Penerbangan Indonesia Kembali Berduka


DUNIA penerbangan Indonesia berduka lagi dengan jatuhnya pesawat Lion Air bersama seluruhnya 189 awak dan penumpangnya di lepas pantai Karawang, Jawa Barat, setelah hilang kontak 13 menit sejak mengudara dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Senin  (29/10) pukul 06.20 WIB.

Terlalu dini untuk menyimpulkan penyebab musibah pesawat Boeing B737 MAX8 bernomor penerbangan JT610 yang baru dioperasikan oleh Lion Air sejak 15 Agustus lalu dan baru menjalani 800 jam terbang, meski tidak mustahil, pesawat baru pun bisa mengalami kecelakaan. 

Contohnya, pesawat Sukhoi Superjet (SJ100) Rusia menabrak lereng Gunung Salak, Bogor  saat demo terbang  pada 9 Mei 2012 yang menewaskan seluruhnya  45 awak dan penumpangnya, kemudian pesawat Airbus A320 Air France dengan nomor penerbangan    AF 296 saat demo di atas Bandara Mulhouse-Habsheim, Perancis, 26 Juni 1988.  

Begitu pula, pesawat Airbus A330-200 Air France bernomor penerbangan AF447 yang baru dioperasikan beberapa tahun  jatuh di Samudra Atlantik bersama 228 penumpang dan awaknya pada 1 Juni 2009.                 

Kecelakaan pesawat terbang umumnya terjadi akibat faktor pilot (human error), kegagalan mekanis,  gangguan cuaca dan aksi sabotase.

Sang pilot, Bhavye Suneja yang warga negara India, sudah berkarier di Lion Air hampir delapan tahun dan mengantongi 6.000 jam terbang walau berdasarkan catatan, sekitar separuh kecelakaan udara, terjadi akibat faktor manusia terutama pilot dan bisa juga akibat kelalaian petugas pengatur lalu-lintas udara (ATC) atau tim mekanik.

Dari sisi mesin, pesawat, apalagi jenis paling baru seperti Boeing B373 MAX 8 yang mengalami musibah, dioperasikan dengan teknologi fly-by-wire secara berlapis-lapis. Jika terjadi ganggguan pada suatu peralatan, akan di”backed-up” dengan peralatan lain yang sama atau pilihan moda lainnya.

Saat terjadi musibah, cuaca di jalur penerbangan dilaporkan normal, sementara dugaan akibat ledakan bom yang dipasang bisa dikesampingkan karena pesawat tidak meledak di udara, dilihat dari serpihan pesawat dan barang-barang penumpang yang tidak menyebar di areal luas di atas permukaan laut.   

Kecelakaan pesawat akibat sabotase a.l. dialami pesawat Boeing B747 Panam dengan nomor penerbangan 103 di atas Lockerby, Scotlandia, 19 Okt. 1999 yang menewaskan seluruhnya 270 awak dan penumpangnya. Kemudian terbukti, pesawat meledak di udara akibat bom yang dipasang oleh agen-agen Dinas Rahasia Libya.

Pesawat Malaysia Airlines (MH17) meledak di udara bersama seluruhnya 283 awak dan penumpangnya pada 17 Juli 2014 akibat dirudal saat melintas di wilayah konflik antara kelompok separatis Ukraina dan milisi pro-Rusia.

Sebaliknya, serpihan pesawat JT 610 dan barang-barang milik korban mengapung di radius sempit di perairan sekitar lepas pantai Karawang, sehingga memperkuat dugaan pesawat kehilangan daya angkat, menukik tajam dan menghunjam permukaan air.

Namun kepastian penyebab kecelakaan baru bisa ditetapkan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) berdasarkan hasil rekaman suara kokpit (VCR) dan rekaman data penerbangan (FDR) yang ada di kotak hitam (black box) yang sejauh ini belum ditemukan.

Operasi pencarian badan pesawat di dasar laut masih terus berlangsung dengan mengerahkan belasan kapal dari TNI-AL, Basarnas, Kolinlamil dan BPPT, dua helikopter, satuan Denjaka Marinir , kopaska dan satuan-satuan lainya.

Serpihan-serpihan pesawat dan sejumlah barang-barang pribadi, sementara sejumlah potongan jenasah telah ditemukan dan dikirim ke RS Bhayangkara, Polri untuk diidentifikasi.

Kecelakaan Pesawat Lion

Sejumlah musibah  dialami pesawat Lion Air, mulai dari Boeing B737-200 dengan nomor penerbangan JT 292 rute Jakarta – Pekanbaru- Batam yang terhempas beberapa saat setelah megudara dari Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, menyebabkan tujuh penumpang patah tulang (14 Jan. 2002).

Pesawat MD-82 dengan nomor penerbangan JT 538 tergelincir hingga pemakaman umum saat mendarat di Bandara Adi Sumarmo, Solo pada 30 Nov. 2004, menyebabkan 26 penumpamg tewas dan 55 luka-luka.

Pesawat Boeing B737-800 dengan nomor penerbangan JT 904 rute Bandung – Denpasar tercebur di tepi pantai, beberapa puluh meter menjelang landasan Bandara Ngurah Rai pada 13 April, 2013, menyebabkan 45 dari seluruhnya 101 penumpang dan tujuh awak cedera.

Kabin pesawat Boeing B737-900 ER bernomor penerbangan JT 600 rute Jakarta – Jambi mengalami dekompresi sehingga penumpang menggunakan selang oksigen dan pendaratan pesawat dialihkan ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang.

Di bawah guyuran hujan deras, pesawat B737-800 dengan nomor penerbangan JT892 tergelincir dan mengalami rusak parah di Bandara Djalaluddin, Gorontalo pada 29 April, 2018 sehingga sejumlah penumpangnya dirujuk di rumah sakit setempat.

Lion Air yang didirikan pada 15 November 1999 dan saat ini memiliki armada 118 pesawat penumpang berbagai jenis dan sudah memesan 201 unit pesawat Boeing B737 seri MAX sejak 2011 diklasifikasikan sebagai maskapai penerbangan berbiaya rendah (low cost carrier). Menurut catatan, satu pesawat B737 MAX8 berharga sekitar       Rp830 milyar.

Yang mungkin perlu didalami oleh KNKT terkait penyebab kecelakaan JT610 yakni catatan riwayat pesawat (log book) yang menyebutkan, ada gangguan teknis pada pesawat dalam penerbangan sehari sebelumnya (28/10) saat menerbangi rute Denpasar – Jakarta. Sejauh mana temuan itu ditindaklanjuti dan ditangani?

Penumpang dengan tiket murah, tentu bukan berarti keselamatan mereka dinomor duakan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tags

Pesawat Lion B737 MAX8
Lion penerbangan JT 610