Revolusi Industri 4.0 Ancam Lapangan Kerja


(Depok/Itjen Kemendikbud)- Jika tidak diantisipasi dengan menyiapkan diri dan meningkatkan kompetensi, revolusi industri 4.0 yang menghasilkan kemajuan teknologi bakal mengancam lapangan kerja global dan di dalam negeri.

Hal itu diingatkan dalam dokumen revitalisasi pendidikan vokasi yang merupakan salah satu tema bahasan utama Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK 2019) Kemendikbud yang digelar di Pusdiklat Kemendikbud, Sawangan, Depok, Jawa Barat, 11 sampai 14 Februari.

Disebutkan, kemajuan teknologi di era revolusi 4.0 membuat suatu mesin atau alat kerja tidak lagi berfungsi sendiri-sendiri, melainkan terkoneksi satu dan lainnya, bertumpu pada cyber physical system sehingga akan mengubah pola kehidupan dan berkomunikasi serta tata kerja.

Inovasi yang diciptakan, memang bakal membuat kehidupan lebih nyaman. Namun, tantangan yang harus dipecahkan juga sangat rumit. Pekerjaan yang semula dilakukan secara manual mengandalkan tenaga manusia, digantikan mesin dan teknologi informatika.

Pekerjaan yang dilakukan sekarang, perlahan akan hilang pada 10 tahun ke depan dan diperkirakan 35 persen keterampilan dasar akan berubah pada tahun 2020, mengancam hampir dua miliar pekerja di dunia yang bakal berisiko kehilangan pekerjaan.

Bagi Indonesia, tantangan ini perlu diubah menjadi peluang.Dengan memberdayakan generasi dan kemajuan teknologi, Indonesia perlu menyiapkan generasi inovator untuk mengolah keanekaragaman sumber daya alam yang melimpah menjadi produk barang dan jasa yang bernilai untuk menciptakan jutaan lapangan kerja baru.

Untuk itu, pembelajaran di SMK harus mengembangkan keterampilan Abad XXI agar menghasilkan lulusan yang inovatif, inventif, bermotivasi tinggi dan mandiri, serta pemecah solusi yang kreatif untuk mengatasi problem global yang kompleks.

Tantangan kedua adalah globalisasi, terutama berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mulai akhir 2015 yang memungkinkan peningkatan mobilitas dan persaingan tenaga kerja secara bebas antarsesama negara anggota ASEAN.

Konteks Regional ASEAN
Berbagai perubahan sosial-ekonomi di Indonesia hingga 2030 harus ditempatkan pada konteks regional (ASEAN) dan global. Berlakunya integrasi ekonomi kawasan dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) merupakan konteks regional yang perlu diperhitungkan.

MEA memiliki berbagai implikasi terkait dengan pengembangan SDM, sedangkan perubahan-perubahan struktural terkait MEA akan menyebabkan peningkatan kebutuhan pekerja terampil serta menurunkan kebutuhan pekerja tidak terampil.

MEA diharapkan akan menjadi pendorong bagi perekonomian yang padat keterampilan (skill intensive economies) karena banyak anggota ASEAN telah bergerak menuju produksi dan ekspor yang pengerjaan serta teknologinya membutuhkan keterampilan dan produktivitas tinggi.

Diperkirakan pada tahun 2010 hingga 2025, permintaan pekerja terampil di kawasan ASEAN naik sekitar 41 persen atau sekitar 14 juta orang. Separuh dari angka tersebut merupakan kebutuhan Indonesia disusul Filipina (4,4 juta orang). Sesuai dengan skenario MEA, pada tahun 2025 di Indonesia akan terjadi kenaikan peluang kerja sebanyak 1,9 juta (sekitar 1,3 persen total lapangan kerja). Bagi Indonesia, revolusi industri 4.0 merupakan tantangan, sekaligus peluang. Pilihan ada di tangan kita.

RNPK 2019 diikuti sekitar 1.240 peserta terdiri dari jajaran kemendikbud pusat dan daerah, kepala-kepala dinas, atase pendidikan di luar negeri, serta perusahaan mitra Kemendikbud. Sejumlah menteri dan para pakar serta tokoh pendidikan juga hadir sebagai narasumber. (NS)