Pemerintah Dampingi Sembilan Festival Daerah


SEMBILAN dari 28 penyelenggaraan festival daerah di Indonesia akan didampingi oleh pemerintah pusat secara profesional dengan konsep Indonesiana yakni platform pendukung tata kelola kegiatan seni budaya berkelanjutan dan  berjejaring.

“Sebagian besar mutu (festival-red) minim karena tidak pernah difikirkan betul, kenapa diselenggarakan. Apa bakal ramai atau tidak, dan siapa yang bakal menyaksikan?. Misi untuk menghidupkan kembali pun tidak ada, “ kata Dirjen Kebudayaan Kemdikbud Hilmar Farid saat berkunjung ke Redaksi Kompas di Jakarta, Kamis (7/6).

Pendampingan  tata kelola festival daerah melalui konsep Indonesiana dilakukan mengingat sejauh ini meski begitu banyak festival digelar di berbagai daerah, kualitasnya masih sangat bervariasi, tidak memiliki standar.

Konsep Indonesiana didasarkan pada UU No. 5 tahun 2017 tentang Pemajuan dan perbaikan tata kelola kebudayaan yang pada pasal 43 dan 44 UU disebutkan, dalam pemajuan kebudayaan, pemerintah pusat dan daerah bertugas menghidupkan dan menjaga ekosistem kebudayaan berkelanjutan.

Sejak diberlakukannya UU tersebut, sejumlah pemda, baik provinsi,kabupaten mau pun pemerintahan kota ikut mendaftarkan diri dalam program Indonesiana dan dari 28 jenis festival yang didaftarkan, dipilih sembilan festival yang dianggap potensial memperoleh penguatan dalam hal publikasi, kuratorial, tata panggung serta penampilan.

Syarat kunci keberhasilan penyelenggaraan festival, menurut Hilmar Farid, adalah curator yang harus dipercaya. Banyak daerah sejauh ini selalu bergantung pada bupati, walaikota atau gubernurnya. “Terkait  festival, mereka harus menyerahkan pada kurator untuk menerjemahkannya, “ kata Hilmar.

Sementara Koordinator Humas dan Publikasi Indonesiana Amalia Prabowo mengemukakan, festival yang akan diberi penguatan harus memiliki sejumlah unsur seperti gotong-royong, partisipasi dan ketersambungan atau mampu menghidupkan wilayah lain dan bisa mendorong keragaman di masing-masing wilayah.

Pada tahap awal, proporsi pendanaan masig-masing festival 1 : 1 antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, sedangkan besarnya skala festival bergantung komitmen antara pemerintah dan daerah masing masing.   

Sembilan festival yang akan dikelola dengan konsep Indonesiana tahun 2018 a.l. Festival Fulan Fehan di Belu, Festival budaya Saman di Gayo Luwes, Aceh, Festival Gamelan Int’l di Jawa Tengah, Bebunyian Sintuvu di Sulawesi Tengah, Multatuli Arts Festival, Banten, Silek Arts Festival (Sumbar), Folklore Festival, Blora, dan Amboina In’tl Music Festival di Maluku.

Budaya nusantara perlu digali dan dihidupkan lagi, jika tidak, salah satu identitas dan khazanah aset bangsa  Indonesia teresebut bakal punah, tergerus penetrasi budaya asing.  (Kompas/NS)