Kecakapan Lulusan SMK Belum Matching dengan Industri


PEMERINTAH terus berupaya mengembangkan keahlian vokasi untuk memenuhi tantangan Revolusi Industri 4.0, namun persoalannya, revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan belum signifikan menghasilkan lulusan yang memenuhi standar tuntutan lapangan kerja.

Seperti yang disampaikan General Manager Corporate Communication PT Astra Honda Motor (AHM) Ahmad Muhibuddin di Jakarta, Jumat (28/9), masih ada kesenjangan antara kemampuan lulusan SMK dan kebutuhan industri, khususnya dalam pemanfaatan teknologi baru.

Ia mencontohkan, industri kendaraan roda dua saat ini sudah menggunakan teknologi sistem pengapian melalui injeksi, sementara di sejumlah sekolah kejuruan masih diajarkan penggunaan karburator.

Untuk mengatasi kesenjangan itu, menurut Ahmad, AHM mengandeng sejumlah SMK dengan memasukkan kurikulum tehnik sepeda motor sesuai tuntutan industri, sehingga dari program yang sudah dilakukan di 667 SMK sejak 2010,  hampir seluruh operator baru AHM direkrut dari SMK mitra binaan.

Hal senada disampaikan Ketua Forum Asosiasi Pengusaha Jawa Timur Nurchahyudi yang mengungkapkan, para pelaku usaha kayu olahan di daerahnya masih lebih banyak mempekerjakan lulusan SMA, karena lebih mudah didapat ketimbang lulusan SMK.

“Hanya untuk jenis pekerjaan tertentu yang menuntut keahlian khusus seperti mekanik, elektrik atau teknologi informasi, baru kami memilih tenaga lulusan SMK, itu pun dalam jumlah terbatas, “ tuturnya.

CEO Bukalapak Achmad Zaki juga menilai, kompetensi jebolan SMK belum sesuai dengan yang dibutuhkan industri sehingga pihaknya juga tidak banyak menyerap tenaga tamatan SMK kecuali untuk keahlian desain dalam jumlah kecil, sedangkan untuk enjineering atau rekayasa belum ada sama sekali.

Sementara Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemdikbud Hamid Muhammad sebelumnya juga mengatakan, pihaknya tengah menyiapkan sejumlah bidang pembelajaran baru terkait teknologi 4.0 seperti virtual reality (realitas maya), 3D printing, desain komunikasi visual, e-commerce (bisnis daring) dan augmented reality atau realitas tertambah.

Sedangkan terkait strategi untuk mengantisipasi teknologi informatika yang terus berkembang, menurut dia, dilakukan dengan memasukkan bidang-bidang baru tersebut dalam jurusan  terkait mulai tahun ini, seperti teknologi informasi  dan komunikasi, elektronika, mekatronika dan bisnis pemasaran.

Pihaknya juga tengah menyiapkan kurikulum baru dan tenaga pendidik dengan kompetensi yang sesuai termasuk melakukan sertifikasi terkait kompetensi mereka.

Kerjasama di Kawasan

Di Asia Tenggara, jalinan kerjasama melalui Organisasi Menteri-menteri Pendidikan ASEAN (SEAMEO), menurut Hamid, terus ditingkatkan demi menunjang penguasaan bidang-bidang pembelajaran baru.

Hamid berharap, sejumlah sekolah sudah akan mulai menjalankan bidang pembelajaran baru pada 2019, sedangkan pemerintah juga siap mengintervensi pembiayaan bagi sekolah-sekolah yang sudah siap.

Empat program revitalisasi SMK yakni penyelarasan 142 kurikulum dengan kebutuhan industri, peningkatan kompetensi guru, sertifikasi lulusan SMK dan kerjasama terkait program magang dan perekrutan dengan kalangan industri juga terus digulirkan.

Pengiriman 20 siswa terbaik dari 10 SMK dari seluruh Indonesia ke Pabrik Casio, Thailand, Oktober nanti dalam upaya meningkatkan kompetensi mereka di bidang sains, teknologi dan rekayasa merupakan salah satu contoh kerjasama yang digalang dengan pelaku usaha atau industri.

Wakil Direktur Eksekutif Casio Computer Hiroshi Nakamura mengungkapkan, sekitar 2.000 siswa akan dikirim bertahap, dan 9.000 guru akan dilatih dalam program pemanfaatan teknologi.

Peningkatan kompetensi siswa dan tenaga pengajar adalah keniscayaan dan harus dilakukan bersama-sama oleh pemerintah dan swasta melalui sinergi antara institusi pedidikan, pelaku usaha termasuk industri serta seluruh pemangku kepentingan lainnya.

Di tengah persaingan ketat menyongsong Revolusi Industri 4.0, tidak ada cara lain bagi bangsa ini selain terus mengasah potensi kemampuannya. (Kompas/NS)