Sisi Lain Bahasa Ngapak


Nasikin: "Sedela maning ana peringatan 'hari guru' kie."
Diman: "Apa iya? Kapan kue?"
Nasikin: "Tanggal selawe (25). Kepriwe si, masa hari guru be ra ngerti?!"
Diman: "Hahaha guyon tok. Kaya kue tok be jengkel, aja kaya kue lah."

Apakah anda tahu bahasa apa yang digunakan dalam percakapan singkat di atas? Jika belum tahu, ini adalah bahasa "Banyumasan".

Bahasa Banyumasan atau lebih dikenal dengan bahasa Ngapak merupakan salah satu dari ribuan bahasa yang ada di Indonesia. Bahasa Ngapak berasal dari wilayah mantan Karasidenan Banyumas yang meliputi Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banjarnegara, dan Kabupaten Cilacap (BARLINGMASCAKEP). Bahasa ini juga digunakan di beberapa wilayah lain seperti Banten, Cirebon, dan Indramayu.

Bahasa ini lahir sebagai hasil asimilasi budaya Jawa Barat dan Jawa Tengah yang terjadi sejak masa akhir Majapahit sampai sekarang. Oleh karena itu, kosakata yang terdapat di Bahasa Ngapak merepresentasikan dua bahasa lain, yaitu Bahasa Jawa dan Bahasa Sunda. Hal ini dikarenakan letak mantan wilayah Karasidenan Banyumas itu berada di tengah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Maka tak heran jika terdapat kosakata dengan arti yang sama di antara ketiga bahasa tersebut.

Baik Bahasa Jawa maupun Bahasa Sunda mengenal adanya hierarki atau tingkatan bahasa. Terdapat 3 tingkatan dalam Bahasa Jawa, yaitu Ngoko, Kromo, dan Krama Inggil. Sedangkan dalam Bahasa Sunda tingkatan bahasa disebut dengan undak-usuk yang terdiri dari Basa Kasar, Basa Loma (akrab), dan Basa Hormat. Akan tetapi, pada umumnya bahasa Banyumasan menggunakan Bahasa Jawa Ngoko, yakni tingkatan terendah dalam Bahasa Jawa.

Hal ini bukan tanpa alasan. Karasidenan Banyumas berada jauh dari Keraton sehingga pengaruh dari tingkatan bahasa yang ada di Jawa belum begitu kuat. Orang-orang di wilayah eks Karasidenan Banyumas jarang sekali menggunakan Krama Inggil sehingga banyak yang menganggap bahwa Bahasa Ngapak adalah bahasa kasar. Pada kenyataannya hal itu salah.

Jika ditelisik lebih dalam, Bahasa Ngapak justru menunjukkan bahwa bahasa ini bersifat egaliter. Bahasa Ngapak memandang semua orang sederajat dan sama rata. Bahasa ini tidak memandang strata sosial seseorang sehingga dapat digunakan secara universal.

Faktor yang mempengaruhi hal ini adalah karena bahasa Ngapak mengadopsi dua bahasa, yaitu Jawa dan Sunda. Masyarakat eks Karasidenan Banyumas tidak melihat dari daerah manakah orang tersebut atau apa status sosialnya. Hal ini berimplikasi pada sifat universalitasnya.

Bahasa Ngapak dikenal dengan dialeknya yang khas. Tak jarang banyak orang yang menganggap bahwa bahasa ini lucu. Namun, dibalik itu semua Bahasa Ngapak memiliki makna yang mendalam dari segi historisnya.

Sumber:
Trianton, T. (2016). Bahasa sebagai Identitas dan Perlawanan Kultural Masyarakat Banyumas Pascakolonial. Seminar Internasional "Indonesia: Art and Urban Culture" FIB UNS (pp. 1-12). Surakarta: Center for Open Science.
Widyaningsih, R. (2014, September). Bahasa Ngapak dan Mentalitas Orang Banyumas:Tinjauan dari Perspektif Filsafat Bahasa Hans-Georg Gadamer. Jurnal Ultima Humaniora, II(2), 186-200