PERLUKAH PERSONAL BRANDING BAGI PNS


Sesekali datanglah menikmati kopi di kawasan Jalan Thamrin Jakarta, terutama pada saat  jam istirahat makan siang. Dengan mudah terlihat perbedaan  mana yang berstatus pegawai pemerintah dan mana pegawai swasta. Bukan kreteria soal cara menikmati kopi atau cara mereka berpenampilan tetapi lihatlah karakter diantara mereka yang dengan “hitam putih” membedakan satu sama lain tentang siapa yang memiliki ciri khas  membangun personal branding.

Mengapa itu terjadi?, jawabannya sederhana bahwa pegawai swasta sudah terbiasa dan menjadi kebiasaan dilingkungan korporasinya untuk tampil dengan personal branding sebagai bagian dari kewajiban membangun corporate branding,  sangat berbeda dengan kebiasaan  dilingkungan pegawai negeri sipil (PNS) yang relatif bukan menjadi “darah daging” betapa pentingnya soal personal branding itu.

Atau jika kebetulan jalan-jalan di kawasan sibuk di Singapura, sesekali cermati manusia berdesak-desakan di pelataran  kondominium tertinggi diseputar Marina Bay Area, Singapura, yang saban hari selalu tergesak-gesak menuju pusat transportasi tanpa sulit membedakan antara mana yang berstatus pegawai pemerintah dan mana pegawai swasta karena mereka rata-rata setara. 

Kecuali dunia swasta, di Indonesia belum terbiasa   membangun personal branding, sementara negeri jiran Singapura sudah menjadi “keharusan” bagi warganya sebagai bagian tradisi membangun imej negara.

Secara sederhana, personal branding adalah proses memasarkan diri dan karier melalui suatu citra yang dibentuk untuk khalayak umum. Pencitraan  ini kemudian dapat dipresentasikan lewat berbagai jalur, seperti media sosial, blog, situs web pribadi, hingga perilaku di depan umum. Layaknya produk atau jasa, brand personal memberikan gambaran tentang pengalaman yang akan didapat konsumen ketika berinteraksi dengan pemilik brand.

Brand personal yang baik dapat memberikan keuntungan secara dua arah. Pemilik brand bisa membuat produk atau perusahaan miliknya dikenal lebih luas, sementara calon konsumen bisa merasa lebih percaya diri untuk melakukan transaksi. Keuntungan ini juga terbawa ke luar perusahaan, karena jika perusahaan sukses, citra diri akan ikut terangkat.

Brand personal ibarat pedang bermata dua. Ketika pribadi seseorang dipersepsikan dengan suatu produk/perusahaan, maka citra baik dan buruk perusahaan akan turut meningkat seiring semakin dikenalnya pribadi tersebut.  Dalam hal persiangan bisnis, coba cermati tentang  sosok Steve Jobs yang selalu dikaitkan dengan keberhasilan Apple, sementara di sisi lain ada sosok Keiji Inafune yang akan selalu dikaitkan dengan kegagalan Comcept.

Membangun personal branding harus terencana dengan baik dan benar-benar harus dapat dipercaya.   Slogan “jadilah dirimu sendiri” tidak bisa diterapkan begitu saja dalam personal branding. Sama seperti produk,   juga harus menunjukkan citra pribadi yang positif di depan publik. Ini bukan berarti  kita   perlu berbohong atau bersandiwara, tapi   harus tahu kesan seperti apa yang diingankan dalam pandangan orang.

Apakah anda ingin dikenal sebagai programmer andal? Motivator yang inspiratif? Atau fashionista yang pandai menciptakan tren baru? Temukan kelebihan yang kamu miliki, dan tonjolkan karakteristik tersebut dalam konten-konten (artikel, foto, video, dan sebagainya) buatanmu.

Semakin baik dan banyak konten yang kamu buat, kredibilitasmu dalam bidang terkait juga akan ikut meningkat. Banyaklah membuat konten yang sifatnya membantu orang lain, supaya orang lain  bisa merasakan manfaat langsung ketika terpapar brand personalmu.

Membangun personal branding sama halnya dengan menjadikan dirimu seorang figur publik. Kepribadianmu adalah aset terbesarmu, jadi   harus menjaganya agar selalu tampak baik di muka umum. Tidak salah jika banyak kesempatan meluangkan waktu   untuk menghadiri acara-acara offline dan bertatap muka dengan orang lain. Di dunia maya, kamu perlu berinteraksi dengan para konsumen secara reguler, misalnya membalas komentar, menjawab pertanyaan, dan sebagainya.

 Jagalah perilaku di media sosial seperti Facebook, Twitter, atau Instagram. Media sosial sejatinya adalah ruang publik juga, jadi apa ditulis di sana akan dilihat dan dinilai oleh masyarakat.

Saat ini mendokumentasikan perilaku dimedia sosial sudah sangat mudah, jadi jejak digital tentang kegagalan menjaga perilaku bisa merusak citra diri dan institusi kita dan atau bila anda   seorang karyawan tidak menutup kemungkinan akan membuat   kehilangan pekerjaan.(emte)