KPK-Kemendikbud Gandeng Milenial Bangun Komunitas Antikorupsi


GUNA menyelamatkan kekayaan alam Indonesia yang melimpah dari tangan koruptor diperlukan generasi milenial tangguh melawan korupsi. Untuk itu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama Kemendikbud membentuk jaringan komunitas antikorupsi yang melibatkan 750 siswa SMA se-Indonesia.

"Kita tidak perlu malu untuk mengakui korupsi di Indonesia sudah pada titik membahayakan, karena terjadi merata di lembaga eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Para pelakunya sudah ratusan yang dijebloskan ke bui," kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan.

Hal tersebut disampaikan di hadapan 750 siswa berprestasi tingkat SMA/SMK dan guru pendamping di Jakarta, Kamis (13/12) malam. Para siswa berprestasi itu mewakili 34 provinsi di Indonesia yang tergabung dalam komunitas "Saya Anak Antikorupsi" (SAAK). Acara tersebut turut dihadiri Irjen Kemendikbud Mukhlis dan Direktur Pembinaan SMA Kemendikbud Purwadi dan Direktur Pembinaan SMK Kemendikbud M Bakrun.

Basaria menekankan melimpahnya kekayaan alam Indonesia yang belum bisa dimanfaatkan seluruhnya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat seperti amanat dalam UUD 1945. Pasalnya, kekayaan alam berupa tambang emas, gas, minyak bumi, batu bara, timah, bahkan air, banyak yang digerogoti oleh koruptor.

KPK pun mengapresiasi pengenalan antikorupsi masuk dalam kurikulum pendidikan mulai SD hingga perguruan tinggi. Seadainya, selama 12 tahun ke belakang tidak terjadi korupsi, maka biaya pendidikan bisa lebih lebih murah.

"Orang boleh tidak suka dengan pernyatan ini, namun faktanya seperti itu," ujar Basaria.

Pendidikan korupsi harus ditanamkan sejak dini, karena perbuatan tidak menyenangkan itu tidak bisa lagi dilawan hanya dengan retorika atau pidato tetapi integritas yang bersumber pada kejujuran.

"Apakah kalian siap menjadi generasi antikorupsi?" tanya Basaria kepada ratusan siswa tersebut, serempak para siswa SMA/SMK menjawab penuh semangat, ”Siap!”

Sementara Irjen Kemdikbud, Muhlis, menjelaskan, materi pemberantasan korupsi dimasukkan dalam kurikulum sekolah merupakan ikhtiar Kemendikbud untuk ikut mencegah dan memberantas korupsi.

Program SAAK ini dibuat untuk membentuk komunitas antikorupsi, membangun budaya jujur dan anti korupsi.

“Kegiatan ini masuk dalam kegiatan esktrakurikuler dan pihak sekolah mesti mendukung komunitas ini. Hal terkecil bagi generasi milenial untuk tidak korupsi salah satunya tidak menyontek," pungkas Mukhlis.(OL-5)

Tags

Saya Anak Antikorupsi