Siapkah Jakarta Hadapi Gempa?


PERISTIWA bencana alam kususnya gempa bumi yang terjadi di sana-sini di negeri ini selayaknya tidak dibiarkan berlalu tanpa pembelajaran bagi wilayah-wilayah lain yang belum terkena, khususnya kawasan “hutan beton” ibukota dengan gedung-gedung pencakar langit yang tumbuh menjamur.  

Dengan luas 661 km persegi dan jumlah penduduk sepuluh juta jiwa, Jakarta bertengger di peringkat ke-19 kota di dunia  yang memiliki  gedung pencakar langit terbanyak, yakni 158 gedung yang sudah dibangun dan 48 bangunan lagi masih pada tahap perencanaan atau konstruksi.

 Selain itu, gedung yang berkategori high-rise ( mulai enam lantai dan tinggi sampai 150 meter), 936 bangunan,  sedangkan low-rise (di bawah enam lantai) 179 gedung, satu  monumen dan dua menara telekomunikasi. Gama Tower (289 meter) adalah bangunan tertinggi disusul Menara Astra (270 meter), Gedung Kementerian Keuangan (264 meter), Wisma BNI 46 ( 262 meter) dan Sahid Sudirman Center (258 meter). 

Yang mengembirakan, menurut Sekretris Umum Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Erwin Sihite, sesuai Peraturan Bangunan Indonesia (PBI) yang dijadikan acuan para ahli disain bangunan sipil , struktur bangunan di Indonesia dirancang  tahan gempa berkekuatan magnitudo 8. 

"Saya yakin, bangunan yang ada sekarang sudah tahan  gempa. Persoalannya adalah kesiapan dalam menghadapi gempa, " sambung Erwin.

Peringatan terkait ancaman gempa juga pernah dilontarkan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati. Ia mengimbau agar Pemprov DKI bersiap diri agar dampak bencana akibat gempa dapat ditekan.

"Apapun kajian para pakar, gempa masih bakal  terjadi di ibu kota, walau tidak bisa dipastikan,  kapan persisnya gempa terjadi dan berapa kekuatannya," kata Dwikorita.

Yang keliru, menurut Dwikorita, persepsi bahwa Jakarta bakal aman gempa, karena gempa Lebak dengan magnitudo 6,1 pada 23 Januari 2018 saja, getarannya juga dirasakan di Jakarta dengan intensitas kerusakan  mencapai skala V sampai VI Modified Mercalli Intensity (MMI).

Pada skala V sampai VII MMI guncangan gempa terasa, sedangkan skala V ditandai dengan gerabah yang berjatuhan dan tiang bergoyang, kemudian pada skala VI plester dinding terkelupas dan konstruksi bangunan yang tidak baik mengalami kerusakan ringan, sedangkan pada skala VII, konstruksi bangunan rusak, tembok retak-retak dan guncangan terasa di atas kendaraan.

Guncangan Gempa di Jakarta

Sementara Kabid Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono mengingatkan, dampak guncangan gempa di kawasan ibukota bisa berasal dari zona megathrust (sumber gempa di zona penunjaman lempeng yang dianalogikan sebagai “patahan naik yang besar”) dan sesar atau patahan aktif.

Menurut dia, ada dua zona megathrust di selatan Jawa Barat dan di selatan Selat Sunda yang masing-masing berpotensi memicu gempa dengan magnitudo 8,7 SR.

“Jika itu terjadi, Jakarta bisa terkena dampak guncangan yang berisiko menimbulkan kerusakan  berskala VI sampai VII MMI.

Gempa hebat pernah terjadi di Jakarta (dulu Batavia) pada 5 Januari 1699 menewaskan 28 orang  dan 49 bangunan rusak,  pada 22 Januari 1780 yang merobohkan gedung observatorium Mohr, kemudian gempa berskala 6,1 SR pada 23 Januari 2018 yang membuat warga panik.

Belum ada teknologi yang bisa memastikan persisnya gempa bakal terjadi, namun mitigasi dengan melakukan persiapan lebih baik, tentu bermanfaat untuk menekan potensi risiko, baik nyawa manusia maupun harta benda.

Apa yang sudah dilakukan? Agaknya belum banyak. Ada memang pengelola gedung perkantoran  atau apartemen yang sesekali menggelar simulasi gempa atau kebakaran, namun sebagian warga juga tampak tidak serius karena tidak semua mengikutinya.

Apakah jalur-jalur evakuasi, penampungan sementara korban atau pengungsi, peralatan untuk menyelamatkan korban di bangunan tinggi, kesiapan SDM aparat sudah disiapkan? Begitu juga anggaran. Tidak diperoleh informasi alokasi APBD DKI Jakarta untuk program pengurangan risiko bencana, namun menurut catatan, rata-rata daerah hanya menyisihkan 0,1 persen dari APBD.

Bercermin dari bencana gempa Lombok dan Sulteng yag masih belum lepas dari ingatan, diharapkan agar pimpinan dan wakil-wakil rakyat DKI Jakarta dan daerah lain serta segenap pemangku kepentingan untuk menyiapkan langkah-langkah mitigasi untuk mengantisipasi bencana alam.

Mari bergerak, jangan menunggu sampai bencana sudah di hadapan kita!     

 

 

 

 

    

 

Tags

Jakarta di zona Megathrust
mitigasi gempa Jakarta