Mitigasi Mutlak untuk Antisipasi Bencana


KESIAPAN dan tindakan mitigasi mutlak dilakukan untuk mengantisipasi  gempa dan tsunami yang mengintai sewaktu-waktu, mengingat posisi Indonesia di jalur teraktif di dunia, dikelilingi cincin api (ring of fire) Pasifik  dan di atas tiga tumbukan lempeng benua: Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik.

Gempa  berkekuatan 7,4 SR disusul tsunami yang menerjang kota Palu, Kab.  Donggala, Kab. Parigi Moutong dan Kab. Sigi, Sulawesi Tengah, Jumat (28/9) pukul 18.02 WITA sejauh ini telah merenggut sekitar 1.424  nyawa dan diperkirakan masih ada korban-korban lagi yang tertimbun di bawah reruntuhan bangunan atau tersapu tsunami.

Sebanyak 2.550 korban mengalami luka-luka, 113 hilang, 152 tertimbun tanah dan sekitar 70.000 mengungsi di sekitar 150 titik pengungsian di keaampat wilayah tersebut, yang terbanyak di sekitar kota Palu.

Selain itu ribuan bangunan  di  di perumahan Petobo atau Perumnas Balaroa, Palu bagai ditelan bumi akibat fenomena likuifaksi atau disebut nalodo oleh penduduk setempat yakni munculnya lumpur yang menyedot rumah-rumah sehingga rata dengan permukaan tanah termasuk penghuninya.

Petugas dan relawan masih berjuang keras menyelamatkan nyawa korban terutama di hotel Roa roa, Palu di reruntuhan bangunan hotel berlantai lima tersebut dan bangunan bertingkat lainnya di seputar kota Palu., sementara nyawa korban-korban  likuifaksi agaknya tidak tertolong.

Kapan persisnya bakal terjadi gempa sampai kini belum bisa diprediksi, namun sensor tsunami (buoy) dan seismometer untuk memonitor getaran bumi sebenarnya sudah terpasang, begitu pula wilayah-wilayah subduksi dan sesar yang berpotensi gempa juga sudah dipetakan.

Sayangnya,  21 buoy berharga tujuh ratusan milyar rupiah yang diperoleh dari hibah tersebut kabarnya rusak atau raib dicuri orang, sedangkan 170 seismometer yang ada terlalu sedikit untuk memonitor seluruh wilayah  rawan gempa di negeri ini. Jepang, menurut catatan, memasang 4.000 seismometer.

Pusat Studi Gempa Nasional 2017 mengungkapkan, Sesar Palu-koro salah satu dari 48 sesar atau sumber gempa di Pulau Sulawesi yang menurut catatan sejarah, memicu sejumlah gempa yang merusak di kawasan itu.

Sebagian gempa Sulawesi yang terjadi sejak 1820  hingga 2018 memacu tsunami, sedangkan  Selat Sulawesi sudah 19 kali diterjang tsunami yang seluruhnya berasal dari aktivitas gempa di patahan Palu-Koro, zona subduksi di utara Sulawesi.

Walau gempa bumi tidak bisa diprediksi tibanya secara pasti, bisa dipastikan, wilayah yang pernah dilanda gempa bumi sebelumya, dipastikan bakal terkena lagi, begitu pula tsunami.

Setelah gempa besar, biasanya terjadi gempa susulan yang kekuatannya cenderung lebih kecil, walau bisa juga gempa besar diikuti gempa besar lagi seperti terjadi di Lombok baru-baru ini atau disebut fenomena doublet dimana gempa sebelumnya memicu runtuhnya bidang gempa di sebelahnya.

Pengetahuan praktis pada warga tentang perlindungan diri saat terjadi gempa juga harus terus disosialisasikan, seperti berupaya berlindung di bawah benda-benda berstuktur kuat seperti meja atau tempat tidur, atau segera keluar begitu ada  peluang saat berada di bangunan rawan gempa.

Jika laut tiba-tiba surut atau terjadi gempa diharapkan agar segera menjauh dari pantai atau mencari tempat di ketinggian untuk menghindari bahaya tsunami.

Warga juga harus memastikan struktur bangunan rumahnya masih aman pasca gempa, walau tidak mengalami kerusakan atau masih tegak.

Sistem Peringatan Dini

Kabag Seismologi Tehnik BMKG Dadang Permana mengakui, sistem peringatan dini gempa dan tsunami yang diterapkan Indonesia tidak jauh berbeda dengan Jepang, walau dari sisi alat-alat sensor, selain teknologinya jauh lebih maju, juga lebih banyak jumlahnya.

Menurut dia,  di Jepang alat-alat pendeteksi gempa dan tsunami langsung terhubung dengan media, sehingga peringatan bahaya langsung dan secara otomatis bisa disebarkan pada seluruh masyarakat yang berada di lokasi potensi ancaman bencana.

“Dalam waktu dua menit,  warga di zona gempa di Jepang sudah bergerak melalui jalur-jalur evakuasi yag sudah dirancang menuju titik kumpul di lokasi-lokasi aman yang juga sudah ditentukan,” ujarnya.

Jadi menurut dia, selain pengenalan tentang bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami termasuk di kurikulum sekolah-sekolah, penyiapan jalur evakuasi dan titik kumpul sudah harus disiapkan sebelum bencana terjadi.

“Selain itu, simulasi bencana juga harus dilakukan secara rutin. Di Jepang dilakukan setiap bulan, “ tuturnya.

Semuanya akhirnya kembali terpulang pada keseriusan para pemangku kepentingan, khususnya pemerintah pusat dan pemda untuk lebih serius melakukan mitigasi bencana demi menekan risiko kerugian, baik nyawa maupun harta-benda jika terjadi bencana alam.

Jangan sampai, kegiatan mitigasi bencana hanya sekedar proyek untuk menghabiskan anggaran, juga agar bantuan sampai dan tepat waktu ke tangan korban, tidak seperti yang terjadi pada bencana-bencana sebelumnya, seperti dana rehab sekolah yang ditilap HM, oknum anggota DPRD Kota Mataram baru-baru ini.

Rendahnya perhatian terhadap bencana, juga tercermin dari kecilnya anggaran yang dialokasikan yakni rata-rata 0,1 persen dari APBD untuk program pengurangan risiko bencana.

Lebih dari itu, wawasan lingkungan dan sadar bencana harus melekat pada diri calon-calon presiden dan wakil presiden serta wakil-wakil rakyat pada Pemilu serentak 17 April 2019 nanti agar jika terjadi bencana, semua sudah siap sehingga risiko nyawa dan harta-benda bisa ditekan.   (NanangS/Berbagai sumber)         

 

 

 

 

    

 

Tags

gempa Sulteng
Palu berduka
tsunami dan likuifaksi Palu