LAMA-LAMA PERGURUAN TINGGI AKAN MATI


Ketika kawanan mahasiswa berdemo di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan beberapa waktu lalu, bukan materi tuntutan mahasiswa yang mengusuik fikiran, tetapi jauh dari itu   adalah bentuk pertanyaan yang menggumpal ketika mencermati wajah-wajah mahasiswa yang sudah lelah ketika bersuara untuk meminta solusi kepada menteri  meringankan beban biaya selama pandemi copid-19.

Bagi saya, tuntutan mahasiswa tersebut adalah lumrah dan rasional disatu sisi namun disisi lain merupakan sinyal kuat betapa rentannya perguruan tinggi atas hantaman badai copid-19.  Ini adalah peringatan dini  yang membuka mata kita tentang potret ketidak siapan pemangku kepentingan  yang bertanggung jawab terhadap dunia perguruan tinggi, termasuk mahasiswa.

Kegundahan itu sempat disindir rekan sekerja yang menyimpulkan bahwa “dugaan” saya itu hanyalah halusinasi diantara kekisruhan ancaman copid yang ada. Bagi mereka yang sangat tipis keperduliannya mungkin benar adanya, namun jika mencermati suara mahasiswa yang berdemo, bukan sekedar masalah keringanan biaya semata tetapi intinya adalah desakan agar pengampu pendidikan  tinggi harus berlari kencang menyesuaikan keadaan.

Ternyata saya tidak sendirian  larut dari kekhawatiran itu,  karena dari berbagai respon di medsos terlihat banyak fikirian yang sama dan bahkan ada yang terkesan lebih ekstrem bahwa dunia pendidikan tinggi di Indonesia sebenarnya sudah sekarat akibat copid-19.

Kemarin, Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Kemahasiswaan UGM, Prof. Djagal Wiseso menyebutkan ada prediksi matinya perguruan tinggi akibat wabah pandemi Covid-19. Sejumlah faktor seperti sumber pendidikan selain lembaga pendidikan yang tersedia, seperti internet, buku, jurnal, serta kondisi Covid-19 yang memaksa mahasiswa untuk belajar tanpa harus hadir di kampus mendorong matinya lembaga pendidikan tinggi itu.

Analisa ilmiah dari perguruan tinggi tertua itu, pastilah bukan pernyataan kaleng kosong tetapi berpijak kepada hasil pengamatan yang cermat.  Prediksi tersebut dibahas dalam seminar daring Dewan Guru Besar (DGB) UGM   Seminar daring kali ini bertemakan “Merdeka Belajar dan Proses Belajar Mengajar Efektif di Masa Pandemi Covid-19”.

Mantan Rektor Universitas Terbuka, Prof. Tian Belawati sepakat dampak dari Covid-19 telah menyebabkan disrupsi yang melebihi Revolusi Industri 4.0. Tak ada satupun negara di dunia ini yang bidang pendidikannya tidak terdampak oleh pandemi ini.

“Hanya butuh waktu 25 hari sejak pengumuman pasien positif pertama di Indonesia untuk mampu memaksa 834 perguruan tinggi di Indonesia hijrah ke daring,” ungkap Prof. Tian seperti dikutip dari laman UGM.

Akibatnya, banyak perguruan tinggi merasa tidak siap dengan kepindahan tersebut. Para dosen tidak siap karena silabusnya disusun untuk perkuliahan tatap muka, apalagi bagi pengampu jurusan saintek yang memiliki mata kuliah praktikum.  

Selain itu, permasalahan lain karena banyaknya dosen yang telah lanjut usia dan tidak terliterasi untuk menggunakan platform digital.

Beberapa prinsip yang perlu diikuti dalam pembelajaran daring yakni kurikulum sesuai, inklusif, melibatkan pembelajar, pendekatan inovatif, metode efektif, evaluasi formatif dan sumatif, koheren, konsisten, transparan, perangkat yang mudah dioperasikan, serta efektif dalam biaya. 

Hal yang perlu diperhatikan lebih dalam prinsip tersebut, menurut Tian, adalah interaksi dengan pembelajar. Ia menyebut interaksi menjadi rawan dalam pembelajaran daring karena tanpa tatap muka secara langsung. Oleh karena itu, momen jeda semester ini dapat dimanfaatkan oleh para pengajar untuk mempersiapkan silabus yang lebih sesuai untuk pembelajaran daring. Persiapan tersebut mencakup pula penyesuaian materi dengan platform yang akan digunakan sehingga tidak ada kesulitan ketika kuliah berlangsung. (Miskudin Taufik)