagai daerah.

Tidak hanya menciptakan alat pendeteksi covid-19, karya anak bangsa yang berikutnya bertujuan untuk membantu proses pengobatan pasien covid-19 di Indonesia, yaitu:

1. Ventilator

Ventilator berfungsi untuk membantu dan menunjuang pernapasan. Ventilator sendiri menjadi barang yang sangat penting dimasa pandemi untuk membantu pasien covid—19 yang memiliki gejalan kesulitan bernafas. Ventilator karya anak bangsa yang pertama adalah Ventilator Portable Vent-I yang dikembangkan oleh BPPT. Alat tersebut merupakan ventilator portable yang berbasis bagging bag (ambu bag). Yang kedua adalah Emergency Ventilator yang dikembang oleh ITS. Emergency ventilator dikembangkan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan ventilator untuk rumah sakit. Selanjutnya adalah Ventilator Transport Covent-20 yang dikembangkan oleh Universitas Indonesia (UI). Dan terakhir adalah GERLIP High Flow Nassal Canula (HFNC) -01 yang dikembangkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang berfungsi untuk mencegah pasien agar tidak sampai gagal nafas dan tidak harus diinkubasi menggunakan ventilator invasif dengan cara memberikan terapi oksigen beraliran tinggi.

2. Disinfektan dan Sterilisasi Alat Kesehatan

Karya anak bangsa yang berikutnya bertujuan untuk membantu membersihkan alat atau benda. Yang pertama adalah Ozzon Nanomist yang dikembangkan oleh LIPI. Ozzon Nanomist merupakan disinfektan dalam bentuk butiran uap air yang mengandung ozon nanobubble water. Butiran uap air akan menangkap dan melenyapkan virus dan bakteri yang ada di udara dan permukaan benda. Selanjutnya adalah lemari kabinet sterilisasi UV-C. merupakan lemarin pintar yang dipasang pemanas dan sinar UV-C yang digunakan untuk mensterilkan barang barang disekitar lemari.

3. Vaksin dan obat terapi

Indonesia mampu meciptakan 2 vaksin covid-19 yaitu vaksin Nusantara yang dkembangkan oleh eks Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dan vaksin merah putih yang dikembangkan oleh Unair. Untuk vaksin asal Indonesia, diharapkan kedua vaksin tersebut dapat digunakan secara luas pada tahun 2022. Berikutnya ada 2 obat terapi yang menjadi inovasi dari anak bangsa. Yang pertama adalah terapi plasma konvalesen yang bekerja dengan cara mengambil plasma darah pasien covid-19 yang sudah sembuh lalu diberikan kepada pasien yang masih terinfeksi. Yang kedua adalah terapi mesenkial sel punca dan ekosom yang bekerja dengan mengganti sel yang sudah mati dengan sel baru.

Karya anak bangsa terakhir yang akan dibahas dalam artikel ini adalah inovasi robot yang yang digunakan untuk membantu menangani covid-19 di Indonesia. Ini menandakan bahwa Indonesia tidak perlu tergantung kepada robot impor dikarenakan anak bangsa dapat membuat robot yang mumpuni untuk membantu pasien covid-19 dan perawat di rumah sakit.

4. Robot Medical Assistant ITS-Unair (RAISA)

Adalah robot dibuat dengan kerjasama antara ITS dan Unair. Robot Raisa bertugas untuk memberikan pelayanan kepada pasien covid-19 yang diisolasi seperti mengantar makanan, pakaian, dan obat-obatan.

5. Robot Raisa Generasi Baru

Adalah robot hasil kerjasama ITS dan Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA). Raisa generasi baru sendiri berbeda dengan yang sebelum dimana Raisa generasi sekarang bekerja di 2 tempat yaitu ruang Intensive Care Unit (ICU) dan ruang High Care Unit (HCU). Raisa HCU memiliki sensor denyut jantung, infus, dan saturasi oksigen untuk. Untuk Raisa ICU, robot tersebut focus untuk melakukan pengamatan dan memantau kondisi vital pasien covid-19 ICU yang pasif dan tidak sadarkan diri. Robot Raisa generasi baru dibuat untuk mengurangi impor teknologi dari luar negeri dan agar tenaga medis dapat bekerja dengan aman.

6. Robot Ultra Violet ITS-Airlangga (VIOLETA)

Adalah robot hasil kerjasama antara ITS dengan RSUA. VIOLETA memiliki fungsi untuk mensterilkan ruangan untuk perawatan pasien covid-19 menggunakan sinar ultraviolet (UV). VIOLETA dibuat dengan tujuan untuk menghindari kontak fisik langsung dengan sinar UV karena sangat berbahaya bagi manusia jika terkena secara langsung.

7. Robot IVANA

adalah Robot hasil dari Institut Teknologi Telkom Surabaya (ITTS). Ivana memiliki 8 fungsi yaitu: mensterilkan ruangan, membawa makanan, menyemprotkan disinfektan dengan nozzle, mengumpulkan cairan dengan wiper, menyedot cairan dengan vacuum, mengeringkan lantai dengan spons pembersih, menyemprotkan udara kering dengan blower, mensterilisasi lantai dengan bottom ultraviolet, dan mensterilisasi virus di ruangan dengan vertical UV.

8. Robot KECE

Adalah hasil kolaborasi dari mahasiswa, dosen, dan alumni dari Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Surabaya. KECE memiliki 4 fungsi, yaitu: mengantar makanan, mengantar alat medis, mensterilkan ruangan, dan drone menyemprot disinfektan.

9. Robot SPERO

Adalah robot hasil dari Universitas Kristen Petra Surabaya. Memiliki fungsi untuk membawa obat atau makanan sehingga mengurangi interaksi langsung antara pasien dan perawat. SPERO dapat dikendalikan secara jarak jauh via internet oleh perawat dan dapat menfasilitasi komunikasi jarak jauh (video conference) antara pasien dan perawat. SPERO memiliki keunikan diantara robot lainnya dimana SPERO adalah open source yang arti semua file terkait SPERO dapat diakses oleh siapapun sehingga diharapkan hal ini dapat memicu inovasi inovasi lainnya.