Mark Zuckerberg dan Komunikasi yang Membangun Masa Depan Bersama


Facebook was not originally to be a company. It was built to accomplish a social mission—to make the world more open and connected” (Mark Zuckerberg, Facebook).
Pernyataan Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, di atas sengaja saya kutip di sini untuk sekedar mengingatkan kita bersama bahwa dunia kita telah mengalami perubahan. Wajah dan tampilan dunia yang sedang kita hadapi adalah wajah yang baru. Kita sedang berada dan hidup di dalam lingkungan dimana informasi telah menjadi komoditi baru.
Bahkan informasi telah mengubah cara hidup kita. Mengubah cara hidup di kota, juga di desa. Mengubah cara berpikir kita, baik rakyat biasa, maupun elit rakyat atau rakyat elit.
Informasi, sekarang ini, menjadi institusi yang mampu mengelola dunia. Ia mengendalikan dunia. Mengendalikan dan memberi warna tata kehidupan dunia. Ia menentuan arah dan corak kehidupan masyarakat di dunia. Dengan informasi, dunia menjadi dekat. Yang jauh menjadi dekat. Yang dekat menjadi terbuka.
Melalui informasi, kehidupan dunia menjadi hadir dalam tata perilaku kita. Informasi tentang dunia ada di hadapan kita. Apa yang terjadi dimanapun seketika itu juga dapat kita ketahui oleh kita. Kita kemudian menjadi warga dunia. Kita terhubung satu sama lain. Kita mempunyai akses langsung dengan tata kehidupan dunia. Kita menjadi warga dunia.
Tetapi, informasi yang menghubungkan orang di seluruh dunia itu menimbulkan hal-hal baru bagi kehidupan kita. Keterkoneksikan kita dengan warga dunia yang baru membutuhkan sekurang-kurangnya beberapa hal sebagai berikut:
(1) kita memerlukan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan sistem berpikir baru. Sistem berpikir yang mungkin saja berbeda dengan yang kita anut. Sistem berpikir baru yang dibaurkan lewat beragam informasi, beragam cara pandang, serta beragam nilai- nilai.
Kita harus bisa beradaptasi dengan serbuan keragaman cara-cara baru itu. Kita harus menpunyai kemampuan untuk “masuk dan terlibat” di dalam “a new system thinking” tersebut.
Tanpa kemampuan seperti itu, serbuan informasi akan bisa menimbulkan “a distruction of mentallity” di dalam diri kita. Kita akan merasakan kebingungan psikologis dalam menyikapi beragam informasi yang tersaji secara simultan dalam waktu bersamaan;
(2) meledaknya pasokan informasi di tengah kehidupan masyarakat membutuhkan “a new form of ethic”. Serbuan informasi itu menyajikan bermacam pengetahuan.
Ada informasi pengetahuan yang baru. Ada informasi pengetahuan yang lama. Ada informasi pseudo pengetahuan. Ada informasi pengetahuan hoax. Ada informasi pengetahuan campuran, tak terlalu jelas kebenarannya.
Semuanya tersaji dengan telanjang di hadapan kita. Tinggal kita harus menyisir dan menyeleksi dengan seksama, mana informasi pengetahuan yang benar benar benar. Kitalah yang menjadi agen terakhir untuk menyatakan dan menentukan informasi mana yang tepat, benar, dan akurat.
Kitalah yang menentukan sikap, mana informasi yang berguna dan dapat dimanfaatkan oleh kita untuk mendorong kemajuan kita sendiri. Kita yang menjadi garda diri sendiri, yang mengurai, menyeleksi semua pasokan informasi itu agar informasi bermanfaat bagi kehidupan kita. Kitalah yang menegakan etika untuk diri kita sendiri;
(3) kadangkala, serbuan informasi itu menimbulkan apa yang saya sebut sebagai “quantum information”.
Informasi yang datang dan hadir di hadapan kita yang melampaui kebutuhan kita. Informasi yang meluber kemana-mana. Informasi yang mendorong orang untuk bersikap chaos. Informasi yang tak lagi memperhatikan takaran. Ia dipasok secara masif dan berlaku universal, untuk umum, tanpa membeda-bedakan penerimanya.
Informasi semacam ini, sungguh, akan memaksa orang untuk bersikap atau bertindak “melompat-lompat”. Melompat cara berpikirnya. Melompat cara menyikapinya. Melompat cara menilainya. Melompat cara meresponnya, sehingga orang-orang menjadi (justru) cenderung mengarah kepada situasi yang tuna informasi.
Kita gagal bersikap wajar dalam menyikapi informasi. Kita keliru dalam menilai informasi. Kita terjerembab dalam mis-informasi. Serbuan pasokan informasi bisa menyebabkan berkembangnya ketunaan-ketunaan terhadap informasi di kalangan masyarakat.
Keadaan inilah, yang sesungguhnya, bisa mendorong terjadi chaos di tengah kehidupan masyarakat luas. Chaos karena terjadi ketunaan informasi secara massal di dalam masyarakat.
Ketika situasi ini terjadi di dalam kehidupan kita, maka sesungguhnya kita sedang berada dalam sebuah sistem informasi yang tak dapat dipercaya, “distrusted system of information”.
Lantas apa yang menjadi penting untuk kita perhatikan? Dalam situasi dimana setiap orang bisa menyampaikan berita, informasi, sikap sosial kita menjadi penting. Kohesi adalah salah satu sisi yang harus kita perkuat. Pasokan informasi yang banyak, sesungguhnya, diniatkan untuk mempererat sesama manusia. Mengkoneksikan setiap orang.
Mendekatkatkan setiap kita sehingga kita saling mengenal, saling memahami, saling berkomunikasi untuk membangun masa depan bersama. Dengan begitu, kehidupan dunia akan lebih terbuka, saling memahami, dan saling mengerti. Saling mendekat. Saling merekat. Saling mempertautkan.
Itulah yang kemudian dinyatakan oleh Zuckerberg sebagai “the world more open and connected”. Itu sebabnya, kita harus mengusahakannya secara terus menerus agar kehidupan kita lebih baik, lebih guyub, lebih plural, dan lebih multi-kultural. Kita tak bisa lagi “kekeuh” berdiri hanya dengan pikiran kita sendiri tanpa memperdulikan kehadiran orang lain di sekitar kita.
Walaupun kita tahu, secara keseluruhan, lukisan diri kita dapat dijelaskan lewat “Your stand is your brand”; dan kemudian “there were already a lot of ways for people to communicate with other”.
Itu sebabnya, kita lebih baik mengambil jalan yang dapat dipercaya dalam berkomunikasi, karena jalan itu biasanya menjadikan kita warga dunia yang baik dan terhormat. (Muchlis R Luddin)
 
 
 

Tags

Facebook