Sebelas Duabelas


Di sekolah lebih terkenal dipanggil Buntal dibanding nama aslinya Alberto Sebastian. Walaupun tidak pernah jadi juara kelas namun anak yang satu ini selalu naik kelas hingga duduk di kelas tiga STM. Tidak ada yang istimewa yang layak diwariskan kepada para juniornya kecuali “kenakalan” yang menjadi trade mark yang tidak harus diteladani.

Bolos, merokok, berantem, tukang palak, korupsi SPP dan tukang provokasi seakan identik dengan sosok Buntal tetapi hanya satu yang patut dipertimbangkan dewan guru untuk tidak memecatnya dari sekolah yaitu soal kejujuran dan pandai menarik simpati  menjadi karakter yang sulit ditandingi rekan-rekannya.

Ketika malam perpisahan sekolah, Buntal diminta mewakili rekan-rekannya berpidato dihadapan guru dan keluarga besar STM yang sebenarnya sangat sulit dia tinggalkan begitu saja. Ada kenangan manis, ada kenakalan remaja dan ada cita-cita yang selama ini belum dia raih.

“Bapak, ibu guru dan sahabat ku semua yang saya sayangi dan pernah saya jahili”, demikian Buntal mengawali pidatonya. Pidato itu tidak lajim karena ada kalimat “jahil” di sebuah sekolah terpandang namun itulah Buntal dengan keterus terangannya tanpa mimik  dan beban bathin apapun.

Dari beberapa rangkaian kalimat yang dipilihnya, beberapa point diantaranya membuat guru dan sahabat-sahabatnya terkesima.  Buntal sengaja mencairkan suasana dengan menyebut bahwa kalau disekolahnya bagaikan ditakdirkan menampung kawanan jomblo,  karena jarang yang ada pacaran karena suasana sekolah sedemikian sangar dan tidak bersahabat, apalagi suasana romantis seperti sekolah menengah atas lainnya.

“Kalau bapak dan ibu menanyakan kepada saya, mau kemana setelah tamat, pasti jawabannya adalah melanjutkan pendidikan di DPR”, ungkap Buntal tanpa wajah ekspresif apapun hingga memantik gelak tawa, geram, penuh tanya  dan marah dari ratusan hadirin yang memadati halaman sekolah STM itu.

Malam itu adalah hari terakhir bagi Buntal bergelut dengan lika-liku pendidikan di sekolah yang identik dengan dunia kekerasan karena harus akrab dengan segala instrumen pelajaran berupa mesin, kunci, computer dan peralatan praktik lainnya sebagai benda mati.

Ternyata ungkapan cita-cita Buntal benar-benar dia buktikan untuk melanjutkan pendidikan ke DPR, bukan perguruan tinggi yang lajim diminati oleh alumnus sekolah menengah atas. Atau pilihan lain memasuki dunia kerja yang terbuka luas bagi alumnus yang mahir dalam permesinan atau pertukangan.

Tanpa diberi gaji atawa honor, tiap hari Buntal selalu datang ke  DPR yang konon dijuluki rumah rakyat itu. Saking rajinnya dia melebihi aktivitas anggota legislatif dengan tingkat kehadiran tujuh hari seminggu dan akan pulang kalau seluruh mobil dinas anggota DPR tidak lagi di pamerkan di lapangan parkir DPR.

Karena dianggap tamu yang tidak jelas, Buntal ditangkap petugas sekuriti kemudian digelandang ke ruang introgasi. Untungnya ada anggota DPR yang menyaksikan hingga akhirnya diajak ke ruang sidang yang kebetulan sedang ada rapat pleno.

“Ini kesempatan emas menjadi orator hebat”, fikir Buntal ketika diminta mengemukakan alasan dan uneg-uneg tentang kehadirannya selama berbulan-bulan di gedung bergengsi itu.

Jika dihadapan guru dan sahabatnya di STM Buntal sering terbata-bata kalau diminta bicara, tapi kali ini dia bersikap penuh percaya diri, berorasi sambil menyisipkan kalimat sindiran dan humor ringan yang khusus ditujukan kepada para anggota dewan itu.

“Jadi begini bapak-bapak, DPR bagi saya adalah lembaga pembelajaran yang sesuai dengan sekolah saya  karena bagi saya STM dan DPR itu sebelas duabelas”, kata Buntal, memulai orasi yang mengagetkan para anggota terhormat itu.

Menurut Buntal, bekas sekolahnya di STM banyak kemiripan dengan suasana DPR. Jika disini ada yang berantem, di sekolah saya juga seperti itu. Jika ada yang bolos, ketiduran atau suap menyuap atau nilep uang  sekalipun juga pernah kami rasakan di STM.  Cuma bedanya hanya soal skalanya saja.

Kalau di DPR terlihat kursi-kursi kosong karena anggotanya bolos itu bukan sesuatu mengagetkan, atau ada yang ketiduran pada saat sidang berlangsung atau sambil main gadget menonton filem dewasa juga ada dalam suasana sekolah STM.

“Kalau soal suap menyuap, itu pernah saya alami sendiri ketika saya memberi rokok kepada penjaga sekolah  yang saya ambil dari uang SPP agar bisa bolos  dengan melompat pagar sebelum sampai menuju warnet diseberang sekolah”, kata Buntal, sambil mengemukakan bahwa akhirnya dia tertangkap basah dan diserahkan ke orang tua.

“Ya ampun, badan saya penuh merah-merah akibat dipukul emak dengan gesper”, kata Buntal menceritakan hukuman korupsi kecil-kecilan dari uang SPP  itu.

Diakhir pidatonya, Buntal tidak mampu membayangkan kalau sanksi bagi anggota DPR yang melakukan korupsi bakal dirajam dengan gesper oleh seluruh rakyat Indonesia. (emte)

 

 

 

 

Tags

koplak