TEORI DIFERENSIASI ALA PAK KADIR


Kalau hidup sekedar hidup, kera di rimba juga hidup. Kalau kerja hanya sekedar kerja, kerbau di sawah juga kerja. (Buya Hamka)

“Selamat pagi, Pak. Diantar ke Soekarno-Hatta ya, Pak? Sudah semua, Pak? Tidak  ada yang ketinggalan?” sapa sang pengemudi taksi dengan ramah menyambut saya  memasuki  mobilnya. Saya surprise karena taksi tersebut sudah standby di depan  rumah  pukul 03.30 pagi, 15 menit  lebih awal dari jadwal.

Pengemudi  tersebut mengenalkan diri, namanya Pak Kadir.  Dari logatnya, dengan mudah dapat ditebak, pasti wong Jowo. Pak Kadir bercerita sudah bekerja di perusahaan taksi berwarna biru tersebut  selama lebih dari 24 tahun.  Di pool-nya, dia yang paling senior. “Maaf Pak, kita lewat mana?  AC-nya sudah cukup atau terlalu dingin?” tanyanya lagi. “Kita lewat pintu tol Ciledug ya, Pak,”  jawab saya. Perjalanan pagi-pagi ke airport sudah  jadi  salah satu rutinitas yang saya jalani beberapa tahun terakhir.  Kali ini, saya kesengsem dengan sikap Pak Kadir dan memutuskan untuk mengobrol meskipun sebenarnya masih sangat mengantuk.

“Saya seminggu narik lima hari, Pak. Setiap hari berangkat jam 3 dini hari dan biasanya pulang ke pool siang  jam 12-an. Alhamdulilah selalu tercapai target harian untuk dapat bonus.  Pokoknya, saya harus dapat 2 rit ke airport antara jam 3 sampai jam 6 pagi. Itu kuncinya, Pak. Kalau dapat dua rit ke airport, itu sudah dapat 60% target. Sisanya kita kejar sampai jam 12 siang. Setelah dari airport , saya biasanya jalan di dalam kota. Nah, baru menjelang dhuhur, saya mengarah  ke daerah pinggiran dan pulang,” cerita pak Kadir tentang “resep”nya dalam memburu rezeki.

“Wah, jam 12 sudah pulang ke pool . Enak banget, Pak. Bapak sepertinya  nggak ngoyo (ngotot) ya? Padahal siang hari seperti itu  mestinya lagi ramai-ramainya penumpang ya, Pak?” saya menimpali ceritanya dengan logika saya.  Badan saya yang capek membuat cerita pak Kadir seperti “dongeng” menjelang tidur.

“Menurut Bapak, saya nggak ngoyo ya, Pak?” tanyanya dengan nada meyakinkan. “Saya bangun jam 2 setiap hari dan mulai kerja jam 3 dini hari itu apakah tidak “ngoyo” Pak?  Saya memulai kerja sepagi itu karena mencari peluang yang lebih besar. Banyak sopir yang bekerja hampir 12 jam per hari tidak mencapai target. Saya bekerja sekitar 8 jam dan alhamdulilah selalu  dapat target. Kuncinya pak, dalam bekerja kita harus pintar mengatur strategi. Kerja tidak asal mengalir tetapi harus direncanakan dan diatur agar hasilnya maksimal.”

“Saya  berangkat pagi-pagi saat banyak orang belum bangun dari tidurnya. Saya harus mendahului mereka agar saya dapat  order duluan. Saya pakai waktu terbaik (prime time) 3 jam di pagi hari itu karena jalanan masih lancar, order-nya jauh-jauh (ke airport maksudnya) dan taksi online belum begitu banyak.”

“Pokoknya pak, kita kalo kerja,  nggak boleh seperti orang kabanyakan. Kita harus beda sehingga rezeki kita juga beda. Dan itu bisa saya lakukakan karena saya sudah 24 tahun di “jalanan” jadi paham bener situasinya.  Sore-sorean saya sudah kumpul keluarga, main sama cucu. Hidup itu harus imbang Pak antara waktu kerja, keluarga, dan istirahat.  Alhamdulilah, saya sudah ada rumah sendiri,  anak saya dua,  sudah kerja dan menikah. Cucu saya juga dua orang,” jelas pria  bersahaja ini.  Dahsyat, batin saya mendengar cerita pak Kadir yang hebat tersebut.

Teori diferensiasi (differentation theory)  yang pernah dipopulerkan Prof. Phillip Kotler, sang begawan marketing , sepertinya  sudah benar-benar  dijiwai oleh Pak Kadir. Dia mencari ‘strategi pembeda’  dengan yang lain agar mendapat hasil yang maksimal. Dalam bahasa Pak Kadir, untuk hidup, bekerja, dan  berhasil  tidak bisa mengalir begitu saja. Dalam bekerja tidak asal bekerja.  Bekerja harus dijiwai (ada passion) dan dijalankan dengan strategi yang jelas dan terukur. Strategi itu diperoleh dari pemahaman yang cukup  terhadap target yang hendak dicapai, mempertimbangkan faktor eksternal yang relevan terutama kompetisi, serta menggunakan  pengetahuan dan pengalaman  (data historis) sebagai  dasar pengambilan keputusan.  Dalam ilmu manajemen lebih kurang semacam SWOT analysis .

Dalam konteks tersebut, Pak Kadir mengingatkan kita bahwa segala sesuatu dalam kehidupan ini harus diperjuangkan dan dimaknai. Meraih keberhasilan itu tidak mudah, perlu kerja keras dan strategi untuk mencapainya.  Allah SWT telah memberikan kepada kita akal untuk menjalankan sunnatullah di dunia ini.  Dengan akal itulah, kita mengatur strategi bagaimana kita menjalani  kehidupan ini.  Mengutip quote Buya Hamka di atas, dengan berbekal akal-lah kita harus mampu membedakan kualitas kehidupan dan kerja kita dibandingkan makhluk ciptaan Allah lainnya. Maka, untuk memperoleh hasil yang terbaik,  sudah sewajarnya kita bisa bekerja dengan cerdas (smart) dengan memaksimalkan akal dan pengetahuan yang diberikan Allah kepada kita. Semoga bermanfaat. (Aceel Sebastian)