NOMOPHOBIA


Tiba-tiba jejaring internet di kantor menjadi lemot, sementara pengguna akses wifi saling berebut mencari akses untuk mendapatkan sinyal terbaik. Ini boleh jadi dilingkungan kantor kita sudah terserang gejala nomophobia, sebuah penyakit psikis yang selama  ini melanda hampir seluruh dunia.

Nomophobia (no mobile phone phobia) adalah salah satu bentuk phobia atau keta­kutan yang terjadi bagi seseorang jika satu detik saja tidak memegang handphone maka dia akan stres. Layaknya pecandu narkoba, mereka yang terkena penyakit ini tidak dapat dengan mudah terlepas dari gadget terutama smartphone ­kapan, dan di manapun berada.

Kondisi ini melanda hampir diseluruh tempat, termasuk disekitar lingkungan kerja kita. Biasanya, mereka yang terserang endemik ini jika tidak memegang smartphone selama sedetik saja misalnya, sudah  muncul  rasa cemas, khawatir, bingung atau bahkan gelisah tanpa diketahui sebab musababnya.  Tidak jarang pula para dengan mudah menyulut  marah apabila dilarang menggunakan handphone

Tidak ada definisi khusus tentang nomophobia itu, tetapi semua pihak hampir sepakat bahwa Nomophobia adalah rasa takut, dan cemas berlebih apabila seseorang jauh dari ponsel atau gadgetnya. Mereka yang terkena nomophobia dikenal dengan nomophobian.

Setidaknya ada 8 (delapan) ciri seseorang penderita nomophobia yang sering dilihat di sekitar kita, masing-masing mereka selalu membawa smartphone ke mana pun pergi seperti  ke pasar, kebun, sungai, toilet, dan tempat rapat atau tempat lainnya yang tidak lajim, kadang-kadang mereka melawan kodrat sebagai mahluk sosial atau dengan kata lain kurang bersosialisasi di dunia nyata.

Ciri lain, kadang-kadang lebih memilih mengutak-atik smartphone dibanding memilih makan, hingga orang waras di sekitarnya sering menyebut makanan sehari-hari orang seperti ini adalah handphone. Kemudian pada saat waktu belajar lebih mengutamakan smartphone daripada buku pelajaran, sebentar-sebentar melihat ke layar smartphone, kapan, dan ke ­manapun pergi selalu membawa charger atau powerbank karena takut smartphonenya mati, kemudian ketika smartphone-nya mati, pecandu akan tergesa-gesa mencharger smartphone-nya, dan ciri terakhir adalah pecandu akut mengakibatkan bungkuk pada punggung, dan sakit mata.

Selama ini belum ada klinik atau panti rehabilitasi terhadap pengidap nomophobia itu, karena dari ­berbagai ciri, dan dampaknya hampir mirip dengan ­pecandu narkoba yang hanya diri dia sendiri yang mampu mengobatinya.

Tidak jarang ketergantungan terhadap ponsel menjadikan ponsel atau smartphone sebagai dewa atau menjadi nafas bagi orang yang memilikinya. Mereka beranggapan tak ada ponsel hidup ini hampa. Padahal dahulu sebelum tercipta ponsel pintar, orang-orangnya tetap hidup bahkan panjang umur.

Pecandu nomophobian ini akan merasa sulit, cemas, dan takut jika berjauhan dengan ponselnya. Sebentar-sebentar cek ponsel, cek media sosial, dan sebagainya, bahkan ketika berbicara dengan rekan sejawat, atasan  atau orangtua sekalipun mereka tetap tak bisa meninggalkan ponselnya.

Walaupun sedang tidur orang yang terkena penyakit nomophobia akan terbangun hanya sekedar mengecek ponselnya. Yang lebih parah lagi saat ke kamar mandi pun ponsel harus selalu menemani, dan tak lepas dari tangan. Kegelisahan, dan rasa cemas akan menjadi-jadi jika mereka mendapati ponselnya hilang.

Makin hari saat ini banyak aplikasi yang diciptakan untuk mempermudah segala kegiatan hanya dengan mengaksesnya melalui ponsel. Seperti bayar listrik bisa melalui ponsel, transfer uang bisa melalui smartphone, hingga memesan ojek on-line pun bisa melalui ponsel. Selain itu, banyak game seru yang bisa kita akses melalui ponsel. Ini yang memicu seseorang rentan terkena penyakit nomophobia, jika semua hal bisa dilakukan melalui ponsel pintar. Ditambah lagi sosial media yang semakin banyak jenisnya.

Kehadiran media sosial memaksa semua yang memiliki ponsel pintar menunjukkan eksistensinya. Meskipun tidak mengunggah status atau foto, tapi orang yang memiliki media sosial pasti mengecek timeline media sosialnya setiap hari. Beberapa ahli psikolog mengatakan kecanduan akan smartphone kini semakin meningkat, dan sudah mulai mewabah hingga anak-anak. Bahkan, kini balita pun keranjingan dengan ­gadget pintar ini.

Beberapa waktu lalu para ahli psikolog melakukan sebuah penelitian kepada para pelajar tentang penyakit nomophobia ini. Menurut hasil penelitian sekitar 72% dari hampir 1.000 pelajar sudah memiliki ponsel atau smartphone sendiri. Kisaran umur mereka di antara 11-12 tahun. Para pelajar tersebut biasanya menghabiskan waktu untuk bermain ponsel rata-rata 5-6 jam sehari. Dari hasil tersebut pun terungkap bahwa 25% anak-anak menunjukkan gejala penyakit nomophobia ini. Penelitian tersebut juga mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang dapat mengindikasikan kalau anak-anak terkena nomophobia.

Nampaknya gejala ini tidak terlalu jauh berbeda dengan orang dewasa atau berstatus pegawai sekalipun.  Coba cermati betapa getolnya mereka selfie atau memotret makanan sebelum memakannya untuk kemudian diunggah di media sosial hanya sekedar ingin menunjukkan eksistensinya kepada publik, dan lama-lama mereka akan menjadi mahluk anti sosial. 

Penulis: Sunarto (Acel Sebastian) / Kepala Bagian Umum Itjen Kemendikbud

Tags

Nomophobia