KKI 2018 untuk Rumuskan Strategi Kebudayaan


K0NGRES  Kebudayaan Indonesia (KKI) 2018 akan digelar di Jakarta, 5 – 9 Desember guna merumuskan penyusunan strategi kebudayaan, sekaligus menandai 100 tahun event Pengembangan Kebudayaan Jawa (Congres voor Javaansche Cultuur Ontwikkeling) yang diselenggarakan di Kepatihan Mangkunegara, Surakarta pada 5 Juli, 1918.

Berbeda dengan KKI-KKI sebelumnya yang hanya menampilkan sejumlah makalah, KKI 2018 akan menampung urun rembug dan berbagai pandangan mengenai bentuk ekspresi kebudayaan kreatif.

Sejauh ini sudah dilakukan penjaringan isu-isu terkait Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) dari 206 kabupaten/kota dan 24 provinsi dimana temuan-temuan yang diperoleh akan digunakan untuk memfokuskan arah usaha pemajuan kebudayaan.

Pemajuan kebudayaan diamanatkan dalam UU Nomor 5 Tahun 2017 sebagai upaya untuk meningkatkan ketahanan budaya dan kontribusi budaya Indonesia di tengah peradaban dunia, melalui perlindungan, pemanfaatan, pengembangan dan pembinaan kebudayaan.

Obyek Pemajuan Kebudayaan (OPK) a.l. mencakup bahasa, manuskrip, adat istiadat, ritus, tradisi lisan, olahraga dan ilmu pengetahuan tradisional, seni, permainan rakyat dan cagar budaya antara lain akan menjadi pokok bahasan dalam KKI 2018.

Persoalan yang dihadapi upaya pemajuan budaya, menurut anggota Tim Penyusunan PPKD Ditjen Kebudayaan, Kemdikbud, Alex Sihar Purnawan,  a.l. belum terintegrasinya kajian OPK di daerah dengan praktik-praktik nyata OPK, sedangkan pengelolaan interaksi antarbudaya dalam upaya pengayaan keragaman OPK juga masih rendah.   

Sedikitnya jumlah pelaku budaya yang membidangi tiap-tiap OPK juga menjadi salah satu kendala yang dihadapi program pembinaan SDM dan lembaga terkait OPK, belum lagi akibat terbatasnya regulasi terkait pengaturan budaya, mengingat sektor pembangunan belum menempatkan pemajuan kebudayaan sebagai prioritas.

Sedangkan Dirjen Kebudayaan Kemdikbud Hilmar Farid mengemukakan, ekspresi-ekspresi budaya yang muncul menjadi bagian integral KKI 2018 yang diharapkan akan menjadi pesan kuat bagi upaya memajukan kebudayaan, sehingga para pemangku kepentingan tidak terjebak pada hal-hal rutin, tetapi mampu memotivasi kreasi baru.

Jadi, berbagai ekspresi budaya yang ditampilkan dalam KKI 2018 nanti diharapkan bukan sekedar tempelan, hiasan atau pemanis untuk membuat suasana pertemuan lebih semarak atau meriah, melainkan merupakan wujud kebudayaan itu sendiri.

Sejumlah Kongres Budaya yang digelar pada era pra-kemerdekaan RI ‘45 (1919, 1924, 1926, 1929, 1937) masih kental dengan nuansa kedaerahan dengan mengedepankan bahasan terkait budaya suku terbesar seperti Jawa, Sunda dan Jawa Timur plus Madura. Hanya dalam kongres yang digelar pada 1937 disinggung penggunaan Bahasa Indonesia.

Pada pasca kemerdekaan RI juga digelar beberapa kali kongres kebudayaan (1948, 1951, 1954, 1957 dan 1960), kemudian pasca Orde Baru pada 1991, 2003 dan 2008 dengan ruang lingkup bahasan budaya bangsa Indonesia sesuai persoalan yang dihadapi pada masing-masing era.

Selain diikuti para tokoh, cendekiawan, budayawan dan para pemangku kebudayaan lainnya, KKI 2018 akan dimeriahkan oleh sekitar 10.000 penampil seni-budaya dan pawai diikuti 75.000 peserta dari seluruh provinsi Indonesia.

“Budaya menunjukkan bangsa, sehingga jika bukan kita, siapa lagi yang akan memajukan dan melestarikannya” (nanangs)

 

 

 

 

Tags

Kongres Kebudayaan Indonesia 2018
KKI 2018
Penyusunan Pemajuan Kebudayaan