MAS KAWIN MOBIL USTAHYAD


Haji Durauf terkenal pelit, judes dan mata duitan agak kelimpungan karena ketiga anak gadisnya hingga menginjak usia   layak kawin belum juga ketemu jodohnya. Bukan soal kemolekan  ketiga anak daranya taka da tandingannya, namuni banyak pria yang terpaksa balik kanan untuk melamar lantaran mas kawin yang diminta sangat susah untuk dipenuhi.

Bayangkan, lelaki anak tunggal dari sudagar kambing yang selama ini menjadi karib Haji Durauf  juga mental untuk mempersunting anak gadisnya. Para perjaka yang coba-coba ikut bertarung tidak ada yang kurang. Selain tampan, dari keturunan orang kaya, baik hati dan royal sekalipun belum berhasil memenuhi prasyarat yang diajukan Haji Durauf.

Mungkin sudah puluhan yang coba-coba untuk memperisteri ketiga bunga desa dari keluarga Haji Durauf tapi tak satupun pernah berhasil. Bahkan tidak sedikit yang bersiasat dengan menempuh cara tak lajim melalui dunia perdukunan.

“Pokoknya siapapun yang melamar harus membawa mahar berupa mobil Ustahyad”, kata Haji Durauf yang pernah puluhan tahun bermukim di Arab sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

Makin hari makin penasaran dibenak seluruh lelaki yang ingin mempersunting ketiga gadis itu, terutama mencari tahu  persyaratan mahar berupa mobil yang mereknya tidak lajim.

“Ana tidak perduli, cari dan bawa mobil merek itu kesini”, kata Haji Durauf suatu ketika, sesaat ada calon menantu yang membawa mobil mewah buatan Erofa masih terbungkus plastik.

Dari sejumlah lelaki yang sudah dua kali gagal melamar, tercatat Amat Kribo yang dahulu juga pernah  bekerja di Arab hampir-hampir berhasil memecahkan misteri mahar berupa mobil Ustahyad itu tetapi akhirnya berujung gagal karena prasyarat tambahan berupa kemahiran mengaji  dengan suara merdu.

Tapi Amat Kribo bukan lelaki kaleng-kaleng yang mudah menyerah. Hampir tiap hari ia belajar mengaji dengan berguru keberbagai pelosok negeri dari satu qori ke qori ternama lainnya.

Setelah merasa sudah mahir, Amat Kribo mengajak kedua orang tuanya untuk melamar yang ketiga kalinya. Dengan berpakaian layaknya seorang habib, berjubah putih dan bermahkota “patah kangkung” serta wewangian khas padang pasir, nampaknya berbagai rintangan sudah dapat diatasi.

“Thaib, Thaib, ana senang mendengar lantunan suara mengaji sodara, tapi ana tidak akan melepas puteri ana sebelum ditunjukkan maharnya berupa mobil ustahyad”, ucap Haji Durauf terkesan tidak ada tawar menawar lagi.

Dengan senyum simpul, Amat Kribo mencoba mendekati dan membuka  jendela ruang tamu Haji Durauf kemudian menunjuk mobil butut yang terparkir dihalaman dengan merek yang masih asli “Daihatsu”. Haji Durauf pun kegirangan, maklum terlalu lama tinggal di Arab hingga terbiasa membaca dari kanan ke kiri seperti layaknya Bahasa Arab hingga tulisan merek Daihatsu terbaca jelas Ustahyad. (emte)