PINTAR DAN CERDAS ITU BEDA


Seringkali banyak orang beranggapan bahwa pintar dan cerdas memiliki makna yang sama.  Kata pintar dan cerdas memang merupakan sesuatu kata yang maknanya hampir sama, tetapi definisi sebenarnya sangatlah berbeda.  Sebaiknya kepintaran itu diiringi dengan kecerdasan agar mampu mengembangkan setiap potensi  kepintaran dan kecerdasan yang saling melengkapi.

Makna  pintar  lajimnya adalah mengetahui, pandai, memiliki ilmu. Tak heran jika pintar selalu dikaitkan dengan prestasi akademik, karena orang pintar selalu bergelut pada ilmu. Orang pintar mampu mencerna apapun dengan sempurna sehingga memiliki pengetahuan yang sangat luas, dan pengetahuan tersebut lah yang menjadi senjata utamanya. Orang pintar juga dikenal akan disiplin dan teratur, sehingga ia selalu mampu mengerjakan setiap hal yang diperintahkan.

Berbeda dengan pintar yang membutuhkan proses, cerdas merupakan anugerah bawaan dari lahir dan tak bisa dicari. Oleh karena itu, orang cerdas seringkali berimprovisasi dan lebih kreatif dalam melakukan sesuatu. Kemampuan berfikir orang cerdas sangatlah cepat, sehingga ia sangat mudah mengerti, memahami, dan menangkap maksud dari suatu kondisi atau keadaan.

Menurut, Kamus Besar Bahasa Indonesia 2001, salah satu arti kata cerdas adalah tajam fikiran. Orang cerdas tidak terpaku pada teori namun lebih terhadap pemahaman konsep. Bagi orang cerdas, senjata utamanya adalah logika, dan pengetahuan yang ia dapat dari teori hanyalah sebagai pendukung. Tak heran jika orang cerdas, tidak hanya menguasai satu materi yang itu-itu saja, biasanya orang cerdas mampu menguasai beberapa bidang tertentu, seperti musik, olahraga, seni, dan lainnya.

Berbeda dengan orang pintar yang disiplin dan teratur, biasanya orang cerdas justru terlihat lebih santai. Namun bukan dalam arti negatif, orang cerdas tahu kapan ia harus santai dan serius, karena orang cerdas sangat fleksibel. Orang cerdas lebih mengandalkan pikiran kritis dan pengalaman. Secara emosional, orang cerdas cenderung lebih stabil emosinya dibanding orang pintar.

Saya teringat sahabat lama yang dulu pernah tinggal di Garut. Banyak orang memanggilnya Kang Asep, pedagang keliling  dengan cara mengkreditkan barang-barang berupa jaket kulit domba disertai dengan ikat pinggang dan dompet. Produk rumahan ini diberi labeling dengan nama dagang “Asgar, merek yang mirip dengan produk serupa dari Meksiko.

Kang Asep selain menerima titipan produk dari tetangganya, juga dia beserta anak isterinya membuat sendiri jaket kulit dan produk turunannya seperti ikat pinggang, dompet, tas sampai gantungan kunci hingga hampir-hampir kulit mentah yang dibelinya tidak banyak tersisa.

Dalam petualangannya  masuk kampung keluar kampung menjadi pedagang keliling, Kang Asep sempat mampir di rumah makan Padang yang menyajikan makanan dan juga kerupuk kulit yang tertulis jelas “Kerupuk Jangek Dari Bukit Tinggi”.

“Kenapa enggak ku manfaatkan saja sisa kulit yang bertumpuk di rumah untuk dijadikan kerupuk jangek”, fikir Kang Asep  berkhayal sambil mencermati bungkusan  kerupuk khas itu.

Setibanya di rumah, Kang Asep sempat sibuk mengumpulkan sisa potongan kulit hingga memancing keheranan isterinya. “Ahhh kenapa akang agak aneh hari ini,”guman isterinya keheranan.

Belum sempat terjawab tuntas, tiba-tiba Kang Asep meminta anak isterinya untuk berkumpul ditengah rumah berbilik bambu itu sembari berpidato bagaikan seorang politisi merangkap akhli marketing. Tapi ide itu sempat ditentang anaknya, dengan alasan ketidak lajiman.  Bahkan isterinya sempat mengemukakan kehawatirannya kalau bisnis ini berkembang besar jangan-jangan di kampungnya tidak ada lagi beduk lantaran digoreng  untuk kepentingan bisnis kerupuk jangek.

Kang Asep nampaknya kalah voting, tetapi untuk tidak kehilangan muka kemudian dia ubah tema diskusi tentang rencana ikut lomba pertandingan domba sehat di kampungnya. Ide itu disambut hangat anggota keluarganya dengan persetujuan secara aklamasi.

Esoknya harinya, ditengah-tengah festival lomba domba se-antero Garut, Kang Asep tampil percaya diri dengan menyertakan domba terbaiknya. Entah seakan Tuhan sedang memberi keberuntungan bagi seseorang yang selalu tidak pernah kering ide dan inovasi, hingga akhirnya domba Kang Asep menjadi juara pertama dengan hadiah uang tunai Rp.300.000,-

Saking girangnya, Kang Asep mengibas-ngibaskan uang lembaran hadiah di depan muka domba namun entah kenapa tiba-tiba “sang Juara” langsung mematuk dan menelannya mentah-mentah duit hadiah. Isteri, anak dan Kang Asep sama-sama terkesima atas kejadian luar biasa dan sangat cepat itu. Tapi berbekal dari pengalaman memelihara domba, Kang Asep  tetap tenag karewna sudah tahu cara mengeluarkan makanan dari perut domba dengan hanya memberi minuman kopi.

Menjelang sampai di rumah, Kang Asep sempat mampir di warung Kang Haji Dadang untuk membeli minuman kopi untuk kemudian diminumkan kepada domba kesayangannya itu. Teori Kang Asep ternyata manjur. Beberapa saat minuman kopi diberikan, hanya sekali tepuk di perut domba langsung terlihat kertas merah Seratur Ribuan keluar dari mulut.  Disudut lain, sejak awal Kang Haji Dadang memperhatikan keanehan   yang cuma memberi minum kopi kemudian menepuk perut domba sudah menghasilkan uang.

“Saya beli dah dombanya Rp 10 Juta”, pinta Kang Haji Dadang makin penasaran namun Kang Asep tidak memperdulikan tetapi  terus bekerja menepuk-nepuk perut domba bersamaan dengan  keluar lagi selembar uang Seratus Ribuan.  Kang Haji Dadang makin terkesima sambil menaikan tawaran Rp30 Juta namun Kang Asep tidak juga menjawab.

“Beginih beginih, gimana kalau saya bayar tunai Rp 50 Juta?”kata Kang Haji Dadang setelah tepukan ketiga juga keluar uang lembaran Seratus Ribu.

Dengan bekal kecerdasan, tanpa fikir panjang langsung diterima tawaran menggiurkan itu.  Dalam kalkulasi difikiran Kang Asep, peluang tidak akan mungkin terulang dua kali.  Sementara ketika domba diserahkan, kang Haji Dadang menari-nari kegirangan lantaran di benaknya pasti  sang domba akan menjadi pabrik uang dan seketika akan menjadi orang kaya.

Besok harinya, di depan warung Kang Haji Dadang dipenuhi  warga desa. Bukan soal berita adanya domba ajaib tetapi  mata tertuju kepada borgol polisi yang melingkar dipergelangan Kang Haji.  Usut punya usut, rupanya   Kang Haji dituduh menyiksa domba semalam suntuk sampai mati lantaran  sangat bernafsu menunggu  lembaran uang warna merah keluar dari  mulut domba . (emte)