KAWIN KREDIT


Baliho ukuran besar bertuliskan “Kang Iwan Tukang Sunat Manjur”  akhirnya dirobohkan warga kampung. Padahal dahulunya pernah menjadi icon warga setempat, karena saking terkenalnya sekali klik saja  di google map langsung  mengarah ke pusat persunatan dan perburungan itu.

Pemiliknya Kang Iwan, jebolan sekolah perawat yang belum sempat tamat namun karena kepiawaiannya mampu beriwirswasta sendiri dengan mendirikan rumah sunat spesialis. Pengguna jasanya tidak hanya anak-anak tetapi lebih banyak kalangan dewasa yang datang dari berbagai penjuru negeri.

Entah jimat apa yang dipergunakan, Kang Iwan berhasil sukses. Melalui riset yang pernah dilakukan para pakar seksologi menyimpulkan praktik sunat yang dilakukan Kang Iwan terkenal manjur dalam urusan pembentukan “burung” dari tadinya burung pipit bisa dirubah menjadi burung garuda. Bisa besar, bengkok, bergerigi atau apa saja yang dikehendaki pasien bisa dibuatnya.

Tapi namanya nafsu serakah tidak dapat dibendung, Kang Iwan mencoba melakukan terobosan baru melalui jasa paling inovatif yang belum pernah terfikirkan kalangan saudagar sebelumnya,  yakni bisnis perkawinan dengan cara kredit. Bisnis ini mungkin yang pertama di dunia. “Naikin dulu baru bayar”, demikian jargon bisnis yang sengaja dikemas mirip marketing penjualan motor.

Perselingkuhan antara bisnis sunat dan bisnis kawin kredit tanpa ijin itu, dengan cepat berkembang meledak-ledak. Tapi Kang iwan masih belum puas begitu saja, walaupun pasien yang memohon untuk menjadi costumernya sudah antri mirip daftar ONH  yang naik haji.

Jika tadinya tempat praktek hanya terdiri beberapa kamar, Kang Iwan berhasil membangun puluhan kamar mirip bangunan perhotelan untuk menampung calon pasien yang datang dari jauh. Sayap bisnis kang Iwan inipun maju pesat, sehingga catatan statistik tidak hanya mengalami kenaikan meledak-ledak tetapi terjadi perkembangan luar biasa. Jumlah pasien yang datang tercatat puluhan kali lipat dari jumlah warga setempat, lantaran hanya sedikit merubah jargon dari sebelumnya “naikin dulu baru bayar” ditambah kalimat “semua serba all in”.

Setelah semuanya dinilai sukses, Kang Iwang dengan pamer mempraktekan kehandalan bisnisnya dengan memborong empat perempuan sekaligus untuk dikawininya secara kredit. Konyol memang bisnis ini, namun nyatanya banyak perempuan yang juga antri untuk dijadikan bahan kredit.

Yang lebih aneh lagi, keempat perempuan yang dinikahi Kang Iwan melalui proses kawin kredit itu, seluruhnya bertekuk lutut. Setiap Kang Iwan masuk kamar menunaikan hajat dengan isteri-isterinya, ibarat pertandingan bola selalu saja Kang Iawan menang telak 5-0.

“Kang Iwan, sudahlah jangan fikirkan lagi soal uang kredit kawin itu, aku ikhlas menyedekahkan sisa semuanya”, kata isterinya sambil kelepek-kelepek disetiap akhir pertandingan. Kang Iwan pun merasa puas dan untung luar biasa, namun kemudian tiba-tiba tersentak dan terbangun dari mimpinya menjelang kembali ke profesi asalnya sebagai tukang solder.(emte)