Perlu Kombinasi KBM


Wakil Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian mengatakan perlu ada kombinasi dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM) apabila sekolah mulai dibuka di masa pandemi. Kombinasi tersebut ialah menggabungkan antara belajar secara virtual dan tatap muka.

Dengan demikian, guru maupun siswa bisa secara selang-seling melangsungkan belajar melalui virtual baru kemudian bertatap muka. Adapun hal tersebut sebagai bentuk adaptasi dunia pendidikan dalam memasuki new normal atau normal baru.

"Arah kegiatan belajar mengajar ke depannya diharapkan dapat mengkombinasikan antara tatap muka dan virtual. Sehingga dapat meminimalisir adanya kontak langsung dengan mengoptimalkan sarana dan prasarana yang tersedia. Kemendikbud harus terus menggencarkan program peningkatan kapasitas guru, kepala sekolah, dan orangtua agar hal ini dapat berjalan efektif," ujar Hetifah kepada wartawan. 

Hetifah mengatakan, untuk menunjang kegiatan belajar yang masih mengandalkan virtual maka Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus bekerja sama dengan Kementerian Komunimasi dan Informatika untuk meningkatkan akses internet hingga ke pelosok negeri.

"Saya harap hal ini dapat menjadi prioritas untuk didorong satu-dua tahun ke depan agar tidak ada lagi golongan yang termarjinalkan. Sebelum hal itu terwujud, Kemendikbud harus memikirkan program-program afirmasi bagi mereka, seperti program-program TVRI dan RRI, pendampingan guru ke rumah, dan lain-lain," kata Hetifah.

Diketahui, Pemprov DKI Jakarta telah menetapkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) akan dimulai pada 13 Juli mendatang. Kendati demikian, para siswa belum tentu melaksanakan KBM di lingkungan sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan DKI Nahdiana mengatakan tanggal 13 Juli yang tertulis dalam kalender akademik tahun ajaran 2020/2021 itu adalah dimulainya jadwal KBM. Sementara mengenai dibukanya kembali gedung sekolah di tengah penyebaran virus corona Covid-19, masih menunggu perkembangan penanganannya.

"Pelaksanaan kegiatan pembelajaran pada permulaan tahun pelajaran baru tersebut bukan merupakan pembukaan kembali sekolah. Pembukaan Sekolah akan dilakukan setelah situasi dan kondisi dinyatakan aman dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan," ujar Nahdiana kepada wartawan, Kamis (28/5/2020).

Selain itu, jadwal KBM ini disebutnya masih bisa berubah karena virus corona masih menyebar di Jakarta. Jika ada intervensi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, maka ia akan mengubahnya.

"Perubahan Awal Tahun Pelajaran Baru dapat dilakukan apabila ada kebijakan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengingat kondisi pandemi COVID-19 belum berakhir," jelasnya.

Proses KBM yang dilakukan pada 13 Juli ini disebutnya dilakukan dengan belajar dari rumah atau jarak jauh. Ia meminta agar publik khususnya orang tua murid tak menyalahartikannya.

 

Pengalaman Australia

 

Baru empat hari dibuka, salah satu sekolah di Melbourne, Australia harus kembali ditutup setelah satu siswanya didiagnosis terinfeksi virus Corona Covid-19. 

 

Menyadur 9News, Keilor Downs College yang terletak di barat laut Melbourne akan kembali menjalani pembersihan. Semua murid dan staf yang terlibat kontak langsung bakal diisolasi.

Kepala Kantor Kesehatan Profesor Brett Sutton menyebut siswa kelas 11 itu merupakan satu dari lima anggota keluarga yang dinyatakan terinfeksi Covid-19.

Pihak berwenang masih berusaha menentukan bagaimana orang pertama dalam keluarga itu terinfeksi.

"Siswa lain harus dikarantina juga karena ada di satu ruang bersama," kata Prof. Sutton dikutip dari 9News, Jumat (29/5/2020).

"Sekolah akan tutup hari ini untuk keperluan pelacakan kontak yang biasa dan rutin, mengidentifikasi siapa yang dekat dengan kontak dan memastikan bahwa orang itu dikarantina."

Sebelumnya, seorang guru dari sekolah yang sama turut dinyatakan positif Covid-19 pada Jumat pekan lalu.

Namun, hal itu tak membuat kebijakan Australia membuka kembali sekolah diurungkan.

Menteri Pendidikan Australia, James Merlino ebelumnya menyebut bahwa guru tersebut belum sekalipun mengunjungi sekolah. Dia juga mengikuti tes di kawasan tempat tinggalnya.

Australia sejatinya telah mempersiapkan pembukaan kembali sekolah dalam jauh-jauh hari.

Bahkan, mereka telah mengetes sekitar 10 ribu staf sekolah agar memastikan kegiatan velajar mengajar bisa berjalan aman.

Departemen kesehatan setempat mengungkapkan bahwa kejadian ini memberikan gambaran bahwa sangat penting untuk mengetahui siapa saja yang mengalam gejala ringan di tengah pelonggaran aturan sosial.

"Itulah sebabnya pesan tentang siapa pun yang mengalami gejala ringan dites adalah sangat penting," kata pernyataan departemen esehatan Australia.