SEMBADRA LARUNG


            BURISRAWA terkaget-kaget. Ketika minta dukungan untuk mempersunting Wara Sembadra, tiba-tiba Betari Durga menanyakan, “Kamu punya uang berapa?” Kata sang Betari, jika tak mengantongi Rp 40 miliar, jangan sekali-kali berkhayal punya bini putri Banoncinawi, Wara Sembadra. Lebih baik kawin saja sama Mindul anaknya Pak RT. Dijamin murah meriah, halalan tayiban wa asyikan.

            “Tapi ini saya cari istri, bukan cari jabatan bupati atau gubernur. Eyang Betari jangan menghambat aspirasi generasi muda…” protes Burisrawa.

            “Tapi derajat Bu Wara Sembadra titisan Widowati lebih tinggi ketimbang jabatan bupati atau gubernur. Jadi kamu harus memahami.” Jawab Betari Durga.

            Benar juga sih. Jabatan bupati atau walikota dan gubernur, hanya selama 5 tahun. Kalau mau nambah harus lewat Pilkada lagi, itupun belum tentu menang lagi. Sedangkan Bu…Wara Sembadra, sekali dapat bisa dipakai sak jelehe (sampai bosan), hingga kapan saja. Punya bini Sembadra badan anget terus, sedangkan jadi Kepala Daerah, malah panas dingin jika jadi urusan KPK.

Agak mengherankan memang, kenapa Burisrawa kesatria Cindekembang ini ngebet benar pada Sembadra, putri Prabu Basudewa dari Mandura. Jika wayangnya masih legan (gadis) lain soal. Tapi Sembadra kan sudah menjadi istri Harjuna, kenapa kok masih diuber-uber terus? Memangnya dalam kotak ki dalang tak ada lagi stok wayang cantik yang masih suci hama? Maksudnya belum terjamah kaum lelaki.

Prabu Salya orangtuanya yang jadi raja di Mandaraka, tak pernah bosan menasehati colon pewaris tahta itu agar jangan mengganggu bini orang. Biar cantik seperti apa, bini orang itu tak ubahnya ikan hias; hanya bisa dilihat, tak bisa digoreng.

“Tapi kalau kepepet, digoreng gurih juga. Daun buncis daun pepaya, nggak dapat gadis jandanya pun nggak apa, ha ha ha….!" ujar Burisrawa sambil nyekakak.

“O, lha cah gemblung.” Gumam Prabu Salya.

            Demikianlah, setelah dinego cukup lama, akhirnya uang mahar dukungan itu disepakati dengan cek mundur senilai Rp 20 miliar. Setelah itu barulah Burisrawa menerima sejumlah ajian yang membuatnya punya akses ketemu Sembadra tanpa diketahui wayang lain.

"Mbok Mbodroaaaa... takpondong wong ayu (kugendong kau wahai orang cantik)...!" teriak Burisrawa sambil cabut ke Madukara tanpa pamit.

Ajian dari Betari Durga memang tokcer. Ketika Burisrawa masuk  wilayah  Madukara sekitar  pukul   23.00,   tak  ada wayang satu pun yang melihat. Padahal malam itu wayang-wayang Satpam di gardu monyet Madukara sedang rame nonton bola PSSI lawan MU, dengan skor 10-0.

Di Taman Banoncinawi tempat tinggal Sembadra, Harjuna malam itu sedang pusing. Kenapa? Mau kawin lagi dia? Bukan! Dia bingung bagaimana harus mengisi LHKPN  (Lapora Harta Kekayaan Pejabat Ngamarta). Mau diisi sejujurnya, takutnya dikejar petugas pajak dan dipaksa ikut Tax Amnesty. Sebagai wayang yang banyak istri, selama ini Harjuna lebih akrab dengan motto: singkap, tembus dan lega!

"Pak, nggak usah pusing! Sebagai keluarga yang banyak istri dan anak, sampeyan tentunya akan dapat SKB (Surat Keteranga Bebas) pajak penghasilan.”

“Tapi saya malu Bu, jadi pejabat Ngamarta kok malas bayar pajak. Apa kata dunia?” jawab Harjuna sambil tercenung.

Malam semakin larut, tahu-tahu Wara Sembadra – Harjuna terbuai dalam mimpi masing-masing. Sembadra mlungker (berselimut) di kamar, Harjuna  di kursi sofa. Pules sekali. Ternyata itu bukan tidur biasa, melainkan pengaruh ajian “Sirep Begananda” yang telah dipraktekkan oleh Burisrawa. Memang, setelah memberi mahar Rp 20 miliar, Burirawa menerima sipat kandel (ajian) berupa aji panglimunan untuk bisa menghilang dan aji sirep begananda yang bisa bikin ngantuk Harjuna-Sembadra, termasuk anggota DPR di Senayan.

Yakin Harjuna sudah terlelap, Burisrawa segera masuk kamar, dan diam-diam Wara Sembadra dipondong (digendong) dan dibawa kabur ke luar istana Banoncinawi dengan melewati pos penjagaan tanpa ketahuan. Ajian yang dimiliki Burisrawa memang paketan 2 GB, sehingga dia harus segera menyelesaikan misinya sebelum pulsa keburu habis.

“Lho, kok aku di sini? Di mana ini?” kata Wara Sembadra setelah rasa kantuknya hilang.

“Di Cindekembang, di rumah lapis ber-DP nol rupiah, diajeng.” Jawab Burisrawa salting, maklum berhadapan dengan cewek yang digandrungi selama ini.

Wara Sembadra kaget sekali, karena sudah bukan di ranjang pribadinya, malah ketemu Burisrawa si rambut gondrong, bak penyair seribu puisi di majalah sastra. Tahu yang membawanya ke sini sosok yang sangat dibencinya selama ini, Sembadra langsung menumpahkan segala kemarahannya.

“Mau ngapaian kamu, kenapa aku kamu bawa ke sini? Memangnya saya cewek online, apa?” sergah Sembadra.

“Jangan begitu diajeng, hilangkan amarahmu. Marilah kita bersenang-senang, puaskan dahaga asmaraku meski hanya dengan setetes cintamu.” Rayu Burisawa, entah dapat dari mana kata-kata puitis itu.

Wara Sembadra tahu betul karakter Burisrawa. Ketimbang terjamah oleh lelaki urakan tampang preman, mending mati saja. Kebetulan dia melihat patrem di pojok kamar. Segera saja keris mini itu ditusukkan ke perut sendiri, dan tewaslah Sembadra dengan luka berdarah-darah.

Paniklah Burisrawa. Takut akan dikriminalisasi sebagai pembunuh istri Harjuna, jenazah Sembadra segera dilarung (dibuang) ke laut Teluk Jakarta, dekat pulau G hasil reklamasi. “Byurrr…… slamet-slamet,” kata dan doa Burisrawa ndremimil dan buru-buru minggat menghilangkan jejak.

Sementara itu di Ngamarta, hilangnya Sembadra secara misterius menjadikan keluarga Pandawa kalang kabut. Harjuna dipersalahkan sebagai wayang yang tak mampu menjaga istri. Prabu Betara Kresna dari Dwarawati segera membentuk Tim Pencari Fakta independen dengan menunjuk Gatutkaca sebagai pimpronya.

“Semoga TPF ini bisa bekerja efektif, tidak berlarut-larut seperti kasus Novel Baswedan,” sindir Prabu Kresna, entah mau nembak siapa.

“Siap boss. Gatutkaca nyuwun pangestu.” Jawab ksatria Pringgodani cepat.

Gatutkaca kali ini sedang tidak mood terbang, sehingga untuk melacak keberadaan bibi Wara Sembadra cukup melepas drone trikopter. Nun jauh tinggi di sana, tampaklah kemudian onggokan mayat di tengah laut. Dilihat dari bajunya, sepertinya itu sosok yang dicari. Tapi kok sedang diseret-seret anak muda? Barulah Gatutkaca mau terbang dan segera menangkap pembunuhnya.

Ternyata ksatria bernama Ontorejo tersebut membantah jadi pembunuhnya. Dia justru ingin menolong dan mengamankan jenazah dalam perahu itu. Omong punya omong katanya dia sedang mencari ayah kandungnya, Werkudara yang tinggal di Jodipati.

“Lho, ternyata kamu saudaraku. Werkudara itu ayahku juga.” Kata Gatutkaca.

“Kalau begitu bapak kita tukang kawin dong.”

“Ssst, diam. Jangan mencerca orangtua, kamu bisa kualat seperti jambu monyet nanti.” Nasihat Gatutkaca.

Keduanya berangkulan hangat, tapi masih terukur karena memang bukan LGBT. Gatutkaca-Ontorejo baru ingat mayat bibi Wara Sembadra. Ternyata dalam perahu tersebut ditemukan juga KTP non elektronik milik Burisrawa. Apakah dia pembunuhnya? Melihat riwayat hidupnya selama ini, patut diduga bahwa memang dia pelakunya. Di banyak kejadian lelaki bisa mata gelap gara-gara kasih tak sampai.

Jenazah Wara Sembadra dibawa ke Ngamarta kembali dan diserahkan kepada Prabu Kresna. Berkat Kembang Cangkok Wijayamulya, dia bisa dihidupkan lagi. Tapi kasus Burisrawa tetap diusut. Dengan dua alat bukti yang cukup polisi Polda Ngamarta menyatakan Burisrawa sebagai tersangka dan dan harus siap diperiksa.

“Nanti dulu dong! Kami mau ajukan pra peradilan.” Jawab Burisrawa lewat pengacaranya, Federick Jayapradoto. (Ki Guna Watoncarita)

 

Wara Sembadra menolak rayuan gombal Burisrawa. Pikirnyaa mending mati ketimbang diperistri preman Cindekembang

Tags