SALAH KAMAR


Sebagai kepala desa Jengkol Kejepit, Juminten terasa amat lega setelah menunaikan hajatan besar menyelenggarakan sunatan putera satu-satunya yang dikenal bongsor melebih ukuran anak seusianya. Tidak hanya sukses, pundi-pundi Juminten pun kian menumpuk dari gratifikasi  hampir seluruh warga desa Jengkol Kejepit.

Sang suami, Sumino, hampir-hampir kalah pamor dengan isterinya . Tidak hanya  pengangguran juga dikenal pemalas yang kerjaannya hanya makan dan tidur menikmati jerih payah sang isteri. Cuma kelebihan Sumino terlihat ganteng melebihi rata-rata lelaki di desa itu serta tipe orang tua yang penyayang terhadap anak tunggalnya.

Tiap pagi kerjaan Sumino hanya mengantar anaknya ke sekolah SD yang badannya hampir sama besar dengannya, atau mengelus-ngelus  burung perkutut kesayang  sebelum beranjak tidur. Tapi ketika upacara sunatan, Sumino sempat pencuri perhatian ketika menyanyi di panggung dangdutan bagai seorang biduan ternama, sampai-sampai pak camat yang turut hadir memintanya untuk terus bernyanyi.

Juminten paham betul karakter suaminya. Yang penting tidak mengganggu tugasnya sebagai kepala desa serta tidak mencoba-coba untuk berselingkuh seperti umumnya lelaki ganteng.

Setelah usai penyelenggaraan sunatan yang berlangsung dua hari dua malam, Juminten sengaja membiarkan suaminya istirahat di kamar yang bukan kamar pribadinya, bersebelahan dengan kamar tidur puteranya yang masih memakai sarung yang sama motifnya dengan sarung Sumino.

Walaupun kenduri sudah resmi bubar, tapi sore itu masih ada saja tamu yang datang. Tadinya Juminten terkesan agak menolak menerima kehadiran tamu itu, maklum sedang    membebereskan baju-baju kenduri yang bertumpuk ria.

Tamu terakhir itu tidak lain adalah Sumiati, sohib kental Juminten ketika bersekolah dulu. Maklum karena sahabat dekat, Juminten membiarkan tamunya seperti keluarga.

Sumiati : “jeng, mana anaknya yang baru disunat”

Juminten : “tuh dikamar lagi tiduran, samperin aja”

Sumiati berjalan sendiri menuju kamar sambil membawa kado untuk putera Juminten. Sejak membuka kamar, mata Sumiati terbelalak dan takjub melihat sosok yang sedang terbaring ditempat tidur dengan kain sarung terbuka lebar sementara kepalanya tertutup selimut.

Dadanya berdegup kencang ketika mencermati “anunya” yang besar melintang sudah berurat-urat bagaikan urat leher sapi yang akan disembelih. Anehnya  lagi tidak ada bekas sayatan serta tanda-tanda apapun bekas disunat. Sempat berniat untuk merabanya, namun takut kalau terbangun sehingga tertahan hanya sekedar memandang jarak dekat saja sebelum keluar kamar.

Sumiati : “duh jeng, bentuknya bagus banget, jahitannya rapi dan sudah mengering, pokoknya sempurna deh bagaikan lelaki perkasa”

Juminten : “emang kamu lihat di kamar mana”

Sumiati : “yang tidur  di kamar dekat jendela itu”

Jumintan :  “Duhhh bukannnnnnnnnnnnnnnnn, itu suami aku”