Lembah Baliem Mengajarkan Soal Toleransi


Jakarta, (Itjen Kemendikbud) - Suku Dani yang mendiami Lembah Baliem di Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua  sangat menjaga keberagaman dan toleransi beragama, sejak nenek moyang ada. Sebut saja, sebelum ajaran islam masuk, di Lembah Baliem sudah ada penganut kristen protestan dan katolik. 

Balai Arkeologi Papua menyebutkan agama islam masuk di Lembah Baliem sekitar tahun 1964. Saat itu, penyebaran ajaran islam yang dibawa nenek moyang, mengajarkan masyarakat di Distrik Walesi,  Kabupaten Jayawijaya belajar agama islam.

Dalam penelitian Hari Suroto, arkeolog dari Balai Arkeolog Papua menyebutkan masyarakat Walesi yang beragama islam, hingga kini masih mempertahankan tradisi dari pegunungan tengah Papua, misalnya tradisi barapen atau bakar batu yang biasa dilakukan dalam menyambut ramadhan. Bedanya, selama ini dalam bakar batu identik menggunakan daging babi. Oleh masyarakat di Walesi diganti menggunakan ayam.

Pelajaran berharga yang dapat diambil dari kehidupan beragama di Lembah Baliem adalah rasa toleransi beragama yang tinggi.

"Selain itu budaya tradisional masih dipertahankan," katanya kepada media.   

Muslim Papua  di Lembah Baliem berkonsentrasi di Distrik Walesi. Pada lokasi itu terdapat sebuah masjid dan pesantren. Anak-anak yang  berada di dalam pesantren kebanyakan berasal dari daerah pegunungan Papua. Ada yang sengaja dititipkan oleh orangtua untuk menimba ilmu, ada juga anak-anak yang tak mengenal orangtuanya sekali pun.

Walau begitu, kehidupan di Walesi sangat kental dengan kekerabatan antar agama. Sekitar 200-an meter dari pesantren, terdapat gereja dan SD Katolik. Sebelum, ada pesantren yang didirikan 1984, anak-anak muslim Walesi bersekolah di SD Katolik. Jam belajarnya dilakukan secara bergantian dengan murid yang beragama katolik.

Abu Asso,  tokoh pemuda Walesi mengakui kekerabatan dan toleransi antar agama di Lembah Baliem sangat tercipta dengan baik. Abu mengaku masih banyak keluarga dekatnya berbeda agama, namun tetap saling menghormati. 

"Termasuk jika ada acara barapen, keluarga kami yang muslim atau nasrani memahami satu sama lainnya. Jika ada makanan olahan dari daging babi, akan dipisahkan untuk kami yang beragama muslim dan kami akan menyantap ayam, atau sebaliknya," jelas Asso.

Kekerabatan antar agama juga terjalin baik. Misalnya jika hari raya besar keagamaaan. Justru pada hari raya muslim atau nasrani, keluarga dapat berkumpul, silaturahmi dan berbagi cerita bersama.

 

 

Tags

toleransi