PENGANTIN BARU


Mpok Mumun agak sewot menerima keputusan calon besannya yang menetapkan hari dan bulan perkawinan anak mereka bersamaan dimasa pandemi copid saat ini. Bukan lantaran mahar yang kekecilan tetapi  mereka tidak bisa tajir di pentas pelaminan seperti orang lain, apalagi undanganpun dibatasi  beberapa orang saja dan selebihnya dilakukan secara virtual.

“Sampeyan tidak perlu keluar banyak uang untuk perkawinan nanti”, kata si calon besan mencoba meredakan mpok Mumun yang dalam suasana perundingan hampir saja berakhir dijalan buntu.

Dalam fikiran mpok Mumun bukan soal itu, tetapi dibenaknya berputar-putar soal melunasi persiapan baju pengantin  untuk puterinya selain perbaikan rumah dan kamar pengantin sementara harapan memperoleh saweran amplop akan pupus lantaran yang hadir bisa dihitung jari.

“Barangkali nanti diantara undangan virtual akan ada yang  mengirim uang melalui rekening mpok, kan   bisa untung besar,” kata sang besan lagi.

Mpok Mumun dan suaminya Kang Aden tidak terlalu perduli ocehan sang besan, apalagi kalimat terakhir yang seakan-akan merendahkan keluarganya.

Ternyata kegundahan mpok Mumun benar-benar terjadi. Ketika sang penghulu hanya membolehkan kehadiran sepuluh orang pada saat akad nikah di kantor KUA dengan alasan kewajiban untuk memenuhi aturan protokol kesehatan.

“Bodo amat, yang penting kewajiban orang tua untuk mengawinkan anaknya sudah selesai,” guman mpok Mumun dengan muka sedikit ditekuk menerima ucapan selamat dari undangan yang hadir.

Puteri semata wayang dari keluarga mpok Mumun dan Kang Aden masih terbilang imut, maklum baru tamat madrasah sementara menantunya bertubuh tinggi besar mirip figur wayang  Rahwana yang mempersunting kekasih hatinya Shinta.

Rasa menyesal tidak ada gunanya lagi, walaupun dalam fikiran mpok Mumun dan suaminya merasa kasihan dan agak takut ketika  menghayalkan puterinya bakal di banting-banting sang suami di malam pertama.

Malam demi malam berlalu begitu cepat, sementara mpok Mumun dan suaminya bagaikan Hansip yang ronda malam selalu siap siaga memasang kuping didinding kamar pengantin, kalau-kalau terjadi situasi darurat. Hingga malam ke tujuh yang kebetulan malam Jumat terdengar suara gedebug kemudian sepi lagi hingga pagi hari.

“Duhh mati anak kita,” kata mpok Mumun memberi kode kepada suaminya yang sudah keletihan bersiaga 24 jam.

Esok harinya, pagi-pagi sang menantu sudah berangkat kerja sehingga ada kesempatan bagi suaminya melakukan investigasi TKP di kamar pengantin itu. Tetapi lantaran kelelahan, ia ketiduran di ranjang pengantin.

Ketika mpok Mumun mengintip kamar pengantin, dilihatnya ada sosok yang lagi menggunakan kain sarung milik anaknya. Kain itu kadang-kadang tersingkap oleh hembusan kipas angin hingga terlihat jelas anu nya.

“Bapak, bapak, anak kita bapak, sampai keluar usus rempelonya ” teriak mpok Mumun sambil menangis meronta-ronta hingga mengejutkan suaminya yang sudah pulas.

Suaminya melompat dari tempat tidur pengantin sambil membenarkan kain sarung milik puterinya dan baru sadar kalau ia tidak memakai celana dalam.