NASI BEBEK


Dua bulan terakhir Tuhlamak tidak menjumpai makanan enak dirumahnya. Maklum musim PSBB yang mengubah nasib  banyak keluarga menjadi hidup serba sulit termasuk keluarganya yang hanya mengandalkan mata pencaharian sebagai tukang ojek.

 

Tuhlamak dikenal kawan-kawannya suka makan dan terkesan rakus, mungkin karena kondisi tubuhnya yang tambun mirip ikan buntal hamil 17 purnama membutuhkan banyak asupan melebihi dari isi perut rata-rata.

 

Kalau ada berita bakal ada selamatan di jirannya, Tuhlamak pasti orang nomor satu yang pasang kuda-kuda terlebih dahulu dibanding rekan main gapleknya di gardu pangkalan ojek . seperti Garbus, Durajak atau Palui.

 

“Aneh ya, kok lebaran tahun ini gak ada orang yang selamatan apalagi open house”, tutur Tuhlamak sambil menguap didepan Garbus, Durajak dan Palui yang juga sama-sama menjadi tukang ojek pangkalan.

 

Dihari biasa, apapun nama acaranya asalkan ada sajian makanan pasti Tuhlamak tidak pernah absen untuk hadir. Perkara diundang atau tidak itu urusan lain yang penting perut kenyang.

 

“Di ujung gang itu ada rencana salawatan, tapi khusus hanya untuk ibu-ibu majelis taklim,” kata Palui memancing kecerdasan Tuhlamak.

 

Mata Tuhlamak berbinar-binar sambil mengelus perut gendutnya yang terbuka lantaran kancingnya sudah gak cukup lagi menutupi. Tapi tak satupun kalimat yang muncul untuk menyiasati tantangan itu.

 

“Ah gampang itu, kita carikan saja baju ibu-ibu majelis taklim untuk dia, lalu kita suruh dia bergabung, beres kan” kata Durajak yang dikenal lebih piawai kalau urusan siasat-menyiasat.

 

Biasanya gagasan Durajak selalu diterima secara aklamasi oleh kawanan para ahli gaplek ini, namun kali ini malah Tuhlamak sendiri yang menolak dengan alasan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan karena tidak ada baju ibu-ibu yang memiliki ukuran seperti badannya. Jangankan baju perempuan, sperai saja butuh dua lembar untuk menutupi badan tambun itu masih belum mencukupi.

 

Musyawarahpun terhenti, senyap dan tidak ada celutuk apapun namun tiba-tiba Tuhlamak berdiri bagaikan singa podium memberikan taklimat. Begini sodara sodara, aku ada akal yang mungkin bisa diterima semua pihak. Rekan-rekannya terkesima atas ucapan itu, karena mereka yang tahu soal Tuhlamak adalah urusan makan dan makan. Tuhlamak pun  sengaja tidak menjelaskan tentang strategi jitunya, karena takut akan dijiplak rekan-rekannya.

 

Ketika malam hari pulang kerumah, Tuhlamak tidak biasanya memanggil isterinya Munah dengan nada manja. Munah yang sedari tadi menunggu kepulangan sang pangeran membalas dengan cara bermanja-manja pula walaupun biasanya ucapan pertama kalau pulang ke rumah pasti menanya soal makanan.

“Munah sayang, kamu punya baju seragam majelis taklim gak”, tanya Tuhlamak

 

“Emang abang mau membelikan baju baru”, jawab Munah sambil memperlihatkan gigi gerigi yang rimbun.

 

Tuhlamak mencoba membujuk isterinya untuk hadir pada acara salawatan di majelis taklim  dirumah juragan bebek dihujung gang itu, kendati sebelumnya selalu ada  saja alasan untuk melarangnya. Cuma kali ini ada syaratnya, yaitu perintah tunggal harus membawa  pulang makanan “nasi bebek” yang banyak untuknya.

 

Haripun berganti hari hingga saatnya yang ditunggu-tunggu Tuhlamak menantikan bungkusan nasi bebek yang akan dibawa isterinya dari acara salawatan itu.

 

Dari kejauhan terlihat isterinya si Munah jalan dengan lenggang kangkung lagi keombakan sambil menenteng bungkusan kresik hitam besar. Dalam hati Tuhlamak, hari ini adalah hari balas dendam untuk makan sepuasnya.

 

Dengan penuh senyum menyambut isterinya, Tuhlamak langsung mengambil tentengan dan langsung pergi ke pangkalan ojek.  Disitu ada rekan fanatiknya Sudurajak, Garbus dan Palui yang sedari tadi terlihat muka pucat karena belum makan sejak pagi.

 

“Maaf ya, kali ini aku terpaksa gak nawarin kalian karena makanan ini sangat istimewa”, kata Tuhlamak sambil membuka bungkusan perlahan-lahan, sementara ketiga rekannya memperhatikan sambil buah jakunnya turun naik secara bersamaan.

 

Ketika bungkusan terbuka, alangkah kagetnya Tuhlamak karena selain nasi yang sangat banyak juga terlihat kepala bebek yang masih utuh dengan bulu-bulu masih bercampur darah muncul bagaikan hantu.

 

Belum sempat ketiga rekannya mentertawakan Tuhlamak, isterinya si Munah merebut bungkusan itu sambil berteriak “Ini nasi untuk makanan bebek, bukan untuk abang” katanya sambil berlalu.(emte)