Zonasi Di Fikiran Mujrad


Mujrad dan isterinya Mpok Munah sudah terbiasa bertengkar. Tidak pagi, siang atawa malam sehingga tetangganya sudah menganggap sesuatu yang biasa dan hitung-hitung sebagai hiburan gratis meramaikan suasana kampung.

Tapi berdebatan seru siang tadi, nampaknya sudah berubah tema dari biasanya. Bukan soal kebiasaan  rasa cemburu yang sering dilayangkan mpok Munah atau soal uang belanja yang minimalis tetapi tema pertengkaran kali ini menyangkut sesuatu yang asing di telinga tetangganya.

“Ini sudah tidak selaras dengan anjuran nabi,” ucap Mujrad agak tinggi , sambil membanting map lusuh yang berisi berkas pendaftaran anaknya yang tidak sesuai dengan ketentuan system zonasi Penerimaan Siswa Didik Baru (PPDB) di depan isteri cantiknya yang terkesan planga-plongo melihat tingkah suaminya.

Mpok Munah mencoba menjinakkan suaminya yang biasanya ampuh dengan sikap manja, tetapi kali ini malah memicu ledakan baru dari mulut suami yang makin tidak jelas ujung pangkalnya.

“Mosok aturan zonasi membatasi si entong masuk sekolah negeri di kota tempat tinggal neneknya, padahal nabi saja menganjurkan untuk menuntut ilmu sampai ke negeri China”, ucap Mujrad berdalil.

Ujung kegusaran Mujrad akhirnya pelan-pelan dapat difahami duduk persoalannya oleh mpok Munah. Walaupun hanya lulusan madrasah, mpok Munah ternyata cukup cerdas meredam kemarahan suaminya dengan mengutip penjelasan resmi dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan , Muhadjir Effendy  yang mengemukakan kebijakan     penerimaan siswa didik baru (PPDB) bukan membatasi anak bersekolah,  apalagi membuyarkan impian untuk menuntut ilmu sampai ke negeri yang jauh sekalipun.

“Udahlah bang, noh noh lihat televisi biar abang lebih faham,” pungkas mpok Munah yang sudah merasa diatas angin sambil menunjuk siaran berita tentang penjelasan maksud dan tujuan zonasi terkait PPDB itu.

Mendikbud   menegaskan bahwa pendekatan zonasi tidak hanya digunakan untuk PPDB saja, tetapi juga untuk pemerataan akses pada pelayanan dan kualitas pendidikan di seluruh Indonesia, sekaligus untuk membenahi berbagai standar nasional pendidikan seperti kurikulum, sebaran guru, sebaran peserta didik, kemudian kualitas sarana prasarana. Semuanya nanti akan ditangani berbasis zonasi.    

Intinya sistem zonasi bertujuan untuk pemerataan pendidikan yang berkualitas, sehingga diharapkan dapat mengatasi persoalan ketimpangan di masyarakat. Dalam waktu dekat, redistribusi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan juga akan menggunakan pendekatan zonasi supaya dapat mempercepat pemerataan kualitas pendidikan.

 Muka Mujrad yang tadinya belah seribu, pelan-pelan sudah tertata kembali dan pertengkaranpun makin mereda bersamaan dengan  pintu kamar yang tertutup rapat. (emte)

 

 

Tags

mujrad