TUKANG KAWIN MATI KUTU


Entah menggunakan ilmu  apa, Jalalul yang kini sudah memasuki usia setengah abad masih saja rutin melakukan kawin cerai untuk memenuhi hasrat birahinya. Bayangkan, hampir setiap kampung ada saja perempuan yang tercatat pernah dinikahinya.

“Sudah 74 kali nikah”, tutur lelaki kurus si penjual majun arab itu, ketika seorang reporter menanyakan rekor perkawinannya yang rata-rata berakhir dengan misterius karena seluruh isteri-isterinya datang ke penghulu untuk minta cerai.

Hari itu, hampir seluruh pakar disiplin ilmu berkumpul menghadiri undangan pemberian rekor Muri kepada Jalalul, bahkan produsen obat kuat yang datang dari luar negeri tidak ketinggalan pula.

Bagi Jalalul, ini merupakan hari kebanggan bagi dirinya sebagai seorang lelaki sejati tetapi sebaliknya dia juga gelisah karena bakal berdampak buruk  mencari mangsa baru untuk rencana pernikahan berikutnya.

Kalangan ahli farmasi menduga bahwa kejantanan Jalalul tidak terlepas dari rutinitas mengkonsumsi Majun Arab yang dicampur jintan hitan dan serbuk madam asal jajirah timur tengah.

“Penemuan kami terhadap Jalalul tergolong langka di dunia, karena hampir tidak pernah ada seorang lelaki mampu puluhan jam di tempat tidur tanpa henti”, komentar akhli sekseologi terkemuka tanah air.

Hiruk pikuk penganugerah penghargaan Muri pun usai dan Jalalul pun kembali menjalani kehidupan aslinya di kampung Kijing Buntat. Tapi warga kampung menyambut dingin kepulangan Jalalul, karena orang tua pemilik anak gadis khawatir kalau-kalau lelaki yang sudah menjadi kaya mendadak itu akan melanjutkan kebiasaannya.

Lantaran gadis kampung Kijing Buntat rata-rata ketakutan menjadi janda dadakan kalau tiba-tiba di peristeri Jalalul, lelaki paruh baya inipun mengubah strategi untuk mencari janda muda. Tetapi siasat inipun gagal, cuma hanya seorang perempuan bisu dan tuli yang bersedia diperunting Jalalul sebagai isteri yang ke-75 (kayak perayaan kemerdekaan ajah).

Warga kampung Kijing Buntat sengaja mencermati penikahan dengan membentuk tim khusus mengintip rumah Jalalul 24 jam penuh. Hari pertama usia pernikahan berjalan aman dan tidak terlihat adanya pemberontakan oleh sang isteri. Tapi di hari kedua, ketika Jalalul ingin menurunkan sepeda ontelnya untuk pergi berjualan majun Arab, malah terlihat sempoyongan dan  kelepek-kelepek bagaikan bebek tanpa tulang.

Ketika berada dipelataran rumah, sang isteri memberi isyarat khusus dengan melingkarkan jari di kelingkingnya hingga memaksa Jalalul kembali lagi ke kamar menunaikan kewajibannya.

Tidak kali itu saja, ketika Jalalul mulai menuntun sepeda kembali, terlihat  lututnya gemetaran mirip gempa bumi,  sang isteri muncul kembali di depan pintu sambil memberi isyarat yang sama.

Walaupun Jalalul sudah terkaing-kaing hampir tidak bisa lagi berdiri kemudian memberi isyarat minta ampun kepada  isterinya, malah sang isteri tambah semangat dengan memberi isyarat tambah vulgar yang hanya dapat difahami oleh orang dewasa.

Dengan kupiah yang sudah miring dan barang dagangan yang sudah siap di sadel sepeda, Jalalul terpaksa memenuhi permintaan isteri kembali masuk ke dalam kamar. Walaupun Jalalul sempat memberi isyarat dengan satu telunjuk yang maksudnya adalah ini persenggamaan terakhir, namun isterinya malah menjawab dengan isyarat telunjuk melingkar di kedua jari manisnya dengan makna dua kali.

“Ampunnnnnnnnnn, kalau begini bisa aku yang mati,” guman Jalalul sambil keluar kamar yang kelima kalinya pagi sambil merangkak.   

Di hari ketiga perkawinan, tidak ada lagi adegan yang mencurigakan seperti hari sebelumnya  bahkan sepeda dan buntelan majun di sadel pun tidak nampak di pelataran. Tidak terdengar  lagi  senandung Jalalul yang biasa  terdengar oleh tetangga sebagai   bentuk  isyarat kepuasan bathiniah  seorang lelaki sejati selepas menunaikan hajatnya.

Rupanya sejak pagi buta, Jalalul sudah pergi ke rumah penghulu dengan tujuan tunggal ingin menceraikan isterinya. Kepada penghulu, Jalalul mengutarakan alasan perceraian terhadap isterinya yang janda itu.

“Katanya kamu lelaki hebat, kok malah bertekuk lutut”, komentar penghulu usai meresmikan percaraian, sambil menjelaskan isyarat telunjuk yang melingkar dan digerak-gerakan di  jari manis isterinya bukan tanda mengajak ke tempat tidur tetapi permintaan isteri untuk dibelikan cincin. (emte)

 

 

Tags

matikutu