Kopi Rasa Neng Mila


Entah kenapa warung kopi yang satu ini selalu saja membludak, padahal warungnya terlihat sempit dan pengunjung harus rela berhimpit-himpitan hanya sekedar bisa bertatap muka dengan sang barista yang sering dipanggil dengan nama Neng Mila.

Entah karena alasan si pelayannya cantik atau memang cita rasa ramuan kopinya yang mampu bersaing dengan café kelas atas,  namun yang jelas satu sama lain diantara pengunjung memberi jawaban yang beda-beda,. Bahkan  bagi mereka yang selalu terkesima dengan kemolekan Neng Mila selalu bilang “jangankan dicampur tiga sendok gula, tanpa gulapun kopinya tetap manis”.

Sebagai juru jual sekaligus peracik kopi, Neng Mila tergolong sukses menarik pelanggan dengan berhasil menghadirkan berbagai strata sosial yang beraneka ragam, baik dari segi kelompok profesi, usia maupun status sosial seluruhnya

Sesekali Neng Mila menebar senyum manisnya kepada seluruh pelanggannya sambil meracik kopi “mautnya”. Ketika dalam episode ini, muncul aroma ganjen dadakan bagi setiap pengunjung dengan satu sama lain pasang aksi agar kerenyahan senyum Neng Mila terhenti kepadanya.

Bagi mereka yang merasa kalah bersaing merebut simpati Neng Mila, terkadang bertingkah diluar pakem dengan memain-mainkan sendok dimulut sambil unjuk muka memelas.  Tindakan ini seakan menjadi modus, karena faktanya Neng Mila selalu terkesima berlama-lama dan tidak jarang mengundang rusuh lantaran si pria ganjen tiba-tiba ketelan sendok.

Belakangan sajian kopi sudah melegenda se-antero negeri bahkan sudah menjadi jenis minuman sejuta umat.  Kopi menjadi komoditas perdagangan utama sejak  abad ke-11 dan menurut catatan sejarah kopi ditemukan pada abad ke-9 oleh orang Ethiopia yang ditanam  di dataran tinggi. 

Kopi juga memiliki beragam jenis, seperti kopi Robusta, Jawa, Kopi Arabica  dan lainnya.  Dari segi harga juga variatif tergantung kualitas jenis kopinya.  Harga kopi Luwak asal Sumatera misalnya, bisa saja menyentuh sampai jutaan rupiah. Cara meracik dikalangan barista pun turut menentukan harga tersendiri.

Tapi bagi Neng Mila, jenis kopi dan cara meracik tidaklah terlalu penting. Buktinya sejak warung dibuka sampai tengah malam tidak pernah sepi dari pengunjung, bahkan tidak jarang diantara pelanggan selalu saja menyelipkan uang segepok asalkan mendapat sedikit kasih sayang darinya.

Diantara pelanggan setianya sebut saja Bang Udin, selalu hadir setiap pagi, siang dan sore mirip orang lagi minum obat cacing tiga kali sehari. Bagi Bang Udin rasa kopi tidak terlalu penting asalkan bisa bertatap mata  dengan Neng Mila, maka dunia terasa sudah milik dia.  Apalagi ketika melihat lemah gemulainya Neng Mila pada saat mengantar cangkir kopi,  jantungnya makin gedebak-gedebug bagaikan suara bom meledak.

Suatu hari Bang Udin hadir bersama  segerombolan kawan-kawannya hingga otomatis tidak mendapat tempat duduk strategis untuk berimajinasi menikmati kecantikan si pemilik warung.  Tapi dasar piawai mempraktekan PDKT, banyak peluang untuk berkomunikasi lebih leluasa dengan Neng Mila.

“Neng Mila, buatin abang kopi paling istimewa seperti suguhan untuk para sultan dan raja-raja”, ucap Bang Udin manja sambil berharap orang disekitarnya percaya bahwa mereka sudah sangat dekat.

Ketika Neng Mila mengantar kopi khusus untuk Bang Udin, kawan-kawannya sempat berdecak kagum dan hampir semua buah jakun ditenggorokan  turun naik bagaikan sentrika.  Lebih dramatis lagi, ketika Bang Udin menghirup kopi sambil usil mencolek pinggang Neng Mila dengan berucap “neng hari ini bagai bidadari turun kecangkir kopi abang hehehehe”.

Neng Mila kali ini tidak membalas sponton dengan senyum khasnya, tetapi berubah pucat pasi karena dia baru sadar bahwa   yang dibubuhkan di cangkir Bang Udin bukan gula tetapi garam. Untungnya Bang Udin faham akan kegundahan Neng Mila dengan mencairkan suasana berkomentar “biarpun terasa asin tetapi kopi neng tetap manis”.(NHP/EMTE)

Tags

Kopi