MIE LIAR SANTAPAN SAHUR


Puasa tahun ini bagi pegawai negeri sipil agak sedikit cerah dibanding tahun sebelumnya. Selain kabar gembira tentang kenaikan gaji juga diberikan tunjangan kinerja dan gaji ke 13  dibayar sekaligus menjelang lebaran, juga ada tanggal kejepit yang memungkinkan berlibur illegal untuk lebaran lebih lama. Tidak terkecuali bagi Durauf, kegembiraan itu ditunjukannya dengan kerja tambah rajin walaupun bulan puasa memberi kelonggaran masuk dan pulang kantor.

Tidak seperti hari biasa, Durauf selalu lebih pagi berada di kantor dan pulangpun sengaja mereka agak lambat dengan  alasan menghindari kemacetanlah, ikut pengajianlah atau kegiatan menyibukkan diri lainnya. Kabar baik ini sempat terdengar ke telinga isterinya yang tidak pernah henti mengucap syukur atas perubahan prilaku suaminya.

“Kok nampaknya lemes banget, sonoh isterahat dulu”, ucap isterinya yang menyambut ke hadiran Durauf ketika pulang agak sorean dari kantor. Kalau sudah seperti ini, Durauf menunjukkan tabiat aslinya dengan makin menjadi-jadi tingkahnya agar mendapat simpati isterinya.

Berhari-hari drama seperti ini selalu terulang dan sang isteri makin hafal betul tentang apa yang harus dilakukan untuk menggembirakan suaminya agar tetap memelihara puasanya hingga selamat sampai waktu berbuka.

Hari demi hari berlalu, kali ini Durauf pulang ke rumah agak lambat hampir bersamaan dengan saatnya kumandang azan tanda saatnya berbuka puasa. Tidak seperti biasanya, wajah dan penampilan Durauf kali ini terlihat lebih segar dan ber energy. Se isi rumahpun heboh dan terkesima melihat Durauf. “Ya gitu dong, papah harus kuat, harus terlihat segar agar diteladani bagi orang lain,” sanjung sang isteri. Durauf pun mesem-mesem tersipu, seakan menyembunyikan rahasia besar dibenaknya.

Seperti malam-malam sebelumnya, Durauf rajin mengikuti sholat tarwih di musola dekat rumahnya yang dikenal sebagai penyelenggara sholat tarwih paling tercepat di dunia.  Coba bayangkan, kalau disetarakan dengan kecepatan mobil mungkin hampir sama dengan 120 kilometer perjam, karena itu tidak heran sholat tarwih 23 rakaat cukup diselesaikan hanya 7 menit.

Sholat super cepat yang dipimpin imam terlatih itu, bagi para jamaah harus sedikit ekstra untuk mengikuti gerak dan bacaan agar tidak tertinggal kececeran, bahkan bagi mereka yang kebetulan pada saat berbuka puasa terlalu banyak mengisi perut bakal kesulitan.

Malam itu, Durauf agak keteter mengikuti jalannya sholat tarwih karena perutnya terisi maksimal dan saling berdesakan antara kolak, urap, bakwan, cendol,kurma, dan nasi uduk. Hampir-hampir ia tidak sempat bernafas dari mulai mengangkat takbir, ruku’, sujud dan kemudian berdiri kembali yang seluruhnya bergerak sangat cepat. Di penghujung rakaat terakhir, matanya makin nanar dan terasa gelap  hingga akhirnya rubuh dan muntah.

Se-isi musola heboh dan kaget, termasuk mertua Durauf yang terlihat panik mengaman menantunya, sedangkan sang isteri mencoba membersihkan lantai musola sebelum dibopong kerumah.  Ceritanya ternyata tidak sampai disitu, karena setelah suasana sepi dan Durauf sudah segar kembali, dibukalah mahkamah luar biasa mengadili Durauf dengan pertanyaan “tunggal”, kenapa pada saat muntah terlihat mie goreng masih segar, padahal baik sahur maupun menu santapan berbuka tidak ada makanan jenis mie.

Pertanyaan menohok ini membuat Durauf tak berkutik. Mau mengaku telah makan mie goreng di warung mpok Ijah tadi siang agak malu. Tapi sebelum palu hakim diketok sebagai pertanda vonis telah dijatuhkan, isteri Durauf mengambil alih persoalan untuk menutupi rasa malu suaminya  dengan mengatakan bahwa suami terlalu banyak makan bakwan ketika berbuka.  Emang bakwan isinya mie, mie liar kale….demikian kira2 asumsi pengunjung tanpa harus mencederai jalannya persidangan. (emte)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tags

mieliar