ISYARAT MISTERIUS


Umanya Aluh, isteri Palui sudah putus asa mengobati suaminya yang dalam dua bulan terakhir tidak mau bicara, tidak mau makan, tidak mau keluar kamar dan tentunya tidak mau dijamah isterinya di tempat tidur.  Matanya hanya melotot menerobos langit-langit kelambu yang sudah dua tahun menjadi saksi bisu setelah melalui masa bulan madu.

Dukun berganti dukun, mantri berganti mantri dan banyak orang pintar sudah angkat tangan membantu kesembuhan Palui.  Yang ada adalah hampir semua orang sakti menyimpulkan bahwa Palui hanya menunggu waktu untuk berpindah kealam lain.

Kegundahan ini membuat Umanya Aluh makin hari makin resah. Tubuhnya yang tadi sintal bagai dodol ketan dan kulit yang putih halus laksana sutera sudah berubah kusam, padahal usianya masih muda ibarat mangga sedang ranum menunggu matang.

“Duhai nasib ku malang benar, hanya kakanda yang menjadi tempat mengadu berbagi suka dan duka”, demikian ungkapan kesedihan Umanya Aluh  melalui tulisan  tangan menggunakan arang dapur di balik dinding yang dengan mudah terbaca oleh suaminya.

Tapi pancingan melalui luahan hati itu tidak mempan menggeser sorotan mata suaminya yang tetap saja melotot menerobos langit-langit kelambu. Hari berganti hari kemudian berganti minggu dan bulan belum juga ada perubahan.

Tiap malam Umanya Aluh meratapi tangisnya disisi sang suami, air mata berlian yang selalu membasahi pipinya tidak mampu mengembalikan ranumnya pipi yang dahulu sering di puja-puji suaminya. Sesekali dia raih tangan suaminya kemudian berpindah melalui pijatan paha…lalu dst dst dst ……namun suaminya tetap tidak bergeming.

Umanya Aluh makin putus asa, padahal dahulu sebelum suaminya sakit, malah dia yang kewalahan menghadapi luapan rasa cinta kasih suami, apalagi setelah pulang kerumah setelah seharian berjualan membawa segepok uang receh.

“Duhhh, ada gak y acara paling jitu agar suara bathin ku bisa didengar kakanda ku yang malang ini,” gumannya dalam hati berulang-ulang sambil mengusap muka suaminya yang terlihat makin kaku, kurus dan tidak ada lagi pancaran jiwa yang tumbuh bergelora.

Banyak sudah saran dan nasihat orang lain untuk mengembalikan kesehatan Palui yang lagi sekarat itu, termasuk saran nyeleneh dari dukun asal kampung Ujung Rambut yang meminta Umanya Aluh menggantungkan baju daster dan celana dalamnya dipinggiran kelambu dengan maksud memancing gairah suaminya kembali.

Itupun tidak mempan dan bahkan memperparah keadaan bagaikan senjata makan tuan, karena Umanya Aluh sering merimajinasi sendiri  menerawang jauh sambil melihat daster yang pernah menjadi saksi bisu tentang betapa panas dan gemuruhnya suasana cinta kasih dengan suaminya dahulu sebelum sakit.

Siang itu, kesehatan Palui makin memburuk. Suasana rumah dipenuhi riuh rendah dan tangis kesedihan. Hampir semua warga kampung berkumpul memenuhi rumah dan halaman yang luas itu. Suasana siang itu makin dramatis mirip senetron TV  yang sangat-sangat lebay. Ada yang membisikkan kalimah tauhid di telinga kanan Palui, ada yang membaca surah Yasin, ada yang meraung-raung menangis dan ada juga yang terkesima namun tak sengaja melelehkan air mata.

Detik demi detik jantung Palui hampir-hampir sudah tidak berdetak lagi menandakan maut sudah berada di ujung ubun-ubun. Tiba-tiba seorang lelaki yang bersarung kotak-kotak, berpici tinggi dan berjenggot tebal yang sejak awal selalu berbisik ditelinga Palui, bangkit dari duduknya.

“Mohon tenang, mohon tenang, ada sesuatu yang harus aku sampaikan pesan Palui untuk kita semua, khususnya kepada isterinya Umanya Aluh”, ucap lelaki itu sangat berwibawa.

Mendengar interupsi yang mengejutkan itu, se isi rumah hening seketika bagaikan kura-kura disiram air es. Tidak ada lagi mulut yang kumat kamit, tidak lagi ada suara apapun kecuali seluruh mata tertuju kepada lelaki itu.

Suasana makin tegang, ketika lelaki tadi berbisik-bisik sangat serius dengan Umanya Aluh, sementara seluruh yang hadir makin penasaran tentang apa yang mereka bicarakan. Terkadang mereka berdua mengangguk-angguk tetapi juga terlihat dengan bahasa isyarat yang susah dimengerti. Keduanya kemudian bergeser mendekati tubuh Palui yang masih terbujur kaku.

“Sodara, sodara, Sebelum semuanya berakhir, ada baiknya kita bertanya kepada Bang Palui yang barangkali ada permintaan terakhirnya”, ujar lelaki tadi, menambah suasana makin mencekam.

Suara keras tiba-tiba memecahkan keheningan suasana rumah duka, ketika seorang lelaki yang berdesakan di jendela mengatakan bahwa dirinya  ikhlas merelakan utang-utang Palui, lalu ada lagi perempuan cantik yang posisinya hampir terjepit dipinggir pintu berteriak tidak keruan kecuali suara “aku rela bang, aku rela bang”.

Kini tibalah di ujung drama itu, ketika sang lelaki bersuara lirih “Bang Palui, adakah sesuatu yang abang minta untuk terakhir kali, kami akan berusaha mengabulkannya”, Suasana kembali hening, kemudian diulang lagi ucapan yang sama berkali-kali.

Entah siapa yang menggerakkan, tiba-tiba tangan Palui terangkat perlahan dengan  ibu jari dan telunjukkanya merapat bergerak mengisyaratkan sesuatu. Tidak banyak yang faham apa makna isyarat itu kecuali sang lelaki yang sejak lama menjadi sahabat Palui.

Gerakan jempol dan telunjuk mirip dengan seseorang untuk mengetakan “duit”, karena itu diberikan uang segepok berwarna kemerah-merahan, namun tangannya menolak tetapi tetap saja jempol dan telunjuk bergerak-gerak mengisyaratkan sesuatu yang dipinta.

“Barangkali beliau minta tasbih untuk berzikir,” kata seseorang diantara kerumunan yang memadati rumah makin pengab itu. Untaian tasbih pun diberikan, namun menjeleng sampai menyentuh tangan Palui, lagi-lagi terlihat isyarat penolakan.

“Diberi uang sudah, diberi tasbih sudah, duhhhh apalagi ya yang bisa memenuhi permintaan terakhir Bang Palui”, kata Umanya Aluh yang sudah makin sembab karena tangis.

Tiba-tiba lelaki tadi berbisik dengan Umanya Aluh membuat suasana se isi rumah makin tegang, namun tidak berlangsung lama tiba-tiba suasana mencair karena melihat isteri Palui mulai sumringah.  Bersamaan dengan itu, lelaki tadi menyampaikan permohonan maaf akan melakukan tindakan terakhir dengan cara menutup kelambu dan hanya isterinya yang boleh masuk.

Adegan paling dramatis pun berlangsung, sementara pengunjung hanya bisa dag dig dug menduga-duga tentang apa yang nantinya terjadi dibalik kelambu. Pemandangan erotis dibalik kelambupun terlihat samar-samar ketika isterinya berada sangat dekat dengan muka suaminya, sementara bagian atas daster dibuka perlahan-lahan sambil menyodorkan sesuatu bersamaan dengan menarik tangan suaminya untuk membiarkan meraba dan memelintirnya.

Baaaaanggggggggggg, hanya suara  itu yang terdengar dalam kelambu, kemudian kelambu disingkap lagi bersamaan dengan sembuhnya Palui dari penyakit misterius . Tidak ada satupun yang tahu apa obat mujarab yang diberikan, kecuali isterinya.(miskudin Taufik)