Maling Pun Ikut Edan


Entah sejak kapan pak Kesel dan Pak Leo ini bersahabat akrab. Kalau dilihat catatan pendidikan keduannya sama-sama tidak tamat sekolah, artinya mustahil berkawan sejak sekolah. Kalau dibilang teman seperjuangan, keduanya lahir setelah astronot Neil Amstrong menginjak bulan yang jauh hari setelah zaman pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Tapi warga desanya hafal betul tentang gerak-gerik kedua lelaki itu yang selama ini  terkenal dalam dunia kriminal. Maling jemuranlah, maling sandal lah dan maling kotak amal lah hingga terakhir digebukan Hansip karena keduanya tertangkap basah melakukan pencurian berbeda dengan obyek yang berbeda pula.

Kalau keduanya sedang melintas di lorong desa, pasti bunyi kentongan berbunyi bertalu-talu dan suara warga bersahut-sahutan “awas ada Keseleo”, maksudnya akronim dari nama legenda “Kesel dan Leo” yang amat memusingkan warga.

Hampir disetiap kejahatan yang mereka lakukan selalu lolos dari jeratan hukum, tapi kali ini keduanya tidak dapat berkutik lantaran tetangganya Mpok Zubaidah memperkarakan Kesel ke kantor polisi karena membawa lari anak gadisnya, sementara Leo sedang bernasib apes lantaran mencuri kambing kurban dan kemudian menawarkan untuk dijual kepada Mas Narto yang tidak lain adalah pemilik kambing itu sendiri.

Seisi kampung hiruk pikuk sambil berjejal-jejal memadati balai desa menyaksikan kedua tokoh kriminal itu. Macam-macam cibiran, hujatan dan bahkan sumpah serapah ditujukan kepada kedua terangka. Jika seandainya satu cibiran itu dikonversi dengan satu ember air, maka tidak mustahil kedua tersangka kelelep oleh genangan banjir hujatan.

Tapi untungnya komendan Hansip Abah Sueb cukup berwibawa mengamankan suasana, berkali-kali terlihat Sueb yang gagah berpakaian Hansip dengan sebuah handie talkie ditangan selalu sibuk berbicara dengan kode 86. “Pokoknya 86 pak, aman terkendali, ganti-ganti”, demikian ucapan Sueb yang terdengar bergelegar ditengah kerumunan warga, sementara tersangka Kesel dan Leo mirip kucing kurap menunduk lesu dengan wajah pucat mirip kertas pembungkus roti.

“Sudah, sudah, pokoknye sudah 86, sekarang ane yang berkuase”, kata Sueb sambil memelintir kumis jarangnya ketika mpok Zubaidah yang dikenal janda muda di kampung seberang itu mau menerkam tersangka Kesel.

Pendek cerita, kedua tersangka sudah di proses verbal polisi dan siap-siap diserahkan ke kejaksanaan dengan tuduhan melakukan tindak kejahatan membawa lari anak gadis dibawah umur untuk tersangka Kesel dan pasal pencurian untuk tersangka Leo.

Menjelang hari dan bulan persidangan, keluarga tersangka Kesel cukup panik. Jangan-jangan nanti di vonis hukuman mati, hukuman seumur hidup atau hukuman penjara 20 tahun karena tersangkut kasus membawa kabur gadis, demikian yang selalu menggelinding dibenak keluarga itu.  Ancaman hukuman yang menakutkan itu bukan datang begitu saja, tetapi atas pendapat pak Hansip Sueb yang sok tau hukum selalu berkoar-koar di warung kopi dekat rumah orang tua Kesel.

“Lalu apa yang harus kami lakukan pak Sueb, agar anak kami tidak sampai dihukum mati”, kata orang tua Kesel sambil menghiba-hiba minta pendapat hukum kepada Hansip Sueb yang khusus diundang ditengah keluarga.

Melihat perlakukan istimewa itu, Hansip Sueb yang sibuk dengan handie talkie 86 nya bagaikan pakar hukum berpidato penuh wibawa. “Jadi begini sodara-sodara, kalau saya seperti Kesel pasti 86 saya buru-buru berdamai dengan Mpok Zubaidah dengan cara melamar anak gadisnya”.   

Hampir semua yang hadir manggut-manggut seperti layaknya murid didepan guru, kemudian entah siapa yang mengomando terdengar suara secara aklamasi “Setujuuuuuuuu”. Dan yang lebih monumental lagi, seluruh anggota keluarga setuju jika hansip Sueb menjadi komendan acara lamaran dan pernikahan.

Beberapa hari berikutnya, sidang kedua tersangka digelar dengan acara pembacaan vonis hakim. Lagi-lagi hansip Sueb sok sibuk dengan Handie Talkie 86 nya terlihat petantang-petentng ditengah kerumuman keluarga yang memadati ruang sidang.

Detik-detik menegangkan itu akhirnya tiba juga dan sang Hakim dengan penuh wibawanya membacakan vonis hukuman dengan ujung kalimat “…..maka dengan ini kedua terdakwa dijatuhi hukuman dua tahun penjara potong masa tahanan”.  Suasana ruang sidang riuh rendah dan seorang terdakwa bernama Leo berteriak memprotes vonis hakim yang dinilainya tidak adil.

“Masa saya disamakan hukumannya dengan kang Kesel, padahal saya hanya mencuri kambing sedangkan dia mencuri manusia”, kata Leo berapi-api tanpa didengarkan sang Hakim sedikitpun.

Keributan itu hampir-hampir tidak mampu dikendalikan Satpam pengadilan, untung ada hansip Sueb yang dengan penuh wibawa menenangkan suasana. Dengan menenteng Handie Talkie 86 nya, Sueb menasihati Leo yang lagi diamuk amarah.

“Dik leo, putusan itu sudah adil, kalau Kesel selain di vonis dua tahun dia juga berkewajiban menikahi sang gadis.  Sekarang apa kamu mau dinikahkan dengan kambing”, demikian ucap Hansip Sueb yang masih sibuk dengan handie talkie 86 nya sambil berlalu. (emte)

Tags

Maling
Edan