PENSIUNAN PENGEN PANJANG UMUR


Tidak banyak  kaum pensiunan segundah Umar Baki ketika beberapa bulan lagi memasuki usia pensiun sebagai Aparat Sipil Negara. Bukan lantaran masalah menurunnya penghasilan rumah tangga dan bukan pula berakhirnya kegagahan berbaju safari ketika berada di muka kelas.

Walaupun ASN yang pensiun ratusan ribu orang setiap tahunnya, namun kabar kegelisahan tokoh yang satu ini akhirnya sampai juga ke telinga pak Kades, apalagi kesan keseharian guru Umar Baki yang tadinya selalu ceria tiba-tiba menjadi murung, suka ngelamun ketika berada di depan kelas.

Hari demi hari, kabar iba itu merambat ke se-antero kampung. Maklum si beliau adalah tokoh panutan yang dinilai sangat berjasa bagi kampung itu. Lihat saja prestasi pak Kades, pak Babinsa, juragan empang sampai komandan Satpol PP di kecamatan yang seluruhnya adalah bekas anak muridnya.

Bagi pak Kades, suasana ini dinilai sebagai darurat lokal yang harus ditanggulangi segera sebelum nantinya tekanan kejiwaan bapak Umar Baki tambah darurat lagi. Maka, dibuatkan komisi khusus kampung yang bertugas untuk menanggulangi bencana itu.

“Susudara susudari, kegundahan pak Umar Baki adalah kegundahan kita semua. Kesedihan beliau adalah petaka bagi kampung kita,” ucap pak Kades menggelagar, ketika memimpin rapat pertama pembentukan komisi khusus itu sekaligus  mencerminkan betapa seriusnya urusan yang satu ini.

Komisi khusus yang tadinya hanya menyelidik asal muasal kegundahan semata, belakangan karena banyak usulan warga kampung maka dibuat beberapa divisi yang mencari tahu dari sudut pendekatan medis, psikis, ekonomi sampai divisi perdukunan.

Dalam hitungan hari, masing-masing divisi melaporkan progress kerja dalam sebuah rapat peleno desa yang sangat heboh. Dari divisi perdukunan misalnya, menyingkap hipotise yang menyebut bapak Umar Baki kemungkinan terkena serangan gaib lantaran pernah menebang pohon nangka disamping rumahnya. Hasil kerja divisi ekonomi menemui kebuntuan dalam penyelidikan. Pasalnya bapak Umar Baki ternyata memiliki simpanan uang yang banyak di koperasi desa sehingga tidak ada alasan beliau gundah karena masalah uang.  Walaupun sudah lama hidup menduda, namun anak semata wayangnya yang  sudah berkeluarga selalu menyayanginya.

Semua divisi sudah melaporkan hasil investigative reporting dan bahkan mereka bekerja lebih piawai dibanding badan intelejen maupun lembaga survei manapun. Dengan hasil yang dilaporkan kepada pak Kades, kesimpulannya “nihil” oleh penyebab apapun.  Cuma ada sebuah asumsi dari mpok Zenab yang dikesampingkan dalam hiruk pikuk rapat paripurna itu yang melukiskan kegundahan bapak Umar Baki.

Dalam rapat pleno berikutnya, pak Kades sengaja mengundang Mpok Zenab sebagai nara sumber akhli yang diharapkan mampu membedah akar masalah kegundahan Bapak Umar Baki.  Mpok Zenab adalah bidan di Puskesmas yang sempat merekam melalui HP  hasil pembicaraan antara dokter Puskesmas dengan  Bapak Umar Baki ketika memeriksa kesehatan pekan lalu.

“Dok, saya tidak lama lagi pensiun, saya minta saran untuk bisa panjang umur”, demikian kutipan pembicaraan Bapak Umar Baki yang sempat 86 di copy mpok Zenab.

Dokter :  Apa bapak masih minum kopi?

Umar Baki :  Sudah gak lagi begitu juga  sudah lama tidak merokok”

Dokter  :  Makan daging kambing?

Umar Baki :  Sudah gak juga, saya gak berani karena sudah duda

Dokter : suka hiburan atau dogem gitu?

Umar Baki : gak minat dok

Dokter :  Menyantap buah duren?

Umar Baki : Apalagi itu, bisa stroke

Dokter : Masih berhubungan intip dengan isteri?

Umar Baki : Waktu mendiang isteri saya masih hidup saja sangat jarang dan kini malah tidak ada gairah lagi.

Dokter  : Tapi masih suka melirik cewek cantik kan?

Umar Baki  :  Ya gak lah dok, takut

Dokter  : Takut apa gak minat?

Umar Baki  :  Ya gitulah

Dokter  :  (mulai kesal)  Alamakkkkk  KALO HIDUP KAYAK GINI, NGAPAIN JUGA BAPAK MASIH PENGEN HIDUP UMUR PANJANG.  (emte)