Sastra Jawa Tak Bisa (Lagi) Andalkan Media Cetak


PUBLIKASI karya sastra Jawa tidak bisa lagi mengandalkan media konvensional atau media cetak seperti buku, majalah atau surat kabar, tetapi harus memanfaatkan kemajuan teknologi informasi melalui digitalisasi.

“Sayangnya, orientasi pengarang sastra Jawa selama ini masih terbatas pada penerbitan buku atau melalui media cetak berbahasa Jawa, “ kata Dosen Program Studi Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang (Unnes) Dhoni Zustiantoro. Setiap tahun, hanya dihasilkan sekitar 10 sampai 20 judul buku sastra, baik berupa novel, kumpulan cerkak (cerita cekak berbahasa Jawa) atau geguritan (puisi berbahasa Jawa).  

Menurut Dhoni, majalah berbahasa Jawa yang masih bertahan seperti Penjebar Semangat dan Jayabaya memuat satu sampai dua cerkak atau gurit dalam setiap penerbitan. “Jumlah itu masih jauh dari cukup sebagai upaya pengembangan saastra Jawa, “ tuturnya.

Berdasarkan poduktivitas, sambung Dhoni, pengarang karya sastra Jawa asal Jawa Timur lebih mendominasi karena di wilayah itu sastra Jawa terus berproses berkat dorongan sastrawan senior, sementara dalam waktu tertentu, sanggar atau komunitas sastra di kampus juga memiliki target untuk menerbitkan karya bersama.

Untuk itu Dhoni melihat, jika dikelola secara konsisten, sarana digital bisa menjadi jalan tengah untuk menekan biaya produksi dan proses distribusi karya sastra yang tidak sedikit. “Ini yang mesti kita lihat sebagai peluang untuk mengembangkan sastra Jawa modern, “ tutur Dhoni saat dihubungi Kompas, Rabu (22/8).

Untuk itu, Dhoni berharap agar pegiat sastra Jawa perlu terus-menerus mengoptimalkan pemanfaatan media konvensional (cetak) dan digital guna “memanggungkan” karya-karya mereka. “Kedua platform harus saling mendukung dan memperkuat, “ ujarnya.

Jawa sebagai suku terbesar dengan populasi lebih 121 juta jiwa atau 45 persen dari seluruhnya sekitar 1.340 suku yang melebur ke dalam bangsa Indonesia perlu terus menjaga dan mengembangkan khasanah sastranya jika tidak ingin tergerus atau bahkan punah ditelan globalisasi budaya di era now kini. (Kompas/NS)

 

     

 

 

 

Tags

sastra jawa
digital
media konvensional